Minggu, 13 Maret 2016

Perbedaan dalam Dunia yang Sama



Perbedaan dalam Dunia yang Sama
Lahir dan dibesarkan di desa terpencil merupakan sebuah rahmat yang berlimpah untukku. Aku pernah mengeluh pada ibuku saatku kecil, mengapa setiap malam aku harus menyalakan lampu minyak, mengapa aku harus membaca dalam keadaan remang –remang, mengapa aku hanya bisa mendengar cerita film-film action. Mengapa dan mengapa? Ibuku tidak menjawab, karena katanya suatu saat aku akan mengerti.
            Usiaku 20 tahun. Dan aku bukan anak desa lagi yang menyalakan lampu minyak saat sore hari, yang bermain di lapangan tanpa rumput di tengah perkampungan, yang harus pulang untuk membantu ibu memetik sayur di sawah dekat rumahku. Sekarang semuanya berbeda.  Desaku bukanlah desa terpencil, perjuangan dan usaha warga desaku untuk memilki penerangan yang lebih layak telah terealisasi. Dan aku melihat wajah-wajah sumringah di wajah adik kecilku yang saat seusianya aku masih membantu ibuku menyalakan lampu minyak di sore hari. Tanpa televisi, tetapi radio dengan mendengar berita favorit ayahku. Aku juga menyimak saat itu, berita yang lagi buming saat itu adalah meletusnya perang Irak-Iran. Ayahku banyak menjawab pertanyaanku saat itu. Dan hal itulah yang membuatku merasakan perbedaan pada adikku saat ini.
            Menjadi seorang mahasiswa membuatku menemukan jawaban atas pertanyaan yang pernah membuat ibuku lelah. Aku menemukan semua itu, saat aku tinggal di kos-kosan dengan fasilitas lengkap. Penerangan yang tidak membuatku harus mencari minyak, televisi yang membuatku bisa secara langsung menyaksikan berita atau acara tanpa pesan namun mengakui itu sebagai perwujudan ekstika yang menurutku hanya menghabiskan uang, dinamo yang membuatku tak perlu menimba air di sumur, dan semua yang tak bisa kuhitung. Semuanya terasa menyenangkan, namun hal ini membuatku merasa asing. Karena semua ini menjadikanku pribadi yang malas dan ingin semuanya serba jadi.
            Liburan panjang aku memutuskan untuk pulang. Ya aku merindukan desa kecilku yang banyak mengajarkanku tentang arti kesederhanaan, dan juga perjuangan dan pengorbanan yang sebenarnya. Yang aku yakin belum tersentuh oleh pengaruh-pengaruh buruk yang aku rasakan saatku berada dikebisingan kota tempatku belajar.
            Sebuah kebanggaan saatku pulang di jemput keluargaku, meskipun aku belum menyelesaikan semua yang harus kuselsaikan sebagai bentuk perjuanganku dan kewajibanku membanggakan ayah dan ibuku. Dirumah, aku melihat perubahan yang membuat leherku teras tercekik. Di ruang tamu sudah dihiasi oleh televisi, di kamarku yang kini ditempati adikku ada dua hanphone mahal, di dapur penuh makanan instan, dan lampu minyak yang dulu adalah sahabatku saat matahari tenggelam tak tahu entah kemana.
            Aku merasa asing di rumahku sendiri. Saat malam ayah tak  lagi sibuk mencari radio tuanya, tetapi mencari remote tv yang disembunyikan adikku. Saat malam, adikku tak sibuk mencari lampu minyak lagi, dan saat malam juga adikku tak sibuk mencari buku untuk dipelajari untuk hari esok seperti yang sering aku lakukan dulu. Ia malah sibuk memegang handphone yang harganya ratusan ribu. Sibuk mengoleksi foto-foto idolanya, sibuk dengan semua aplikasi medsos yang aku sendiri bingung darimana ia belajar hal-hal itu.
            Saat akan tidur, aku berpikir adikku ingin mendengarku menceritakan dongeng yang sering ayah ceritakan padaku saat aku kecil. Adikku lebih suka menceritakan tentang ia dan teman-teman kecilnya di sekolah, ia yang kemarin melabrak kakak kelasnya, ia dan teman-temannya kemarin bolos dari sekolah. Sungguh adikku berbeda. Ia tak ingin menjadi pendengar. Ia bukan anak kelas V yang aku rasakan saat aku seusianya. Ia seolah menjelma bagai remaja SMA kelas XI yang harus sering ke ruangan BK, ya aku mengerti itu karena usia dan faktor peralihan pada usia yang harus diawasi
Sebuah kenyataan miris yang tak pernah terlintas dibenakku. Adikku harus merasakan masa-masa ini diusianya yang masih jauh dari pikirannya. Usia dimana ia harus bermain petak umpet, usia ia berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu, usia dimana ia masih polos dan takut akan guru.
            Aku menjadi bagian terkecil ataupun terbesar dengan keadaan miris yang sedang dialami anak seusia adikku saat ini. Sajian berita yang ditonton bukan lagi yang mendidik, tetapi yang mengarahkan mereka pada pemikiran dewasa yang sebenarnya belum tepat diusia mereka.  Kemajuan teknologi yang semakin modern, cara berbicara yang ditiru dan semua hal yang terasa asing bagiku saat aku berada diusia mereka  semuanya layak menurut mereka. Lalu siapakah yang harus disalahkan? Adikku? ayah dan ibuku? Ataukah pemerintah?
            Satu minggu dengan situasi seperti itu dirumah, aku mengajak adikku ke sawah di dekat rumahku. Aku dengan sabar mendengar ceritanya di sekolah. Dengan topik yang sama, tema yang sama, argh...aku bosan sebenarnya, ya tapi begitulah keadaannya. Aku mengajak adikku bermain lompat tali. Ia memandangku dengan wajah polosnya, dan bertanya “ kak, permainan seperti apa ini, di sekolah aku dan teman-teman tidak pernah bermain seperti ini” saat istirahat di sekolah, aku dan teman selfie kak. Jadi gak ada waktu untuk ini.
            Aku memandang pilu. Aku membayangkan seribu anak di negeriku yang bertanya seperti ini dan memiliki kesibukkan seperti adikku. Aku mendekati adikku dan memegang pundaknya “ dek, saat kakak seusiamu, kakak tidak mengenal handphone, kakak tak punya genk di sekolah, dan satu hal lagi kakak tak pernah bolos sekolah”
            Adikku semakin bingung dan memandangku heran “ kak, kakak harus nonton. Di tv seperti itu kak. Oh ya di tv juga anak sekolah bolos. Mereka ada genk, kenapa tidak boleh? Ayah dan ibu juga menontonnya?
            Sebuah pertanyaan yang lebih sulit dari pertanyaan dosenku tentang marginalisasi atau dehumanisasi. Adikku dengan kepolosannya menjawab pertanyaanku dengan santai. Apa yang harus kujawab? Aku memeluknya menahan airmataku. Betapa mirisnya Tuhan. Apa yang akan terjadi di generasi setelah adikku?
Aku tersenyum memandangnya “ dek.... itu hanya sandiwara. Seperti yang sering dek mainkan di sekolah. Atau yang sering disebut drama. Itu hanya sesaat. Dan itu hanya bohongan semata. Dek belum pantas menonton acara seperti itu.
            Adikku memandangku dengan wajah cemberut .  Aku mengerti betapa bingungnya ia memahami penjelasanku. Namun apa yang bisa kulakukan. Aku tak bisa banyak berbicara seperti mereka yang menyuarakan kesejahteraan rakyat tetapi sadar bahwa saat ini mental generasi mudanya sedang di permainkan. Aku juga kecewa dengan orangtuaku yang membiarkan adikku sedini mungkin menikmati sajian acara konyol seperti itu.
            Yang bisa kulakukan hanya mengisi liburanku dengan mengarahkan adikku dan semua anak desa kembali ke masa-masa indah saat usiaku dulu, yang tak disentuh oleh apapun, yang dengan bebas mengekspresikan diri sebagai anak-anak dengan dunianya sendiri.

Kamis, 03 Maret 2016

ayah

Ayah
Ayah
kau adalah inspirasi dalam narasiku
yang takkan pernah habis dalam cerita seribu satu malam
yang takkan bisa kubukukan dalam buku sejarah berhalaman
yang tak bisa kutau berapa kata dalam kalimat yang bisa kutulis
karena cerita tentangmu adalah cerminan tentang hidupku
dalam kisah berbeda

Ayah
kau tak sekedar judul dan tema dalam sebuah cerita
yang bisa kutulis untuk menjawab pertanyaan bernilai di atas kertas putih
pertanyaan tentang tokoh dan tema dalam sebuah karya
karena kau melebihi karya yang kutulis ayah
kasihsayangmu tak mampu dibalas dalam sehelai berdurasi
kasihmu suci adanya