Rabu, 04 Maret 2015

ANGELA 2 DENGAN CERITANYA

Angela 2 dengan ceritanya

Semua yang kami jalani disana tidak akan menjadi sebuah cerita, jika kami tidak pernah mengerti setiap detik kebersamaan yang kami lalui disana. Dan karena kasih Tuhan dalam kebersamaan itulah, cerita ini pun ada.
Dan ini cerita saya 3 Tahun di Asrama Angela .

Awal masuk asrama Angela, saya pikir papa salah menempatkan saya ditempat itu. Ok?? Tapi kalian jangan berpikir itu sungguh konyol. Karena disini saya menemukan banyak hal, yang mungkin tidak akan saya temukan ditempat lain.
Hmm ayo ikuti cerita saya tentang rumah kedua kami yang paling kami cintai ini.
Hmmm mulai dari ibu asrama dulu ya...

Hah!!!! Saya lupa, saya harus memulai dari asrama dulu. Tentunya anda akan berpikir, mengapa namanya harus Angela? Dan dimana Angela itu berada.
Asrama Angela 2 adalah salah satu asrama yang diasuh oleh suster-suster Ursulin. Hmm pasti semua langsung mengatakan, asrama yang di asuh suster pastinya ketat, yaps...itu benar sobat...kalau tidak ketat itu bukan asrama, tapi kos yang kata ibu asrama saya semau gue. Hehehe ini dia ceritanya.

Asrama ini berada di Ruteng-Flores. Ada Angela 1 dan Angela 2. Angela 1 dan Angela 2 punya kelebihannya masing-masing. Hebatkan??? Ya mungkin yang punya kelebihan satu dari delapan puluh orang, tetapi kami bangga. Hehehehe. Asrama ini sangat terkenal. Bukan hanya di Ruteng. Asrama ini dikenal banyak orang, karena nama dan juga peraturan yang ada. Asrama ini sudah ada bahkan ketika saya masih kecil. Dan saya tinggal di Angela 2. Jarak Angela 1 dan Angela 2 tidaklah jauh. Meskipun nama dan tempatnya berbeda, dimanapun kami berada kami tetaplah anak Angela.

Nama Angela adalah nama seorang Santa. Dan pelindungnya adalah Santa Ursula. Yang pernah tinggal di Angela pasti masih ingatkan lagu Angela? Lagu yang hampir setiap hari kami nyanyikan.
Hmmm saya mulai ceritanya.
Tiga tahun di Angela, kami dibimbing oleh seorang suster yang paling baik, cantik dan lucu. Hehehe semoga Ia membaca tulisan ini ya,,,

Namanya suster Yosevita Dalima, OSU, namun kami sering memanggilnya dengan sebutan Bunda. Sebutan ini khusus ketika kami berbicara sesama anak asrama. Ia suster yang 3 tahun menjaga kami. Suster Yovi adalah sosok yang begitu menyayangi kami anak-anaknya. Ya meski kami sering membuatnya marah. Di mata kami ia adalah sosok ibu dan juga sahabat yang sangat kami sayangi.
Cerita di Angela seakan menjadi sebuah kenangan yang membuat kami semakin menyadari arti kepedulian terhadap orang-orang disekitar kami, karena disana kami diajari untuk saling berbagi, dan memahami watak dari sesama kami. Layaknya tinggal dalam satu rumah, dan merupakan keluarga yang utuh. Kami harus saling menjaga satu sama lain, menjaga nama asrama kami, nama ibu asrama kami dan nama kami sendiri. Karena Angela adalah rumah kami.
Apapun yang kami dapat disana, merupakan cerita unik yang takkan pernah kami lupakan. Cerita yang menurut orang lain mungkin suatu kekonyolan, namun bagi saya cerita tentang kami di Angela adalah suatu pengalaman iman yang akan selalu menjadi dasar saya menapaki arti sebuah kasih dalam cinta yang takkan berhenti dalam kata yang terucap, karena masih ada rasa dan keyakinan yang lebih.
Semua yang suster lakukan adalah sebuah rasa sayang yang tidak akan bisa kami balas. Ia menginginkan yang terbaik untuk kami. Ia ingin kami menjadi seorang wanita yang rajin, dan mampu menahan godaan zaman. Dan saat ini, ketika kami telah pergi, kami sadar bahwa kami sangat merindukan suasana itu. Merindukan cara suster menasihati kami. Merindukan cara suster menegur kami ketika kami salah, merindukan cara suster mengajarkan kami untuk mencintai dan mau menerima diri kami apa adanya. Merindukan cara suster menyayangi kami. Kami dibangunkannya pagi-pagi, bahkan ketika si jago belum berkokok. Kami diajarkan untuk selalu memanfaatkan waktu. Di pagi hari, menembus dinginnya kota Ruteng kami harus bangun, mandi dan berada di meja belajar. Dan ketika lonceng gereja berbunyi, kami pun siap untuk kembali ke rumah Tuhan untuk memanjatkan puji syukur serta memohon perlindungan sepanjang hari yang akan kami jalani. Dan ketika matahari berpindah tempat, kami pun selalu siap berada di tempat kami masing-masing. Sungguh sebuah rutinitas yang tidak akan membosankan, karena di setiap rutinitas itu terciptalah sebuah cerita yang takkan mungkin dilupakan.

Hmmm dibagian ini, Reil sempat tertawa. Ini yang paling unik+lucu. Kalau Asrama Angela 2 mendapat giliran untuk misa harian. Hampir semua kelas 3 SMA masuk alto. “ Hmmm bukan berarti suara kita jelek waktu itu”, kata Reil. “Tapi kita mau menunjukkan, bahwa kita mengalah untuk adik-adik kelas kita”. Eitssss...... ini alasan konyol, kenyataannya bukan seperti itu. Hampir semua kelas 3 berada di alto itu ada alasannya. Yang pertama menurut saya alto itu bagian yang paling mudah dinyanyikan, karena banyak orang. Yang kedua disana ada teman yang paling seru. Hampir setiap latihan koor, sopran yang sering diperhatikan khusus, nah saat itu kami manfaatkan untuk ngobrol. Tetapi yang sebenarnya bagus tidaknya suara kami saat itu, bukan suatu ukuran yang harus diperhitungkan. Yang paling penting, kami dengan tulusnya menyanyi untuk Tuhan. Suster tidak menuntut kami untuk memiliki suara yang bagus, tetapi Ia menuntun kami untuk bernyanyi sesuai dengan kemampuan kami sendiri.

Sebagai seorang ibu, suster tidak pernah berhenti menasihati kami. Terlebih khusus dalam pergaulan. Berteman boleh-boleh saja, tetapi harus tahu batasnya. Suatu nasihat bijak, ya saya yakin semua sahabat saya pasti akan sangat merindukannya. Ia tidak menuntut kami untuk membalas jasanya, ia hanya ingin melihat kesuksesan dalam hidup kami nantinya. 
 
Suster juga menahan lelahnya seharian untuk mengontrol kami ketika belajar malam. Yaa maklum, belajar malam paling rawan. Ada yang tidur, baca novel, ngobrol. Suster tidak pernah lelah untuk menyadarkan kami. Ada saatnya untuk bersantai, ada saatnya untuk serius belajar, dan ada saatnya kita untuk hening dalam doa. Meski kata-kata itu ratusan kali ia katakan, kadang telinga kami mendengarnya, namun pikiran dan hati kami sulit mencernanya. Namun kesabaran dan ketabahan suster tidak pernah habis untuk kami.

Suster Denti, OSU, meskipun beliau harus pindah saat kami berada di kelas 2 SMA, namun kami memiliki begitu banyak kenangan bersamanya. Beliau sosok yang tegas, dan sangat konsisten dengan apa yang ia katakan. Namun dibalik itu semua, ia sosok yang sangat mencintai kami semua.. Hem yang paling kami takutkan dari suster Denti adalah, ketika mengakui suatu kesalahan ia tidak suka bertele-tele. Ia mengajarkan kami untuk berani bertanggungjawab.
Panggilan sayang untuk kami saat siang adalah “ anak burung “. Masih ingat itukan kawan? Ketika kami mendengar panggilan seperti itu, suster mau mengatakan bahwa saatnya istirahat siang. Karena yang boleh berkicau saat itu hanyalah burung. Jadi sadarkan? Yang masih bercerita saat itu sama seperti anak burung. Hmm ini yang paling kami rindukan. Kami pun akan dibangunkannya di pagi hari dengan panggilan khasnya jantung pisang, saatnya bangun.

Suster juga sangat mengerti, disaat mata belum sepenuhnya tertutup, dan pikiran masih melayang memikirkan segala tugas dari sekolah sepanjang hari, suster menemani tidur malam kami dengan alunan lagu Ambon. Kamarpun jadi hening dan matapun tertutup, mimpi indahpun mulai menghiasai tidur kami.
Suster juga selalu terlibat dalam setiap aktivitas kami. Disaat kami taize, suster selalu mengisi renungan kami dengan sebuah cerita yang mengundang deraian airmata kami. Cerita tentang kehidupan orangtua kami, cerita tentang orang-orang yang hidupnya tidak beruntung. Semua cerita itu adalah sebuah renungan bagi kami untuk lebih menghargai setiap usaha yang harus kami perjuangkan. 
 
Setelah suster Denti pindah, kami juga dibimbing oleh suster Sensa, OSU. Beliau juga orang yang sangat peduli akan anak-anaknya.
Hmmm selain ketiga suster tadi, kami juaga sangat merindukan suster-suster yang pernah bersama kami mengukir cerita, merendah hari di Angela.
Mereka adalah suster Anas, OSU, suster Pauline, OSU, suster Ensi, OSU. Mereka adalah bagian dari sejuta cerita kami di Angela.

Suster Anas, OSU mesikpun beliau bukan ibu asrama, namun perannya sangat berarti dalam membentuk kepribadian kami. Di saat detik-detik kami akan UN, beliau menyisihkan sedikit waktunya untuk mengajarkan kami bahasa Inggris. Beliau tidak menuntut lebih, ia hanya menginginkan kami untuk berhasil. Nasihat-nasihatnya di pagi hari saat sarapan pagi masih terngiang di telinga saya. Salah satunya. Dunia sedang kacau, cobalah untuk hening. Saat ini saya mengerti dan memahami makna kalimat itu. Dunia memang sedang kacau.
Suster Ensi,OSU beliau adalah ibu asrama Angela 1. Beliau adalah sosok yang tegas, namun ia juga sosok yang sangat mencintai kami. Suster Ensi juga seru. Menurut Reil, suter Ensi hampir sama dengan suster Denti, tidak suka bertele-tele. Iya memang seperti itu adanya, bunda dari teman-teman Angela 1 itu sangat tegas, tetapi ia sangat lembut. Sosoknya yang seperti itulah yang membuat kami sangat merindukannya. 
 
Suster Pauline, OSU hmm suster Pauline adalah suster yang paling sering ditanya anak asrama. Ia maklum suster Pauline sering keluar kota, dan suster yang sangat sayang kepada anjing kesayangannya, si Cimo, yang menurut Carlin Talip menjadi saudara dari anak-anak Angela. Suster Pauline, suster yang sangat lembut. Yah suster yang sangat mencintai kami, dan ketika beliau sedang santai beliau masih menyisi waktu kosongnya untuk bercerita tentang masa kecilnya kepada kami. Dan yang ingin saya teladani dari beliau adalah, beliau pandai menulis lirik lagu. Hmm kami sangat bangga dan senang setiap kali menyanyikan lagunya. Bahkan saya dan Reil masih sering menyanyikan lagunya di kos.

Hmm yang tidak boleh dilupakan menurut Reil adalah kaka Edit dan ka Arnold, juga Oma Lus. Ka Edit adalah muder yang bersama kami selama 3 tahun. Bahkan sebelum kami datang, ia sudah ada di Angela. Ka Arnold, ia sopir yang sudah lama di Angela, yang sering menggendong anak asrama kalau lagi sakit. Dan oma Lus. Oma sudah lama berada di Angela. Di mata kami, oma sangat rajin berdoa. Oma juga sangat baik.

Angela adalah sebuah nama yang ada dan akan selalu ada di dada kami yang pernah berada disana. Cerita tentangnya takkan bisa dibukukan. Hidup dalam kebersamaan, dan bersatu dalam kesederhanaan untuk semakin mencintai Tuhan yang hadir dalam sosok orang-orang disekitar kami.
Taize, Novena, Doa Rosario, Misa Bahasa Inggris, dan masih banyak lagi tak bisa saya hitung. Semua itu akan selalu kami ingat dan kami rindukan saat ini. Banyak yang kami dapat yang tak dapat dinilai dengan apapun. Kebersamaan dan kasihsayang seakan menarik kami untuk kembali berada disana, namun cita-cita dan mimpi kami harus membuat kami pergi dengan kesuksesan karena kami berhasil menyelsaikan SMA.

Tidak hanya hasil akademik yang kami miliki. Kami memiliki pengalaman spritual yang tidak mungkin kami miliki jika kami tidak berada di Angela. Dan Reil sering mengulang kata Bunda kami tentang inner beauty.
Argh..... ini yang paling penting. Saya harus menulis nama kamar dan nama sahabat-sahabat. Dan nama setiap kamar di asrama, memiliki hubungan erat dengan nama asrama kami, yaitu Angela .
Okk mulai dari kamar yang paling dekat dengan suster.

Le Grezze adalah sebuah desa kecil dimana St. Angela dulu pindah. Disini keseharian St. Angela dan keluarganya adalah berkebun. , menurut suster kamar ini adalah kamar VIP. Eits jangan salah, bukan berarti kamar ini yang paling elit. Kamar ini adalah kumpulan putri-putri Angela yang suaranya hampir sama dengan Candil kalau lagi teriak. Yang paling sering dihukum. Dan yang paling malas bangun pagi. Hahahaha.... hmm maaf ya sahabat-sahabat sayang yang sempat membaca blog ini.
Mereka adalah; Asri Nggepe,;si kerdil yang paling boros. Ya dia salah satu yang paling sering dihukum dan juga paling malas bangun pagi, Carlin Talip; yang sering disapa Princess, maklum ayah angkatnya presiden Amerika, Barack Obama, Tini Amirda; hmm kalau yang ini pemain volly yang paling heboh yang punya prinsip kau jahat saya lebih jahat, jangan ditiru ya.....hehehe , Oliv Dihung; kalau yang ini saya bingung, kelihatan pendiam tetapi sering terlibat dalam aksi hukum unik suster, Reil Manis; yang ini teman se-kos saya sekarang yang banyak perubahan, yang ikut serta menulis cerita ini. Dulu di Angela, paling ribut kalau jam belajar, maklumlah semeja sama si kerdil Nggepe. Ya sedikit saya bercerita tentang Reil. Ia sangat penurut. Ia mau mendengar pendapat oranglain, namun pendapat itu hanya untuk didengar karena tidak akan ia jalani. Konyolkan? Tetapi bagi saya ia adalah sahabat yang paling saya sayangi sekarang. Suka duka, yang pernah kami jalani di Angela, menjadi cerita yang mengundang tawa sebelum kami tertidur.

Brecia, nama ini adalah nama keturunan. Nama ayah St. Angela adalah Giovani keturunan bangsawan Brecia ; Yelin; ia sangat rajin dan tidak suka mengomel, Lian rada; sabar dan pendiam, ya yang paling lama kalau berada di kamar mandi, karena rajin luluran, Osin; teman semeja saya yang paling saya takuti. Karena kalau lagi belajar paling diam, Enya; iya sangat pendiam. . 
 
Ursula, ursula adalah pelindung ordo Ursulin, nah,,,, kalau yang ini kamar saya. Dikamar ini, saya satu-satunya anak kelas 3 SMA yang tidurnya paling cepat. Ya maklum, yang lainnya belajar.
Disini ada Nidia Jehanus; ketua asrama yang paling tegas, namun kalau lagi tidur siang suka gosip om ungu. Satpam BRI. Elsa Sion; ya menurut saya paling dewasa. Tidak suka repot, dan yang paling penting, ia selalu didengar kalau sedang marah. Hahaha, Afy Jegapu; teman tidur saya yang paling suka korea, yang paling suka mengoleksi foto-foto artis korea, Icha Ngana; yang paling setia menunggu saya kalau ke sekolah. Dan sangat baik, Eflin Mbambuk; hmm ini hobynya sama gosip om ungu; Freby; Eby paling rajin. Habis makan siang mandi, setelah mandi tidur siang. Kalau sekarang kedengarannya pasti aneh, Norlin; hmm Nonik paling rajin. Hampir tidak pernah terlambat saat belajar. Dan yang terahkir saya sendiri, paling suka ribut, menghanyal jadi reporter metroTV, dan paling rajin bangun pagi. Keren kan?

Angela, adalah nama dari asrama kami sendiri, Trina; teman kelas saya. Saat belajar malam, saya dan Trina hanya sibuk menghayal. Dan dari diskusi konyol itulah, menghasilkan canda dan tawa. Tetapi ada saatnya kami belajar. Maya; ia paling pandai menari. Sama seperti Yelin, Meisin; hmm suaranya sangat khas, dan sangat pintar matematika, Ocik; hmm yang ini paling unik. Takut boneka oscar, milik Intan.Ochik juga yang pintar matematika,Triani; pendiam yang suka korea juga, Nova; sangat lucu, dan satu-satunya kelas 3 yang saya takut, Diana; mungkin namanya akan familyar kalau ditulis Dino. Sangat lucu, yang selalu dicari bila mendadak ia hilang, Wiwin; lucu pendiam. Hmm panggilan kesayangannya Lol’a, Eva wakil ketua asrama yang paling kompak. Kalau ketua asrama sedang privat, ia tidak akan mencatat nama yang ribut saat belajar sore. Ya itu karena ia juga ribut. 
 
Dezensano adalah tempat kelahiran St. Angela,
Intan; yang ini sahabat saya yang sangat boros. Suka makan bakso, dan yang sering diminta Bunda untuk meninggalkan brondongnya dulu. Intan juga sangat baik, paling tidak suka dibentak, Cindi; hmm yang ini pernah menjuarai lomba geografi.. Ia sangat lucu, Ani; sekarang sekolah kesenian. Paling suka gitar, dan yang paling suka menanyakan pendapat teman-temannya tentang kepribadiaannya, Mis; nama yang unik, seunik orangnya. Mis sangat lucu, dan juga pintar.
O ya kami adalah angkatan 2011/2012. Angkatan yang memiliki banyak keunikan. Angkatan yang penuh dengan seribu cerita. Dan angkatan yang pastinya sangat di rindukan oleh ibu asramanya. Sebuah lirik lagu yang pernah kami tulis bersama” kami biar nakal tapi kami punya moral, otak boleh pas-pasan tapi kami punya masa depan, kami juga punyak banyak motivasi” sudah kami wujudkan saat itu.

Tanpa suster yang membangunkan kami di pagi hari, memaksa kami untuk tidak terlambat ke sekolah, menemani kami ke gereja setiap hari, kami bukanlah apa-apa. Banyak yang kami terima, yang tak mungkin bisa kami hitung dan tidak bisa dinilai oleh apapun itu.
Disetiap langkah dan cerita yang akan kami jalani, Angela adalah sebuah kisah yang akan selalu kami ceritakan.
Angela sejauh apapun kami melangkah, namamu akan selalu kami bawa. Tuhan terimakasih untuk 3 tahun yang telah kami jalani di Angela. Jagalah para suster, dan juga sahabat-sahabat saya dimanapun mereka berada.




Dan diahkiri cerita ini pesan saya untuk sahabat-sahabat saya dimanapun kalian berada saat ini;
Jika Sang waktu mengizinkan, bisakah kita bertemu lagi disana? Meskipun kita tidak bertemu untuk mengukir waktu, merendah hari disana, kita bertemu untuk kembali menulis cerita baru yang sama-sama kita buat bersama untuk 3 tahun yang pernah kita lalui bersama.
Angela berjayalah selamanya...