Mr. one mounth
Ketika cinta harus memilih, pasti akan ada yang tersakiti. Dalam setiap kisah dan cerita pasti akan ada airmata. Bagaikan air yang
mengalir, ingin rasanya cerita itu seperti air. Namun, kadang
yang terjadi air itu akan berhenti mengalir karena bendungan yang terpaksa dibuat. Begitu cerita itu akan berhenti, menyisakan kekeringan hati yang tak subur lagi, tanpa balutan kasih dan rasa cinta.
Cinta bagaikan pupuk diladang hati. Mencoba berpikir bahwa ia bukan yang terbaik,
menyiksaku dalam balutan luka yang dalam. Aku pernah berpikir, ia adalah lelaki misterius. Aku menjulukinya Mr. one
mounth.Aku mengenalnya baru sebulan, namun ia berhasil merebut hati dan jiwaku. Meski aku harus terluka
Rasa
ingin pergi itu ada, namun lagi-lagi hatiku tertinggal. Aku pernah mencoba melupakan dimana aku pernah meletakkan hatiku, namun batinku menjerit, bahkan jiwaku ikut meronta. Sering hatiku sakit, bahkan ia mengeluh padaku, ia tersiksa. Saat hati dan ragaku ingin pergi, jiwaku tetap ingin bertahan.
Aku ingin pergi, namun separuh hidupku tetap disana. Mr.one mounth menggenggam tanganku. Aku sadar, ia tidak mencintaiku, Ia sedang terluka. Hati dan cintanya tak bisa menyatu.
Miris hati dan jiwaku. Aku hanya berharap ia bahagia di setiap titik air mataku, dan tersenyum disetiap jeritan hatiku. Aku menangis bukan karena gagal memilikinya, tetapi terlambat mencintainya. Ia memilihku saat hatinya tlah digenggam pemilik yang lain, ia mencintaiku bukan karena ketulusan, tetapi karena kesepian, ia memberikan kebahagian bukan karena ketulusan tetapi karena keadaan, ia meninggalkanku tanpa cinta, karena ia tahu aku bukanlah pilihannya.
Kini aku menapaki jalan yang berliku, aku,
hati dan jiwaku telah ia berikan kembali. Aku kembali, kembali menjadi diriku sendiri .Aku ingin terlahir kembali sebagai gadis kecil yang akan selalu tersenyum. Aku bodoh mengenangnya, aku bodoh bercerita tentangnya. Ia adalah bagian teramat rumit dalam hidupku, ceritanya memiliki begitu banyak peran, aku tak tahu siapa pemeran utama dalam hidupnya, karena ia melakoni begitu banyak peran.
Aku ingin menutup mataku, dan suatu saat nanti aku akan membuka mataku untuk melihat ia telah bahagia bersama ceritanya, dan aku akan tersenyum, Karena aku akan berdiri bersama tokoh protagonis dalam hidupku, yang
menjadikan aku tujuan hidupnya. Dan pada ahkirnya aku mengerti cinta tak harus memiliki.
By; yohanabombol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar