Selasa, 24 Januari 2017

Tanya




“Semua akan tetap menjadi sebuah pertanyaan, kapan ada jawabannya bersabarlah lelaki tua. Bila waktunya, aku pun tak mungkin menulis apapun tentang jawabannya. Dan bila memungkinkan untuk datang, janganlah datang. Karena banyak yang ingin kujawab, tetapi nanti.”

Adapun lelaki itu berdiri di depan rumah, memegang mainan terahkir yang ia belikan untuk putrinya...
Seorang yang lewat bertanya " sedang apa pak? Sudah berapa lama anda berdiri seperti ini, untuk siapa anda menunggu?"
Lelaki itu menjawab..."aku sedang menunggu putriku pulang. Beberapa tahun yang lalu, aku mengizinkannya untuk pergi. Entah kenapa, sepertinya putriku tidak merindukan mainan ini dan jalan setapak yang kulalui untuk mengantarnya pergi.
Dan orang itu menjawab "putrimu takut pulang pak. Takut melihat namamu yang tertulis indah di atas bebatuan itu"
Ia tak mendengar apapun tentang itu.....
Lelaki itu masih dengan sabar berdiri di depan rumah. Entah darimana, terdengar teriakan wanita seusianya. Itu istrinya......
"Papa, jangan menunggu dengan mainan itu. Usia putri kita, tak seperti terahkir kali saat kita mengantarnya pergi. Saat ini ia sudah cukup dewasa, usianya hampir seperti usia mama saat mengenal papa...
Karena yang sebenarnya papa, bukan kita yang mengantarnya pergi, tapi putri kita yang mengantar kita. Saat itu ia menangis, menjerit memanggil nama kita. Saat itu usianya masih kecil papa. Ia masih putri kita yang manja... Kenang istrinya.....
Papa....apakah putri kita akan pulang? Adakah yang ia rindukan di rumah ini?
”Entah kapan ia akan pulang, aku akan setia menunggu ia pulang Ma, aku sudah terlanjur berjanji padanya untuk menggantikan mainan ini. Dan jikalau ia sudah dewasa seperti yang mama akan katakan, dimana kita saat ia tumbuh seperti itu? Bukankah kita pernah berjanji di hadapanNya untuk menjaga setiap titipanNya dengan baik. Lalu mengapa kita meninggalkannya tumbuh tanpa kita?
Ma, seperti apakah wajah putri kita? Apakah ia mengenyam pendidikan yang layak? Apakah ia tumbuh menjadi gadis seperti yang kita minta padaNya? Apakah putri kita, masih mengingat wajah kita? Apakah ia masih sering menangis saat tidur karena ketakutan sendiri?
.......
Tak ada jawaban.....

Reil Tokoh yang Manis




Untuk waktu yang telah membawamu pergi,
Maaf, karena untuk sebentar saja aku meminta izin kepadaMu, untuk menulis beberapa paragraf yang mungkin tidak bermakna untuk gadis yang Kau jemput pada sore itu. Dan biarkan aku mengakuinya sebagai sahabatku untuk saat ini, karena banyak yamg kuketahui tentangnya saat bersama menghirup udara di pagi hari di kota dingin tempat Kau mempertemukan kami.
Aku tahu, bahwa akan ada tangis saat kuingat kembali semua yang telah kau ambil dari sisiku, dan aku diajarkan untuk diam dalam sujud atas semua yang terjadi, bahkan olehMulah aku memilih untuk merindukannya dalam rangkaian kata yang sering kurajut bersama sahabatku, saat senja menyapa .
Namanya Reil Manis. Semanis kau mengukir senyumnya yang manis menyapaku pulang di depan rumah milik orang yang kami tumpangi satu tahun bersama. Masih kuingat saat aku diusir sepulang futsal karena kegaduhan yang kami ciptakan, Reil dengan santai mengikutiku “ayo pindah, padahal ku tahu saat itu belumlah lama ia dipuji pemilik rumah karena sikapnya yang manis.
Aku tahu, kehabisan kata bila aku menulis semua yang kujalani bersamanya. Ia sosok yang mengerti banyak hal tentang hidup yang kujalani, pilihan yang kutempuh dan cerita yang kulakoni.
Reil.....aku menyebutnya pada bagian terahkir dalam doaku, setelah orangtuaku. Aku tahu betapa berat aku menulis cerita tentangnya untuk kubuktikan pada dunia betapa baiknya Kau menghadirkan setiap tokoh disisiku. Betapa sering aku kehilangan tokoh-tokoh penting disekitarku.
Kau membawa Reil pergi, setelah mengizinkanku menemuinya sebagai sahabat. Karena setelah kembali padaMu, aku hanya bisa berharap ia mengingatku sebagai sahabatnya. Dan jika tidak, maka Kau cukup adil karena menghapus tinta-tinta hitam dalam perjalanan hidupnya di dunia ini. Dan jikalau ia, aku hanya berterimakasih kepadaMu Tuhan.
Terimakasih pernah menghadirkan seorang yang begitu sabar, terimakasih telah menyembuhkan sahabatku dari sakitnya, dan terimakasih karena kutahu ia telah sembuh bersamaMu di Surga.
Selebihnya, aku kembalikan sahabatku padaMu Tuhan.
Ia gadis yang baik. Ia mencintaiMu dengan caranya dan aku tahu itu. Kau tahu Tuhan, aku merindukannya. Sangat!!
Aku ingin menulis sebanyak yang kubisa. Sebanyak kau menganugrahkan ini.
Dan bila senja menjemput dunia yang ia jalani, katakan padanya bahwa dunia yang i yang kujalani sangat merindukannya.

Senin, 03 Oktober 2016

Gadis Hujan



Dan seperti itulah hidup. Ada yang datang, ada yang pergi. Semua berhak untuk menentukan kebahagian. Berhak untuk melepas, menggenggam dan memberi. Tapi tidak denganku. Tidak dengan hatiku.
            Betah di bawah hujan, aku menatap langit yang seolah tak jauh dariku. Seorang wanita bersayap mencoba menutup ubun-ubunku. Aku tersenyum padanya. ”Aku tidak membutuhkan payungmu saat ini,  biarkan aku bersama hujan ini hingga lelahku dibawa pergi”.
Namun ia tetap bersamaku, menemani senjaku.
Aku pun bercerita padanya.......
Tentang hatiku.
            Wanita bersayap
 Aku bercerita tentang gadisku. Aku sangat mencintainya. Mencintai tutur katanya, mencintai keramahannya, mencintai amarahnya, mencintai setiap ketidakpeduliannya, mencintai ia seutuhnya. Aku melawan diriku sendiri untuk mencintai dirinya. Ia gadis yang manis, ia gadis yang hebat wanita bersayap. Bahkan kau pun takkan menyainginya.
”Wanita bersayap tersenyum angkuh. Ia seolah mencibirku dalam senyum yang tak semanis senyum gadisku”
            Aku tak pernah memahami setiap ketidakpeduliannya. Aku yang tak pernah menjadi baik di depannya. Ia sama sepertiku wanita bersayap. Ia menyukai hujan. Bahkan ia sering menari bersamaku saat hujan, tak peduli apa yang akan terjadi setelah itu. Kami menyukai hal yang sama, tetapi kami mencintai hal yang tidak bisa kami miliki. Aku mencintainya, tetapi ia mencintai bayanganku.
            Gadisku adalah wanita yang sering kusandingkan bersama bayanganku tentang malaikat surga. Gadisku adalah segalanya bagiku, wanita bersayap. Bahkan aku siap menggantikan surgaku untuknya.
.
Aku terlalu egois wanita bersayap.
            Aku membawa pergi hatinya, membawa harapan, membawa mimpinya, membawa jiwanya, membawa kenangan yang membuatnya menangis di hadapan Tuhannya untuk menghapus namaku. 
            Saat hujan  datang, aku melihat gadisku tersenyum manisnya di jendela yang sama. Jendela tempatku menyapanya saat senja. Ia berdiri disana bersama bayanganku, ia memeluk dan berbisik seribu kata manis tentang mimpinya bersamaku. Tentang mimpi kami.
Aku adalah bayangan.
Dan akan tetap menjadi bayangannya.
Ia mencintai bayanganku.

Jumat, 27 Mei 2016

Surat Cinta Untuk Ayah



Selamat pagi ayah
Ayah taukah kau... banyak yang ingin kuceritakan padamu semenjak kepergianmu yang tanpa pesan itu. Ayah aku menampung seribu kisah yang ingin kuceritakan jika kau kembali nanti. Ini tentang hatiku ayah, yang tak bertuan hingga saat ini.
Ayah, ingatkan? Saat kau pergi usiaku masih remaja. Dan saat itu, belum banyak yang kumengerti tentang satu kata penuh makna itu. CINTA.
Saat aku menulis surat ini, aku membayangkan wajahmu ayah. Wajah yang penuh dengan kebahagian, meski kadang harus marah karena kenakalan masa kecilku. Ayah, aku masih ingat pertama kali kau mengajarkanku menaiki sepeda milik tetangga kita. Saat itu dengan rasa bangganya aku menaiki sepeda itu, tanpa memikirkan rasa malu yang saat ini sering mengganguku saat memakai milik orang. Ayah datang memegangku dari belakang. Ayah mendorongku dan aku terjatuh. Ayah menertawakanku, dan memberikan kedua tanganmu membantuku untuk kembali berdiri. Saat itu aku masih terlalu kecil ayah, aku tidak menangis karena kesakitan. Aku hanya ikut menertawakan diriku saat itu.
Ayah, tahukah kau, setahun setelah kepergianmu itu aku sudah bisa membawa sepeda tetangga kita tanpa ada yang membantuku. Bahkan, aku bisa membawa motor milik adikmu yang sering datang ke rumah. Taukah kau ayah, orang pertama yang kuboncengi adalah kakak yang saat ini sudah menjadi seorang ibu. Aku sangat bahagia ayah, dan saat itu aku berharap kau segera pulang untuk melihat kemampuanku.
Ayah usiaku semakin bertambah. Dan sepeda adalah satu dari seribu cerita yang kau torehkan untukku. Satu hal yang membuatku selalu tersenyum ayah, saat kita harus berjalan sejauh 2 km untuk menonton pertandingan sepak bola antara Brazil vs Ekuador. Saat itu masih gelap.  Dengan membawa senter, kita berjalan menembus dinginnya malam meninggalkan ibu yang saat itu masih terlelap. Kau mengajarkanku tentang duniamu ayah, dan ibu dengan caranya sendiri memaksaku mencintai duniaku. Puncaknya, saat aku memintamu untuk “operasi kelamin”. Ayah, andaikan kau tidak pergi dan jika kau kembali nanti, aku hanya ingin menjelaskan itu bukan permintaanku ayah tetapi permintaan mereka yang melihat kemampuanku yang mirip seperti dirimu. Saat itu, kau hanya diam ayah. Dan membiarkan ibu menjelaskannya padaku. Aku tak mengerti apa-apa saat itu ayah, jadi maafkan aku ayah pernah membuatmu merasa bersalah. Aku tahu ayah, saat itu secara perlahan kau melarangku bermain sepak bola. Hingga ahkirnya, kau mengejarku di lapangan yang disaksikan oleh teman-teman kecilku. Ayah maafkan aku untuk itu. Jika kau kembali nanti, aku takkan mengatakannya lagi ayah.
Ayah, usiaku bukan usia remaja lagi. Kau pasti akan kaget ayah, yang kuceritakan saat ini bukan tentang sepeda, tentang bola, tentang radiomu yang kujatuhkan, tentangmu yang mengajakku berburu, tentangmu yang selalu menggendongku di pundakmu. Ayah...ini tentang hatiku.
            Setelah kepergianmu, aku jatuh cinta ayah. Entahlah ayah, saat itu aku terlalu menggebu. Aku bahkan lupa menelponmu untuk itu. Aku mencintainya dengan segenap hatiku ayah, yang membuatku kehilangan hatiku hingga saat ini. Aku tak mengerti ayah, itu cinta seperti apa. Tetapi aku tak mengerti mengapa aku harus jatuh sedalam itu dalam rasa sakit.. Aku sakit ayah, bahkan taukah kau saat menulis bagian yang ini, aku menangis.
Ayah saat itu aku takut. Aku takut sakit lagi. Aku takut menangis lagi ayah. Dan yang lebih menakutkanku saat aku menelponmu untuk cerita itu, kau lagi-lagi tak menjawabku. Sesibuk itukah kau ayah?
            Ayah, saat pernikahan kakak, aku tak ada disana. Kadang aku menangis karena itu, kadang juga aku bahagia ayah. Ia sudah menemukan lelaki yang tepat. Lelaki yang bisa menggantikan posisimu dihatinya. Ah aku salah, posisimu takkan tergantikan ayah.  Posisimu ada disudut yang tak tersentuh oleh apapun.
 Ayah, saat ini aku berpikir tentang diriku sendiri.
Ayah, sejak rasa sakit itu datang, aku lari dari dunia semu itu. Aku menutup hatiku ayah. Aku menutup segalanya. Meski banyak yang mengetuk pintu hatiku, bahkan ada yang sekedar menyapa. Aku tak menggubrisnya ayah. Ayah, jikalau saat itu kau ada seperti saat kau membantuku mendorong sepeda, mungkin lukanya tak sedalam ini. Kau akan membantuk berdiri, dan aku yakin kau akan memarahi laki-laki itu untukku ayah.
Ayah...entahlah. Kapan kan berpenghuni, aku tak peduli. Tetapi saat ini taukah kau ayah, aku jatuh cinta padamu. Kau lelaki hebat ayah. ibu adalah wanita beruntung memilikimu. Kau adalah lelaki yang memiliki pundak yang kuat untuk menopang ibu dengan cintamu yang luarbiasa. Kau juga luarbiasa ayah, saat kau menggantikan posisi ibu yang pergi untuk selamanya. Kau tak pernah mengeluh ayah, meski kadang aku melihat wajah cemburu saat kakak mengenalkan pacarnya padamu.  
Ayah, aku ingin memiliki lelaki sepertimu. Aku ingin memiliki lelaki luarbiasa. Apalah alasannya ayah, tak harus serupa denganmu. Karena rupamu hanya satu dan sudah kumeteraikan  dalam hatiku. Ayah, saat derasnya gelombang dan deruhnya angin kehidupan yang kualami saat ini, aku membutuh lelaki sepertimu ayah. Yang lebih banyak mendengarkan kuberbicara, yang ada disampingku, setia mendengarkan ceritaku tentang kelasku. Dan yang paling penting, ia tak pernah memintaku untuk berhenti mencintaimu
Ayah.... dimana kau berada? Aku lelah menulis lebih banyak lagi tentang lelaki yang ingin kujadikan temanku. Kau takkan cemburukan ayah? seperti saat kakak mengajak pacarnya ke rumah. Saat itu, kau seolah sibuk mengurus makam ibu, padahal aku mengerti betapa hancurnya hatimu. Iya kan ayah? Aku tersenyum merindukanmu menulis bagian ini ayah. Ayah, aku tahu dan aku merasakan sakit hatimu saat itu. Sebenarnya kau bahagiakan ayah? Tapi kau harus sedih,  puteri kecilmu sudah beranjak dewasa.
            Ayah saat membaca surat ini kau akan sedih? Aku yakin iya. Kau juga akan cemburu kan ayah? Ayah...aku jatuh cinta padamu. Dan kau tak perlu cemburu ayah, hingga saat ini hanya kau yang mengisi hatiku. Hatiku tak pernah kosong ayah, kau ada bersama malaikat-malaikat yang kuyakin berada disampingmu membaca suratku ini. ayah, bahagialah disana..hingga waktu kembali menyatukan kita dalam dunia yang sama tentang cerita yang berbeda. I love you ayah, jika kau temukan laki-laki sepertimu katakan pada malaikat untuk mengirimkannya padaku.

Senin, 23 Mei 2016

Tentang Kesendirian yang Beralasan



Karena dalam kesendirian, sebuah pemikiran akan datang. Bagai air murni dari pegunungan, dalam kesendirian tanpa suara sumbang, suara hati didengar. Kesendirian dalam kesunyian mengajarkan bahwa ahkir dari hidup adalah kesendirian itu sendiri.za



Saat menulis cerita ini aku bingung memilih judulnya. Jomblo? Hmm akan membuatmu merasa lucu saat membaca? Aku memilih judul lain yang membuatmu berpikir tidak sejauh caraku berpikir.
Semua anak kos, kecuali aku selalu mendata berapa kali mereka putus dalam setahun, mendata berapa yang  menyukai mereka dalam setahun, sekaligus mendata berapa kali mereka menasihatiku untuk meninggalkan statusku yang membuat mereka harus lelah menasihatiku. Mungkin status yang membuat mereka dan seluruh perabot kos harus menderita.  Jomblo. Ya kan ini hal yang biasa, yang penting aku bukan single parent. Argh aku terlalu jauh berpikir seperti itu.
            Iya... namaku Yanti, semester 4, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hm aku lupa satu, aku kelas A di kampusku, dengan jabatan  anggota biasa. Dan di kos, statusku leader huru-hara. Karena kesepian akan melanda pada diri mereka, meskipun mereka jauh dari kata “kesendirian” ya mungkin seperti itu. Karena aku akan ditanyai saat pulang terlambat, kenapa tidak pulang. Hm aku kadang betah dengan perhatian seperti itu. Tetapi yang sebenarnya mereka merindukan suaraku, eits bukan karena suara mirip Celina Dion ya, tetapi suaraku mirip drum yang kosong isinya. Hahhaha ya seperti itu, aku selalu rendah hati mengakui hal itu.
 Argh.....buatku hal yang paling kutunggu di hari sabtu sore atau yang beberapa menit lagi malam minggu, ya malam yang panjang menurut anak kos adalah hujan. Karena yang kulakukan saat itu aku akan tidur sepuas  mungkin, dan akan bangun di pagi hari dengan mendengarkan cerita para gadis korban malming(malam minggu).  Dan alasan ini yang membuat aku di vonis manusia paling aneh di kos. Aku tidak bilang mereka penjahat, karena aku tak pernah merasa marah sedikitpun akan olokkan seperti itu. Bagiku mereka kakak yang super duper  kompak. Paling baik dan sangat perhatian, ya meskipun kadang cara mereka berbeda-beda, tapi mereka kakak-kakak yang selalu buatku betah berada di kos yang sudah lama aku tempati  ini. Aku pernah dinasihat selama 5 jam. Iya.....  bisa bayangkan 5 jam itu seperti saksi pembunuhan yang di periksa tim penyidik. Kenapa aku dinasihat selama itu, ya alasannya cuma satu, aku yang selalu malas merespon saran mereka untuk memiliki pacar. Aku beginilah, aku begitulah. Ah bosan. Dan hal konyol yang pernah mereka sarankan adalah, memeriksa kejiwaanku. Saat itu aku antara marah dan lucu. Iya itu ide konyol yang pernah ada.
 Aku ditanya alasan tidak pacaran sampai saat ini. Mereka sebenarnya peduli dan sayang kok. Tapi buat aku itu pertanyaan yang kesekian yang sangat konyol. Iya....konyol!!!! Pertanyaan  seperti itu sudah sering buat telingaku geram sejak aku  SMA. Lucu ya telingahku sampai geram. Saking bosannya ia mendengar pertanyaan yang sama . Aku tidak marah, tetapi aku sering merasa aneh dengan pertanyaan seperti itu. Aku pernah punya jawaban yang membuat mereka tertawa, saat aku bilang aku ingin memberikan hidupku  untuk Tuhan.  Dan saat itu aku hanya tersenyum  memandang betapa bahagianya mereka menertawakan  alasanku. Itu menyedihkan menurut mereka.
Semua punya alasan menurutku. Saat ulangtahunku yang ke 20, aku sempat bingung dengan ucapan mereka di medsos. Ada yang  memintaku untuk segera punya pacar, ada yang mengatakan bahwa aku jomblo yang genap usia 10 tahun. Yapz... 10 tahun?? Artinya 10 tahun yang lalu aku masih berusia 10 tahun masih kelas V SD, dengan usia seperti itu apa aku harus punya pacar?? Ya, aku bukan anak SD usia masa kini kan? Yang lagi trendnya cinta monyet saat usianya masih pantasnya main karet gelang.
Ya..bagiku, itu doa yang mungkin akan buat Tuhan tersenyum. Kenapa mereka tidak mendoakanku jadi anggota dewan atau presiden?? Dengan begitukan aku bisa menurunkan harga beras. Dan yang paling penting lagi itu akan merugikan anak kos yang punya seribu satu alasan dengan harga sembako naik untuk jatah bulanan, setidaknya aku meringankan beban orangtua mereka. Kan kasihan, katanya penerus bangsa, tetapi terkadang sikap kepedulian akan statusnya sebagai penerus bangsa itu sebenarnya aku lupa ada tidak ya? Argh, aku akan menjadi orang yang sangat bosan membahas tentang itu. Sebenarnya aku setuju dan ingin berada di pihak yang menyetujui pikiranku, tetapi itu membosankan. Karena terlalu banyak orang yang berbicara atas namaku dan pikiranku, tetapi mereka yang membius seribu mata dengan retorika kelas atas, tanpa aksi nyata.
Terlalu panjang lebar aku membicarakan ini, ah lupa tema cerita ini kan jomblo. Ah aku harus mengatakannya juga, sepertinya negaraku juga sedang jomblo. Maksudku bukan negaraku, tetapi penghuninya. Ia penghuninya, sukanya jalan sendiri. Sukanya berkompromi pada kelompok kecil. Ya, yang ahkirnya melahirkan seribu satu penyimpangan yang dipulikasi bak drama tanpa sutradara tapi memiliki pemain handal yang mengakui dirinya sekedar figuran, ternyata dalam aksinya adalah pelaku utama. Aku ingin kakak-kakakku sesekali menertawakan kejomblooan yang di miliki ibu pertiwi ini. Tidak hanya menertawakanku yang lebih betah tidur di kos malam minggu, tetapi juga mereka yang duduk dibangku dewan yang mengatasnamakan generasiku dan kerjanya tidur. 
Bagiku, berjalan dibawah payung tanpa harus ditemani sosok seperti yang mereka katakan adalah sebuah  cerita tentang  payung  itu. Bukan tentang orang di dalam payung. Karena perjuangan yang dilakukan seseorang dibawah payung tersebut, akan membawa cerita baru pada payung tersebut.
Kenapa aku sendiri?  Alasan pertama, aku masih kuliah dan ingin menyelesaikan kewajibanku pada orangtuaku. Kedua, memiliki pacar membuatku menyibukkan diri, karena aku memang orang sibuk yang tidak ingin dipaksa untuk sibuk dengan kedatangan tamu yang membuatku sibuk. Ketiga, aku memiliki jatah bulanan yang sudah kuperhitungkan, dimana aku tidak menyisihkan untuk malam minggu yang harus mengeluarkan biaya, karena aku tahu pastinya orangtuaku malam minggunya juga hanya di rumah. Keempat, aku belum siap pacaran karena ketiga alasan tersebut.