“Semua akan tetap menjadi sebuah
pertanyaan, kapan ada jawabannya bersabarlah lelaki tua. Bila waktunya, aku pun
tak mungkin menulis apapun tentang jawabannya. Dan bila memungkinkan untuk
datang, janganlah datang. Karena banyak yang ingin kujawab, tetapi nanti.”
Adapun lelaki itu
berdiri di depan rumah, memegang mainan terahkir yang ia belikan untuk
putrinya...
Seorang yang lewat bertanya " sedang apa pak? Sudah berapa lama anda berdiri seperti ini, untuk siapa anda menunggu?"
Lelaki itu menjawab..."aku sedang menunggu putriku pulang. Beberapa tahun yang lalu, aku mengizinkannya untuk pergi. Entah kenapa, sepertinya putriku tidak merindukan mainan ini dan jalan setapak yang kulalui untuk mengantarnya pergi.
Dan orang itu menjawab "putrimu takut pulang pak. Takut melihat namamu yang tertulis indah di atas bebatuan itu"
Seorang yang lewat bertanya " sedang apa pak? Sudah berapa lama anda berdiri seperti ini, untuk siapa anda menunggu?"
Lelaki itu menjawab..."aku sedang menunggu putriku pulang. Beberapa tahun yang lalu, aku mengizinkannya untuk pergi. Entah kenapa, sepertinya putriku tidak merindukan mainan ini dan jalan setapak yang kulalui untuk mengantarnya pergi.
Dan orang itu menjawab "putrimu takut pulang pak. Takut melihat namamu yang tertulis indah di atas bebatuan itu"
Ia tak mendengar apapun
tentang itu.....
Lelaki itu masih dengan
sabar berdiri di depan rumah. Entah darimana, terdengar teriakan wanita
seusianya. Itu istrinya......
"Papa, jangan menunggu dengan mainan itu. Usia putri kita, tak seperti terahkir kali saat kita mengantarnya pergi. Saat ini ia sudah cukup dewasa, usianya hampir seperti usia mama saat mengenal papa...
Karena yang sebenarnya papa, bukan kita yang mengantarnya pergi, tapi putri kita yang mengantar kita. Saat itu ia menangis, menjerit memanggil nama kita. Saat itu usianya masih kecil papa. Ia masih putri kita yang manja... Kenang istrinya.....
Papa....apakah putri kita akan pulang? Adakah yang ia rindukan di rumah ini?
"Papa, jangan menunggu dengan mainan itu. Usia putri kita, tak seperti terahkir kali saat kita mengantarnya pergi. Saat ini ia sudah cukup dewasa, usianya hampir seperti usia mama saat mengenal papa...
Karena yang sebenarnya papa, bukan kita yang mengantarnya pergi, tapi putri kita yang mengantar kita. Saat itu ia menangis, menjerit memanggil nama kita. Saat itu usianya masih kecil papa. Ia masih putri kita yang manja... Kenang istrinya.....
Papa....apakah putri kita akan pulang? Adakah yang ia rindukan di rumah ini?
”Entah kapan ia akan
pulang, aku akan setia menunggu ia pulang Ma, aku sudah terlanjur berjanji
padanya untuk menggantikan mainan ini. Dan jikalau ia sudah dewasa seperti yang
mama akan katakan, dimana kita saat ia tumbuh seperti itu? Bukankah kita pernah
berjanji di hadapanNya untuk menjaga setiap titipanNya dengan baik. Lalu mengapa
kita meninggalkannya tumbuh tanpa kita?
Ma, seperti apakah
wajah putri kita? Apakah ia mengenyam pendidikan yang layak? Apakah ia tumbuh
menjadi gadis seperti yang kita minta padaNya? Apakah putri kita, masih
mengingat wajah kita? Apakah ia masih sering menangis saat tidur karena
ketakutan sendiri?
.......
Tak ada jawaban.....