Perbedaan
dalam Dunia yang Sama
Lahir
dan dibesarkan di desa terpencil merupakan sebuah rahmat yang berlimpah
untukku. Aku pernah mengeluh pada ibuku saatku kecil, mengapa setiap malam aku
harus menyalakan lampu minyak, mengapa aku harus membaca dalam keadaan remang
–remang, mengapa aku hanya bisa mendengar cerita film-film action. Mengapa dan
mengapa? Ibuku tidak menjawab, karena katanya suatu saat aku akan mengerti.
Usiaku
20 tahun. Dan aku bukan anak desa lagi yang menyalakan lampu minyak saat sore
hari, yang bermain di lapangan tanpa rumput di tengah perkampungan, yang harus
pulang untuk membantu ibu memetik sayur di sawah dekat rumahku. Sekarang
semuanya berbeda. Desaku bukanlah desa
terpencil, perjuangan dan usaha warga desaku untuk memilki penerangan yang
lebih layak telah terealisasi. Dan aku melihat wajah-wajah sumringah di wajah
adik kecilku yang saat seusianya aku masih membantu ibuku menyalakan lampu
minyak di sore hari. Tanpa televisi, tetapi radio dengan mendengar berita
favorit ayahku. Aku juga menyimak saat itu, berita yang lagi buming saat itu
adalah meletusnya perang Irak-Iran. Ayahku banyak menjawab pertanyaanku saat
itu. Dan hal itulah yang membuatku merasakan perbedaan pada adikku saat ini.
Menjadi
seorang mahasiswa membuatku menemukan jawaban atas pertanyaan yang pernah
membuat ibuku lelah. Aku menemukan semua itu, saat aku tinggal di kos-kosan
dengan fasilitas lengkap. Penerangan yang tidak membuatku harus mencari minyak,
televisi yang membuatku bisa secara langsung menyaksikan berita atau acara
tanpa pesan namun mengakui itu sebagai perwujudan ekstika yang menurutku hanya
menghabiskan uang, dinamo yang
membuatku tak perlu menimba air di sumur, dan semua yang tak bisa kuhitung.
Semuanya terasa menyenangkan, namun hal ini membuatku merasa asing. Karena
semua ini menjadikanku pribadi yang malas dan ingin semuanya serba jadi.
Liburan
panjang aku memutuskan untuk pulang. Ya aku merindukan desa kecilku yang banyak
mengajarkanku tentang arti kesederhanaan, dan juga perjuangan dan pengorbanan
yang sebenarnya. Yang aku yakin belum tersentuh oleh pengaruh-pengaruh buruk
yang aku rasakan saatku berada dikebisingan kota tempatku belajar.
Sebuah
kebanggaan saatku pulang di jemput keluargaku, meskipun aku belum menyelesaikan
semua yang harus kuselsaikan sebagai bentuk perjuanganku dan kewajibanku
membanggakan ayah dan ibuku. Dirumah, aku melihat perubahan yang membuat
leherku teras tercekik. Di ruang tamu sudah dihiasi oleh televisi, di kamarku
yang kini ditempati adikku ada dua hanphone mahal, di dapur penuh makanan
instan, dan lampu minyak yang dulu adalah sahabatku saat matahari tenggelam tak
tahu entah kemana.
Aku
merasa asing di rumahku sendiri. Saat malam ayah tak lagi sibuk mencari radio tuanya, tetapi
mencari remote tv yang disembunyikan adikku. Saat malam, adikku tak sibuk
mencari lampu minyak lagi, dan saat malam juga adikku tak sibuk mencari buku
untuk dipelajari untuk hari esok seperti yang sering aku lakukan dulu. Ia malah
sibuk memegang handphone yang harganya ratusan ribu. Sibuk mengoleksi foto-foto
idolanya, sibuk dengan semua aplikasi medsos yang aku sendiri bingung darimana
ia belajar hal-hal itu.
Saat
akan tidur, aku berpikir adikku ingin mendengarku menceritakan dongeng yang
sering ayah ceritakan padaku saat aku kecil. Adikku lebih suka menceritakan
tentang ia dan teman-teman kecilnya di sekolah, ia yang kemarin melabrak kakak
kelasnya, ia dan teman-temannya kemarin bolos dari sekolah. Sungguh adikku
berbeda. Ia tak ingin menjadi pendengar. Ia bukan anak kelas V yang aku rasakan
saat aku seusianya. Ia seolah menjelma bagai remaja SMA kelas XI yang harus
sering ke ruangan BK, ya aku mengerti itu karena usia dan faktor peralihan pada
usia yang harus diawasi
Sebuah kenyataan miris
yang tak pernah terlintas dibenakku. Adikku harus merasakan masa-masa ini
diusianya yang masih jauh dari pikirannya. Usia dimana ia harus bermain petak
umpet, usia ia berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu, usia dimana ia masih
polos dan takut akan guru.
Aku
menjadi bagian terkecil ataupun terbesar dengan keadaan miris yang sedang
dialami anak seusia adikku saat ini. Sajian berita yang ditonton bukan lagi
yang mendidik, tetapi yang mengarahkan mereka pada pemikiran dewasa yang
sebenarnya belum tepat diusia mereka. Kemajuan teknologi yang semakin modern, cara
berbicara yang ditiru dan semua hal yang terasa asing bagiku saat aku berada
diusia mereka semuanya layak menurut
mereka. Lalu siapakah yang harus disalahkan? Adikku? ayah dan ibuku? Ataukah
pemerintah?
Satu
minggu dengan situasi seperti itu dirumah, aku mengajak adikku ke sawah di
dekat rumahku. Aku dengan sabar mendengar ceritanya di sekolah. Dengan topik
yang sama, tema yang sama, argh...aku bosan sebenarnya, ya tapi begitulah
keadaannya. Aku mengajak adikku bermain lompat tali. Ia memandangku dengan
wajah polosnya, dan bertanya “ kak,
permainan seperti apa ini, di sekolah aku dan teman-teman tidak pernah bermain
seperti ini” saat istirahat di sekolah, aku dan teman selfie kak. Jadi gak ada
waktu untuk ini.
Aku
memandang pilu. Aku membayangkan seribu anak di negeriku yang bertanya seperti
ini dan memiliki kesibukkan seperti adikku. Aku mendekati adikku dan memegang
pundaknya “ dek, saat kakak seusiamu,
kakak tidak mengenal handphone, kakak tak punya genk di sekolah, dan satu hal
lagi kakak tak pernah bolos sekolah”
Adikku
semakin bingung dan memandangku heran “
kak, kakak harus nonton. Di tv seperti itu kak. Oh ya di tv juga anak sekolah
bolos. Mereka ada genk, kenapa tidak boleh? Ayah dan ibu juga menontonnya?
Sebuah
pertanyaan yang lebih sulit dari pertanyaan dosenku tentang marginalisasi atau
dehumanisasi. Adikku dengan kepolosannya menjawab pertanyaanku dengan santai.
Apa yang harus kujawab? Aku memeluknya menahan airmataku. Betapa mirisnya
Tuhan. Apa yang akan terjadi di generasi setelah adikku?
Aku tersenyum
memandangnya “ dek.... itu hanya
sandiwara. Seperti yang sering dek mainkan di sekolah. Atau yang sering disebut
drama. Itu hanya sesaat. Dan itu hanya bohongan semata. Dek belum pantas
menonton acara seperti itu.
Adikku
memandangku dengan wajah cemberut . Aku
mengerti betapa bingungnya ia memahami penjelasanku. Namun apa yang bisa
kulakukan. Aku tak bisa banyak berbicara seperti mereka yang menyuarakan
kesejahteraan rakyat tetapi sadar bahwa saat ini mental generasi mudanya sedang
di permainkan. Aku juga kecewa dengan orangtuaku yang membiarkan adikku sedini
mungkin menikmati sajian acara konyol seperti itu.
Yang
bisa kulakukan hanya mengisi liburanku dengan mengarahkan adikku dan semua anak
desa kembali ke masa-masa indah saat usiaku dulu, yang tak disentuh oleh apapun,
yang dengan bebas mengekspresikan diri sebagai anak-anak dengan dunianya
sendiri.