Tentang
30 Oktober
Aku
berhenti dari semua kesibukanku saat aku bangun di pagi hari pada
tanggal 29 Oktober. Aku mencoba kembali ke 9 tahun yang lalu pada
tanggal ini. Karena 29 Oktober saat itu adalah hari
terahkirku bersama mama. Ia mama, yang kini bila aku mendengar
namanya disebut selalu diawali kata “almarhumma”.
Hari
itulah, hari yang paling bersejarah dalam hidupku terahkir bersama
mama. Hari yang menjadi ahkir perjalanan hidup mama berziarah di
bumi ini. Karena mama harus pergi ke tempat yang sangat jauh.
Aku sadar
dari lamunanku, setelah mengetik dua paragraf di awal narasiku. Aku
mencoba kembali membaca, dan lagi-lagi aku kembali melihat foto
editanku saat SMA yang sengaja kuletakkan di meja belajar kosku. Foto
yang menjadi inspirasi dari setiap narasiku..
30 oktober.
Mama meninggalkanku saat usiaku 11 tahun. Aku masih kelas 6 SD. Mama
bukan hanya sosok guru Bahasa Indonesia yang punya sejuta lawakan,
tetapi juga seorang sahabat yang selalu setia menemaniku ke sekolah.
Letak rumah yang sangat jauh dari rumah teman-temanku, membuatku selalu
bersama mama ke sekolah. Aku lupa apa saja yang sering aku ceritakan
bersama mama saat ke sekolah. Sungguh, 30 Oktober 9 tahun yang lalu
adalah kisah perih dibalik tawaku di 30 oktober saat ini.
Aku tidak
melupakan mama, dengan semua cerita masa kecilku bersamanya. Tetapi
aku melupakan semua kenanganku bersama mama, karena kenangan itulah
yang membuatku menjadi gadis yang sangat manja hingga saat ini.
9 tahun
bukan waktu yang sangat mudah untukku menulis semua cerita tentang
hidupku tanpa mama. Aku hidup dalam ketidaksempurnaan akan kasih
sayang. Namun aku sadar, arti dari setiap tanggal 30 Oktober di
setiap tahun yang Tuhan berikan kepadaku selama ini. Aku hidup tanpa
melihat, mendengar suara mama. Tetapi aku selalu bisa melewati semua
itu, karena kehangatan kasih sayang mama dalam diri berbeda meski tak
sama.
30 oktober
adalah, hari paling bersejarah setiap tahunnya. Tuhan masih
memberikanku kesempatan untuk mengenang terahkir kali aku melihat
mama. Tuhan masih mengizinkanku menulis tentang mama, meski aku tak
bisa menulis segala yang telah mama berikan padaku. Perjuangannya
menggendongku sejauh 1 km saat aku kelas 5 SD, pengorbanannya saat aku
sakit dan kesabaran atas semua kenakalan masa kecilku.
Aku pernah
bermimpi. Jika mama masih ada. Ia akan melihatku menjadi seorang
mahasiswi. Ia melihat putri bungsunya, yang bukan lagi gadis kecil yang nakal
yang sering pergi saat ia memaksaku untuk tidur siang. Dalam mimpiku,
mama sudah semakin tua, karena umurku bertambah. Aku melihat mama
tersenyum bangga, karena aku telah menjadi seorang gadis dewasa, yang
memiliki wajah yang mirip dengannya. Mama juga akan bangga, karena
aku bukan gadis kecil yang sering di
bully kedua kakakku.
30
oktober.... aku menangis merindukan mama, aku menangis ingin pulang.
Pulang melihat makam mama. Melihat nisan yang diatasnya tertulis nama
mama. Aku menangis merindukan makam yang sering aku tiduri saat aku
merindukan mama. Merindukan makam, yang penuh dengan lilin saat
matahari kembali ke ufuk barat.
30
oktober..... yang kedua dalam perjalanan hidupku mengenang mama,
tanpa melihat nisan indah itu. Aku memandang langit yang tak pernah
berubah mamandangku. Sedikit berbisik padanya, aku merindukan mama.
Jika kau dekat dengannya, katakan padanya langit, aku mendoakan mama
saat ini. Aku mendoakannya untuk tetap berada disampingku langit.
30 oktober,
akan penuh dengan cerita setiap tahunnya.