Kamis, 29 Oktober 2015

30 oktober

Tentang 30 Oktober

      Aku berhenti dari semua kesibukanku saat aku bangun di pagi hari pada tanggal 29 Oktober. Aku mencoba kembali ke 9 tahun yang lalu pada tanggal ini. Karena 29 Oktober saat itu adalah hari terahkirku bersama mama. Ia mama, yang kini bila aku mendengar namanya disebut selalu diawali kata “almarhumma”.

     Hari itulah, hari yang paling bersejarah dalam hidupku terahkir bersama mama. Hari yang menjadi ahkir perjalanan hidup mama berziarah di bumi ini. Karena mama harus pergi ke tempat yang sangat jauh.
Aku sadar dari lamunanku, setelah mengetik dua paragraf di awal narasiku. Aku mencoba kembali membaca, dan lagi-lagi aku kembali melihat foto editanku saat SMA yang sengaja kuletakkan di meja belajar kosku. Foto yang menjadi inspirasi dari setiap narasiku.. 
 
   30 oktober. Mama meninggalkanku saat usiaku 11 tahun. Aku masih kelas 6 SD. Mama bukan hanya sosok guru Bahasa Indonesia yang punya sejuta lawakan, tetapi juga seorang sahabat yang selalu setia menemaniku ke sekolah. Letak rumah yang sangat jauh dari rumah teman-temanku, membuatku selalu bersama mama ke sekolah. Aku lupa apa saja yang sering aku ceritakan bersama mama saat ke sekolah. Sungguh, 30 Oktober 9 tahun yang lalu adalah kisah perih dibalik tawaku di 30 oktober saat ini.

   Aku tidak melupakan mama, dengan semua cerita masa kecilku bersamanya. Tetapi aku melupakan semua kenanganku bersama mama, karena kenangan itulah yang membuatku menjadi gadis yang sangat manja hingga saat ini.
   9 tahun bukan waktu yang sangat mudah untukku menulis semua cerita tentang hidupku tanpa mama. Aku hidup dalam ketidaksempurnaan akan kasih sayang. Namun aku sadar, arti dari setiap tanggal 30 Oktober di setiap tahun yang Tuhan berikan kepadaku selama ini. Aku hidup tanpa melihat, mendengar suara mama. Tetapi aku selalu bisa melewati semua itu, karena kehangatan kasih sayang mama dalam diri berbeda meski tak sama.

   30 oktober adalah, hari paling bersejarah setiap tahunnya. Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk mengenang terahkir kali aku melihat mama. Tuhan masih mengizinkanku menulis tentang mama, meski aku tak bisa menulis segala yang telah mama berikan padaku. Perjuangannya menggendongku sejauh 1 km saat aku kelas 5 SD, pengorbanannya saat aku sakit dan kesabaran atas semua kenakalan masa kecilku.

   Aku pernah bermimpi. Jika mama masih ada. Ia akan melihatku menjadi seorang mahasiswi. Ia melihat putri bungsunya, yang bukan lagi gadis kecil yang nakal yang sering pergi saat ia memaksaku untuk tidur siang. Dalam mimpiku, mama sudah semakin tua, karena umurku bertambah. Aku melihat mama tersenyum bangga, karena aku telah menjadi seorang gadis dewasa, yang memiliki wajah yang mirip dengannya. Mama juga akan bangga, karena aku bukan gadis kecil yang sering di bully kedua kakakku.

   30 oktober.... aku menangis merindukan mama, aku menangis ingin pulang. Pulang melihat makam mama. Melihat nisan yang diatasnya tertulis nama mama. Aku menangis merindukan makam yang sering aku tiduri saat aku merindukan mama. Merindukan makam, yang penuh dengan lilin saat matahari kembali ke ufuk barat.
     30 oktober..... yang kedua dalam perjalanan hidupku mengenang mama, tanpa melihat nisan indah itu. Aku memandang langit yang tak pernah berubah mamandangku. Sedikit berbisik padanya, aku merindukan mama. Jika kau dekat dengannya, katakan padanya langit, aku mendoakan mama saat ini. Aku mendoakannya untuk tetap berada disampingku langit.

30 oktober, akan penuh dengan cerita setiap tahunnya.