Chandra
Kepergiannya menjadi inspirasi
saya menulis narasi ini. Putih abu-abu. Masa yang menurut teman-teman saya saat
ini, masa yang paling ingin mereka lalui dua kali lagi dalam hidup mereka. Yang
tentunya dengan usia yang masih sama.
Masa putih abu-abu menurut saya
adalah sebuah masa yang memiliki cerita
yang paling unik dari semua masa yang telah saya lalui sejauh ini. SD, SMP
bahkan Perguruan Tinggi memiliki cerita yang tak seunik masa SMA.
Namanya Chandra. Saya mengenal sosok ini awal
sejak saya duduk di bangku SMA. Awal saya mengetahui namanya, saat ia meminjam
penggaris. Ia bukan sosok yang begitu saya suka awalnya, karena saya harus
meminta sendiri penggaris yang ia pinjam.
Chandra tak hanya menjadi teman
kelas saya saat kelas X. Naik ke kelas XI dan kelas XII, ternyata kami masih sekelas
karena berada di kelas yang sama. Kelas Bahasa.
Seakan dibisik angin malam. Sejenak saya
berhenti berpikir, memandang cemburu ke arah langit malam. Secepat itukah waktu
berlalu? Hingga saya hanya bisa mengenang mereka dalam bayangan yang tak
sesempurna realita lagi. Dan tersenyum simpul, memandang seorang pemuda tampan
berbalut kain putih yang sedang dipeluk malaikat bersayap.
Situasi kelas yang sangat
seru. Gaduh. Teman kelas yang punya sejuta tingkah konyol, unik
dan menyakitkan ada di kelas kami. Bahkan gurupun harus mengelus dada melihat
keseruan dan kekonyolan yang berujung dengan sanksi. Ya menyakitkan buat saya,
karena saya pernah kumat karena kekonyoloan itu.
Masih sangat bekas diingatan
saya. Teman-teman kelas, yang saat ini berbeda kota dari kota dingin yang saya
tempati saya ini. Ya,,,, kami dipertemukan karena cita-cita, berjuang bersama
untuk cita-cita, berpisah demi cita-cita.
Okey, saya akan menulis nama
mereka. Mulai dari ketua kelas,
Rober Manggur yang sekarang hidupnya sangat sukses. Fotonya di facebook selalu
memakai kemeja, ia ketua kelas yang menurut saya paling bijak dalam setiap
keputusannya. Ada juga Ano Apriano. Hmmm Ano adalah sosok yang menurut saya
sangat kalem, tetapi kalau sedang curhat mengenai masalah hati, kalemnya
hilang. Tian Saputra, yang ini sering disapa “nara” oleh Trina Huni. Tian, ia
pintar, lucu dan kritis. Aldo Aldino hmmm yang ini saya bingung, karena sering
disapa “bulat”. Menurut Atik, sapaan ini karena bentuk kepalanya. Hehehe ...
Aldo sosok yang ramah. Rivan, saya
sering menyapanya Ipang. Punya sapaan sayang untuk saya, Neta, Yani Parungato “ rigit atau rebus”. Menurutnya kami bertiga memiliki rambut yang unik, karena
sangat bergelombang. Ada juga Fian, gosip terahkir yang saya dengar tentang
Fian, dia adalah mantan Yani Parungato,,,hahaha.... Hendro sekarang frater, dan
Fridus. Mereka bertiga adalah laki-laki di kelas yang paling diam. Akan
berbicara kalau mereka benar-benar berada didekat pembicara. Sisko, ini yang
suka curhat. Sukanya duduk paling belakang. Yano,Chiril, dan Edo, mereka
bertiga paling suka duduknya dekat Cici, Nita, dan Elvi. Alasannya sekelas
tahu, karena Cici suka membawa kue. Ya mengertilah apa yang mereka inginkan
kalau duduknya dekat Cici. Dan ada juga Kristo. Hmm yang ini teman kelas yang
aktif di kelas yang sangat sibuk mengurus absen bersama Rober.
Kalau tadi teman saya yang laki-laki, hmm yang
sekarang perempuan. Deretan wanita di kelas saya adalah wanita yang punya
seribu satu keunikan. Kami punya sejuta cerita yang tidak bisa ditulis dalam
waktu sehari. Iya, kalau para lelaki sukanya bolos, hmm kami juga bisa?
Kenapa tidak? Kelas kami sangat kompak. Kompaknya dalam segala hal. Tetapi kami
tetap saling mendukung.
Eits... saya mulai dari Yani Adin, yang
duduknya paling depan saat kelas XII.
Hmmm Yani... sosok yang seru kalau diajak ngobrol. Ada juga Elfi, yang
paling lembut. Lusy dan Atik.. hmm satu
sekolah tahu, bakat mereka dibidang tari menjadikan mereka sosok yang mudah
dikenal banyak orang. Ada juga Yani Parungato dan Icha Saham, yang duduknya
tepat di depan meja saya dan Neta. Hmm mereka berdua bukan orang yang mudah
diajak ngobrol saat guru ada. Ya biasanya
saat mata pelajaran yang membosankan, semua akan punya kesibukan. Dan
kesibukan saya adalah, mengajak dua orang itu ngobrol. Lalu, si kembar Nastri dan Astri yang sampai
saat ini belum bisa saya bedakan. Sangat identik. Duduknya selalu dekat Elsi yang sering disapa Bule
karena paling putih, dan Dela. Keempat wanita ini duduknya tidak pernah pisah.
Paling heboh kalau masuk kelas. Ya,,, karena salah satunya pasti ada yang
terlambat setiap hari. Ada juga teman asrama saya Trina Huni, yang duduknya
dekat Lia si cantik dari Reo, An yang paling imut dan lucu. , dan Yolan hmm
yang ini kalau sedang marah, bagai harimau kelaparan. Duduknya paling dekat
meja guru. Dari keempat wanita ini, yang paling suka teriak adalah Lia. Yang
duduknya paling belakang. Hmm ini wanita yang ngakunya bfp( best friend forever) yang salah satunya,
Nadia pernah kerasukan. Mereka Nadia,
Yuni, Asri. Dan yang terahkir Cici, Elvi, Nita...duduknya paling belakang. Dan
saya akui tiga wanita ini sangat pintar. Eits ini bukan yang terahkir, ada
Neta, teman da juga sahabat saya yang super sabar menghadapi saya. Saya hampir
lupa. Hmm Ermin Koresi. Saya lupa, karena jarang sekali masuk kelas. Mungkin
karena kesibukannya. Ada juga Ris Anus, anggota dari bfp juga yang paling suka
menawarkan jajan.
Sejenak saya berhenti menulis. Kembali menatap
kearah langit biru. Saya tidak
melupakannya, Chandra. Teman dan sahabat yang saat ini saya pandangi. Ia sosok
yang sangat cerdas, dan inspirastif. Menulis tentangnya bukan hal yang mudah,
karena saya harus kembali ke beberapa bulan yang lalu saat membuka pesan di
pagi hari , dan mendapat kabar“ Chandra
Pax” sudah meninggal. Bagai di
tampar seribu tangan, mata terbelalak. Bibir bergerak tak jelas apa yang saya
katakan. Chandra?? Saya tidak sedang
mimpi. Ia Chandra. Teman kelas saya yang memilih Makasar sebagai tempatnya
melanjutkan studynya. Saya membuka facebook, melihat begitu banyak orang yang
menulis RIP Chandra. Chandra? Lagi-lagi saya memanggil namanya getir dalam
hati. Tuhan, Kau sudah menjemputnya? Tapi kenapa secepat itu? Kenapa tidak
nanti saja Tuhan? Saat kami kembali dengan senyum yang sama. Senyum kesuksesan. Tetapi Tuhan lebih mencintai Chandra.
Untuk kesekian kalinya saya menghapus airmata
dan kembali menulis. Saya tidak tahu, kapan terahkir saya mengabari lelaki
hebat itu.
Kembali ke masa indah putih
abu-abu, mengenang saat mereka meminta untuk melemparkan tas karena mereka akan
bolos. Mengenang saat ia diusir dari kelas, karena guru sastra sedang membaca
puisi ia mengiringnya dengan siulan yang menurut saya sangat indah. Merindukan
Chandra yang sering terlambat. Chandra yang pandai berbahasa Inggris, merindukan
Chandra yang suka memasukan tangan di dalam saku celananya saat sedang
berbicara. Chandra yang pernah mengikuti lomba bahasa Inggris antar kelas.
Chandra yang pernah berdebat dengan guru bahasa Inggris. Chandra yang pernah
menari di tengah lapang sekolah karena mabuk, Chandra yang suka bolos. Chandra
yang pernah mencerita bahwa pacarnya yang salah satu teman asrama saya
selingkuh, dan selingkuhan pacarnya melabrakanya. Chandra yang kalau pulang
sekolah sering memanggil saya, Chandra yang pernah bersekolah di sekolah Misi meski hanya satu
semester, Chandra yang duduknya paling belakang. Chandra yang sangat menyayangi teman-temannya,
Chandra... iyaa Chandra saya kehabisan cara untuk mengingat semua tentangnya.
Terlalu banyak.
Chan......ia kamu Chan. Kamu sekarang dimana?
Saya disini.
Dimana Chan?
Disini.
Dimana?
Saya disini
Tetapi saya tidak lihat.
Ia....kamu tidak bisa lihat
saya. Saya ditempat dimana hanya saya yang bisa lihat kamu.
Tetapi kenapa begitu?
Karena hanya Tuhan yang tahu.
Jangan banyak mengeluh, kenapa begitu. Saya lebih bahagia disini.
Tetapi kami mau bertemu dan liat Chand!
Tempat dan dunia
kita sudah berbeda. Saatnya akan tiba, kita akan bertemu dan saling memandang.
Tetapi bukan sekarang
Chan.....Chann...Chand........
Bahagia di Surga
Chandra. Terimakasih karena kita sudah saling mengenal. Kami akan selalu
merindukanmu Chand.