Selasa, 17 November 2015

Chandra



Chandra

Kepergiannya menjadi inspirasi saya menulis narasi ini. Putih abu-abu. Masa yang menurut teman-teman saya saat ini, masa yang paling ingin mereka lalui dua kali lagi dalam hidup mereka. Yang tentunya dengan usia yang masih sama.
Masa putih abu-abu menurut saya adalah  sebuah masa yang memiliki cerita yang paling unik dari semua masa yang telah saya lalui sejauh ini. SD, SMP bahkan Perguruan Tinggi memiliki cerita yang tak seunik masa SMA.
 Namanya Chandra. Saya mengenal sosok ini awal sejak saya duduk di bangku SMA. Awal saya mengetahui namanya, saat ia meminjam penggaris. Ia bukan sosok yang begitu saya suka awalnya, karena saya harus meminta sendiri penggaris yang ia pinjam.
Chandra tak hanya menjadi teman kelas saya saat kelas X. Naik ke kelas XI dan kelas XII, ternyata kami masih sekelas karena berada di kelas yang sama. Kelas Bahasa.
            Seakan dibisik angin malam. Sejenak saya berhenti berpikir, memandang cemburu ke arah langit malam. Secepat itukah waktu berlalu? Hingga saya hanya bisa mengenang mereka dalam bayangan yang tak sesempurna realita lagi. Dan tersenyum simpul, memandang seorang pemuda tampan berbalut kain putih yang sedang dipeluk malaikat bersayap.
Situasi kelas yang sangat seru.  Gaduh. Teman  kelas yang punya sejuta tingkah konyol, unik dan menyakitkan ada di kelas kami. Bahkan gurupun harus mengelus dada melihat keseruan dan kekonyolan yang berujung dengan sanksi. Ya menyakitkan buat saya, karena saya pernah kumat karena kekonyoloan itu.
Masih sangat bekas diingatan saya. Teman-teman kelas, yang saat ini berbeda kota dari kota dingin yang saya tempati saya ini. Ya,,,, kami dipertemukan karena cita-cita, berjuang bersama untuk cita-cita, berpisah demi cita-cita.
Okey, saya akan menulis nama mereka.  Mulai dari ketua kelas,  Rober Manggur yang sekarang hidupnya sangat sukses. Fotonya di facebook selalu memakai kemeja, ia ketua kelas yang menurut saya paling bijak dalam setiap keputusannya. Ada juga Ano Apriano. Hmmm Ano adalah sosok yang menurut saya sangat kalem, tetapi kalau sedang curhat mengenai masalah hati, kalemnya hilang. Tian Saputra, yang ini sering disapa “nara” oleh Trina Huni. Tian, ia pintar, lucu dan kritis. Aldo Aldino hmmm yang ini saya bingung, karena sering disapa “bulat”. Menurut Atik, sapaan ini karena bentuk kepalanya. Hehehe ... Aldo sosok yang ramah.  Rivan, saya sering menyapanya Ipang. Punya sapaan sayang untuk saya, Neta, Yani Parungato “ rigit atau rebus”.  Menurutnya  kami bertiga memiliki rambut yang unik, karena sangat bergelombang. Ada juga Fian, gosip terahkir yang saya dengar tentang Fian, dia adalah mantan Yani Parungato,,,hahaha.... Hendro sekarang frater, dan Fridus. Mereka bertiga adalah laki-laki di kelas yang paling diam. Akan berbicara kalau mereka benar-benar berada didekat pembicara. Sisko, ini yang suka curhat. Sukanya duduk paling belakang. Yano,Chiril, dan Edo, mereka bertiga paling suka duduknya dekat Cici, Nita, dan Elvi. Alasannya sekelas tahu, karena Cici suka membawa kue. Ya mengertilah apa yang mereka inginkan kalau duduknya dekat Cici. Dan ada juga Kristo. Hmm yang ini teman kelas yang aktif di kelas yang sangat sibuk mengurus absen bersama Rober.
 Kalau tadi teman saya yang laki-laki, hmm yang sekarang perempuan. Deretan wanita di kelas saya adalah wanita yang punya seribu satu keunikan. Kami punya sejuta cerita yang tidak bisa ditulis dalam waktu sehari. Iya, kalau para lelaki sukanya bolos, hmm kami juga bisa? Kenapa tidak? Kelas kami sangat kompak. Kompaknya dalam segala hal. Tetapi kami tetap saling mendukung.
 Eits... saya mulai dari Yani Adin, yang duduknya paling depan saat kelas XII.  Hmmm Yani... sosok yang seru kalau diajak ngobrol. Ada juga Elfi, yang paling lembut.  Lusy dan Atik.. hmm satu sekolah tahu, bakat mereka dibidang tari menjadikan mereka sosok yang mudah dikenal banyak orang. Ada juga Yani Parungato dan Icha Saham, yang duduknya tepat di depan meja saya dan Neta. Hmm mereka berdua bukan orang yang mudah diajak ngobrol saat guru ada. Ya biasanya  saat mata pelajaran yang membosankan, semua akan punya kesibukan. Dan kesibukan saya adalah, mengajak dua orang itu ngobrol.  Lalu, si kembar Nastri dan Astri yang sampai saat ini belum bisa saya bedakan. Sangat identik. Duduknya  selalu dekat Elsi yang sering disapa Bule karena paling putih, dan Dela. Keempat wanita ini duduknya tidak pernah pisah. Paling heboh kalau masuk kelas. Ya,,, karena salah satunya pasti ada yang terlambat setiap hari. Ada juga teman asrama saya Trina Huni, yang duduknya dekat Lia si cantik dari Reo, An yang paling imut dan lucu. , dan Yolan hmm yang ini kalau sedang marah, bagai harimau kelaparan. Duduknya paling dekat meja guru. Dari keempat wanita ini, yang paling suka teriak adalah Lia. Yang duduknya paling belakang. Hmm ini wanita yang ngakunya bfp( best friend forever) yang salah satunya, Nadia pernah kerasukan.  Mereka Nadia, Yuni, Asri. Dan yang terahkir Cici, Elvi, Nita...duduknya paling belakang. Dan saya akui tiga wanita ini sangat pintar. Eits ini bukan yang terahkir, ada Neta, teman da juga sahabat saya yang super sabar menghadapi saya. Saya hampir lupa. Hmm Ermin Koresi. Saya lupa, karena jarang sekali masuk kelas. Mungkin karena kesibukannya. Ada juga Ris Anus, anggota dari bfp juga yang paling suka menawarkan jajan.
 Sejenak saya berhenti menulis. Kembali menatap kearah langit biru.  Saya tidak melupakannya, Chandra. Teman dan sahabat yang saat ini saya pandangi. Ia sosok yang sangat cerdas, dan inspirastif.  Menulis tentangnya bukan hal yang mudah, karena saya harus kembali ke beberapa bulan yang lalu saat membuka pesan di pagi hari , dan mendapat kabar“ Chandra Pax” sudah meninggal.  Bagai di tampar seribu tangan, mata terbelalak. Bibir bergerak tak jelas apa yang saya katakan. Chandra??  Saya tidak sedang mimpi. Ia Chandra. Teman kelas saya yang memilih Makasar sebagai tempatnya melanjutkan studynya. Saya membuka facebook, melihat begitu banyak orang yang menulis RIP Chandra. Chandra? Lagi-lagi saya memanggil namanya getir dalam hati. Tuhan, Kau sudah menjemputnya? Tapi kenapa secepat itu? Kenapa tidak nanti saja Tuhan? Saat kami kembali dengan senyum yang sama. Senyum kesuksesan. Tetapi  Tuhan lebih mencintai Chandra.
 Untuk kesekian kalinya saya menghapus airmata dan kembali menulis. Saya tidak tahu, kapan terahkir saya mengabari lelaki hebat itu.
Kembali ke masa indah putih abu-abu, mengenang saat mereka meminta untuk melemparkan tas karena mereka akan bolos. Mengenang saat ia diusir dari kelas, karena guru sastra sedang membaca puisi ia mengiringnya dengan siulan yang menurut saya sangat indah. Merindukan Chandra yang sering terlambat. Chandra yang  pandai berbahasa Inggris, merindukan Chandra yang suka memasukan tangan di dalam saku celananya saat sedang berbicara. Chandra yang pernah mengikuti lomba bahasa Inggris antar kelas. Chandra yang pernah berdebat dengan guru bahasa Inggris. Chandra yang pernah menari di tengah lapang sekolah karena mabuk, Chandra yang suka bolos. Chandra yang pernah mencerita bahwa pacarnya yang salah satu teman asrama saya selingkuh, dan selingkuhan pacarnya melabrakanya. Chandra yang kalau pulang sekolah sering memanggil saya, Chandra yang pernah  bersekolah di sekolah Misi meski hanya satu semester, Chandra yang duduknya paling belakang.  Chandra yang sangat menyayangi teman-temannya, Chandra... iyaa Chandra saya kehabisan cara untuk mengingat semua tentangnya. Terlalu banyak.
 Chan......ia kamu Chan. Kamu sekarang dimana?
Saya disini.
Dimana Chan?
Disini.
Dimana?
Saya disini
Tetapi saya tidak lihat.
Ia....kamu tidak bisa lihat saya. Saya ditempat dimana hanya saya yang bisa lihat kamu.
Tetapi kenapa begitu?
Karena hanya Tuhan yang tahu. Jangan banyak mengeluh, kenapa begitu. Saya lebih bahagia disini.
Tetapi kami mau bertemu dan liat Chand!
Tempat dan dunia kita sudah berbeda. Saatnya akan tiba, kita akan bertemu dan saling memandang. Tetapi bukan sekarang
Chan.....Chann...Chand........


Bahagia di Surga Chandra. Terimakasih karena kita sudah saling mengenal. Kami akan selalu merindukanmu Chand.