Sorak Kebencian
Memandang seribu
satu duri dalam lapisan perisai emas
Aku terkapar
karena kemilau tak bernama
Sebuah sandiwara
yang dibaluti cerita nestapa tak berjudul
Aku tersenyum
sinis, menoreh harian konyol dan usang itu
Apa yang kau berikan padaku?
Sebuah luka berbekas tanpa penawar?
Ataukah sebuah kemegahan yang penuh
dengan sampah berbau dosa!!
Kau seolah bangga akan itu!
Aku membencimu
karena sisa cerita yang kau sisihkan untukku
Seolah kau
menulis namaku pada nisan tanpa makam
Aku selalu
didoakan
Sementara aku
masih bisa berjalan
Kau membuatku menempuh samudra tanpa
layar
Menyisakan kemegahan, sementara aku
miskin akan kasih
Menitipkanku pada neraka bernama
Yang membuatku menjadi ratu lucifer
Aku membencimu
Aku tak ingin
merindukanmu
Meski kadang aku
bersimpuh karena baktiku
Namun taukah
kau, betapa berat aku menjalani ini?
Pergilah kau sejauh yang kau titipkan
namamu pada nisan bertuliskan emas
Hingga sampai pada saat dimana aku
melupakanmu seutuhnya
Meski aku sering berbalik mencium
nisanmu
Jangan pernah menghalangi jalanku
karena bayangmu
Bila kita
dipertemukan dalam dunia yang sama nanti
Biarkan aku
melupakan siapa dirimu
Tersayat hatiku
karena luka yang tak memiliki penawar ini
Karena kata sang
pawang, aku baik-baik saja