Kamis, 24 Desember 2015

Natal



Natal
Natal.... ia hari ini hari raya Natal. Hari yang dinantikan umat Kristiani di seluruh dunia. Hari dimana semua insan saling berjabat tangan, menyampaikan permohonan maaf lahir batin, mewartakan sukacita kelahiran Kristus.
 Hari ini, aku harus bangun di waktu yang tidak biasanya. Saat hendak sarapan, aku harus  bingung melihat kalender dekat meja belajarku... hah?????? Hari tanggal 24? Dan malam nanti?? Oh Tuhan, aku sudah janji untuk merayakan Natal di Blitar bersama saudara mama. Oh Tuhan!!! Aku hanya bisa memandang konyol ke arah salib tempat aku bersimpuh setiap harinya bersama Yesus Kekasih Jiwaku. Yesus?? Aku tersenyum konyol.....
Aku segera mandi secepat mungkin, dan harus bergegas ke stasiun kareta. Dan sepertinya, untuk kedua kalinya aku harus merayakan Natal di tempat ini. Tanpa keluarga, tanpa sahabat dan tanpa mama atau juga papa. Tiket ke Blitar habis 10 menit yang lalu.. ya 10 menit yang lalu, aku baru berangkat dari kos menuju stasiun.  
 Aku pulang dengan harapan kosong. Tanpa kusadari handphoneku berbunyi. Ia mereka menelponku “ kamu dimana? udah di stasiun kan?
Aku tersenyum. “ maaf tante, nanti liburan ya aku ke Blitar. Tiketnya habis” jawabku singkat.
 Di kos semua sibuk dengan topiknya masing-masing, ya ada yang mengeluh karena hujan, ada yang bingung mau pake gaun apa malam nantin ada juga yang kecewa lantaran gaunnya belum kering karena sekarang musim hujan.
Hmmm aku memilih untuk merespin keluhan mereka dengan senyum.  Aku membeli  kopi dan menikamatinya di kamar, sambil menulis narasi ini. Diiringi lagu Nike Ardila. Ya....buat kalian ini konyol, aku tak ingin mendengarkan lagu Natal. Biarkan aku mendengarnya saat di gereja nanti.
 Natal...... ini bukan yang pertama kalinya aku merayakan Natal sendiri. Aku bahkan lupa  terahkir aku Natal bersama papa, mama, dan kedua kakakku.  Kali ini, aku harus mematikan lampu kamarku, karena aku tak ingin teman-temanku melihat kesedihanku, dan terganggu dengan kebisingan mereka.
 Dua jam lagi Yesus. Aku ke RumahMu menyambut kelahiranMu. Ini bukan pertama, kedua, atau ketiga kalinya. Tetapi ini yang kesekian yang tak bisa aku hitung. Aku egois jika aku mengeluh Yesus. Tetapi, aku sama seperti yang lain yang merindukan Natal bersama keluarganya. Aku merindukan papa....mama.... aku merindukan mereka Yesus, bahkan aku hanya ingin mengucapkan selamat Natal diatas nisan mereka. Aku menghiasi makam mereka, aku menyalakan lilin, aku berdoa, aku mencium nisan mereka, dan aku ke gereja. Di gereja aku bahagia Yesus, karena saat aku merayakan kelahiranMu, aku melihat papa dan mama di dekat altar. Mereka memakai baju putih dan tersenyum padaku.
 Aku tak bisa menahan airmataku saat ini. Aku jujur padamu kawan. Aku merindukan mama dan papa.  Aku merindukan mereka lebih dari sekedar yang kutulis saat ini. Natal.....bahkan saat usiaku 13 tahun, aku tak pernah menghargai Natal yang sesungguhnya, karena aku sibuk menangis merindukan mama. Saat itu, aku masih merayakan Natal bersama papa.
  Aku manarik nafas. Kenapa sesakit ini? Sakittt Yesus.. dan untuk selamanya aku seperti ini.
 Argh.... aku menghapus airmataku. Aku terlalu banyak berceloteh. Saat pengakuan aku banyak bercerita pada Yesus. Tentang kesibukanku, tentang salahku dan memohon pengampunan agar hatiku pantas menyambutNya malam nanti.
Aku merasa kelegaan saat itu tanpa menangis seperti ini. Kenapa sekarang aku harus menangis??
 Aku sadar Yesus. Aku bukan wanita perkasa Yesus yang sekuat saat aku banyak berbicara. Yang kuat saat teman-temanku memanggilku wanita perkasa karena aku memiliki suara yang paling keras saat berbicara, yang kuat menggayuh sepeda, yang kuat menggendong sahabatku saat pingsan. Dibalik semua itu aku lemah Yesus. Aku sama seperti yang lain yang menangis saat jatah bulanannya terlambat dikirim. Aku menangis melebihi itu Yesus. Aku menangis karena kesepian, kekosongan saat aku di kelilingi keramaian. Aku kesepian Yesus. Aku merindukan mama.....papa saat ini. Aku ingin menelpon mereka sama seperti yang lain Yesus, sekedar mengucapkan “ selamat Natal mama... selamat Natal papa”.
 Aku berhenti mengetik sebentar. Tisuku sepertinya habis. Hah!!! Aku barus sadar. Aku harus mandi. Sebentar lagi aku harus ke Rumah Tuhan.  Aku sudah berjanji untuk tidak menangis saat menulis apapun tentang mama dan papa.
Aku tersenyum untuk menutup ceritaku saat kembali memandang Yesus di sampingku. Aku lemah karena aku manusia biasa. Namun, hatiku mantap menyambutMu malam ini Yesus. Izinkan aku lahir kembali bersamaMu untuk menjadi sosok yang kuat dan tegar yang bisa membawa damai bagi orang lain.
  Kawan...sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambutNya?
Selamat merayakan Natal. Jadilah pembawa damai....  

Selasa, 22 Desember 2015

membuka malam



Membuka Malam
            Banyak orang bertanya tentang arti semua warna. Warna menjadi gambaran dan   tolak ukur seseorang untuk berpikir tentang diri orang lain.  Malam. Kegelapan. Warna hitam. Menjadikan malam sebagai sebuah cerita gelap, tanpa menginginkan lebih tentang sebuah cerita yang terukir dalam kegelapan itu sendiri.                                                                                                                                 
 Malam  menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah. Meskipun kadang karena kegelapannya dilupakan dengan pejaman mata berdurasi. Dan cerita tentang malam berubah tanpa alasam. Namun sang malam selalu menceraikan diri dari sang fajar. Memaksa untuk diam dalam kelam dan sunyinya malam. Setiap peristiwa akan lenyap saat malam tiba. Sebuah kisah yang harus diungkapkan, seolah hilang saat malam tiba. Karena malam, semua orang akan menutup mata dan melupakan setiap peristiwa yang terjadi.                                                                                                                                                      Prostitusi.  Sebuah cerita yang harus diperankan tokoh yang tragis tentang arti sebuah diri. Pria berhidung belang berkeliaran, dan para pekerja seolah menikmati. Malam yang tak mampu berbicara karena kegelapannya, menjadi saksi bisu. Arti sebuah diri seakan bisa ditawar oleh selembar yang membuat seribu mata berubah menjadi hijau. Tawar menawar terjadi, demi kenikmatan sesaat. Dan lagi-lagi malam menjadi saksi.
            Malam yang gelap, malam yang pekat, seakan tak ada dinding yang berlubang, yang memberi sedikit ruang kecil untuk menembus sedikit cahaya dalam kegelapan itu. Setiap diri memiliki tarif, seolah harga diri bisa ditawarkan. Kenikmatan melupakan segalanya, dan uang menjadi alasan melupakan kenikmatan. Kenikmatan dalam kegelapan, yang dihiasi oleh lembar-lembar hina, seolah tak ada cara lain mendapatkannya. Malam lagi-lagi menjadi saksi, kegersangan iman.
            Membuka malam, membuka kepedihan tentang cerita gelap. Malam menjadi sunyi senyap, dihiasi desahan beralasan. Malam tak mampu bicara, ditutup oleh seribu alasan. Semua telah dilakukan untuk memecahkan kelam dan gelapnya malam. Mencoba menyadarkan sikap dan cara berpikir setiap insan yang menikmati. Dengan peraturan yang berlaku, mencoba menyadarkan mereka tentang arti sebuah diri, dan bahaya prostitusi. Miris, prostitusi malah terjadi dikalangan pelajar yang menjadi tombak perjuangan bangsa. Harga diri diperjualbelikan demi rupiah, lalu bagaimana dengan harga diri bangsa? Apakah akan juga?
            Aparat yang berdiri diatas Undang-undang mencoba menertibkan perdagangan haram dengan cara yang tegas. Dan dengan ini, kelam malam mampu dibuka untuk lebih memahami tentang arti sebuah diri. Sosok public figur seolah tidak memiliki mandat menjadi panutan. Saya mencoba membuka cerita tentang malam. Karena kepedihan hati saya melihat fakta yang berteriak dalam kegelapan oleh kaum yang tidak mampu menjadi sosok yang patut diteladani.
            Prostitusi. Menarik untuk dibicarakan, namun pedih bila dipahami. Desahan dalam kenikmatan dikatakan sebagai korban, dan penikmat bergelar menghilang bagai pembeli buah-buahan segar, yang sekali dibayar dinikmati lalu menghilang dalam kenikmatan dan vitamin dari buah tersebut, tangan siapa yang akan diikat besi? Bukankah saling menguntungkan? Bukankah semuanya menikmati kenikmatan dalam malam berdurasi?
            Dan menurut saya semuanya bersalah dan pantas dihukum. Dan semua tentang malam bisa dibuka, dengan sikap dan tindakan tegas. Karena arti sebuah diri diatas segalahnya.


Selasa, 17 November 2015

Chandra



Chandra

Kepergiannya menjadi inspirasi saya menulis narasi ini. Putih abu-abu. Masa yang menurut teman-teman saya saat ini, masa yang paling ingin mereka lalui dua kali lagi dalam hidup mereka. Yang tentunya dengan usia yang masih sama.
Masa putih abu-abu menurut saya adalah  sebuah masa yang memiliki cerita yang paling unik dari semua masa yang telah saya lalui sejauh ini. SD, SMP bahkan Perguruan Tinggi memiliki cerita yang tak seunik masa SMA.
 Namanya Chandra. Saya mengenal sosok ini awal sejak saya duduk di bangku SMA. Awal saya mengetahui namanya, saat ia meminjam penggaris. Ia bukan sosok yang begitu saya suka awalnya, karena saya harus meminta sendiri penggaris yang ia pinjam.
Chandra tak hanya menjadi teman kelas saya saat kelas X. Naik ke kelas XI dan kelas XII, ternyata kami masih sekelas karena berada di kelas yang sama. Kelas Bahasa.
            Seakan dibisik angin malam. Sejenak saya berhenti berpikir, memandang cemburu ke arah langit malam. Secepat itukah waktu berlalu? Hingga saya hanya bisa mengenang mereka dalam bayangan yang tak sesempurna realita lagi. Dan tersenyum simpul, memandang seorang pemuda tampan berbalut kain putih yang sedang dipeluk malaikat bersayap.
Situasi kelas yang sangat seru.  Gaduh. Teman  kelas yang punya sejuta tingkah konyol, unik dan menyakitkan ada di kelas kami. Bahkan gurupun harus mengelus dada melihat keseruan dan kekonyolan yang berujung dengan sanksi. Ya menyakitkan buat saya, karena saya pernah kumat karena kekonyoloan itu.
Masih sangat bekas diingatan saya. Teman-teman kelas, yang saat ini berbeda kota dari kota dingin yang saya tempati saya ini. Ya,,,, kami dipertemukan karena cita-cita, berjuang bersama untuk cita-cita, berpisah demi cita-cita.
Okey, saya akan menulis nama mereka.  Mulai dari ketua kelas,  Rober Manggur yang sekarang hidupnya sangat sukses. Fotonya di facebook selalu memakai kemeja, ia ketua kelas yang menurut saya paling bijak dalam setiap keputusannya. Ada juga Ano Apriano. Hmmm Ano adalah sosok yang menurut saya sangat kalem, tetapi kalau sedang curhat mengenai masalah hati, kalemnya hilang. Tian Saputra, yang ini sering disapa “nara” oleh Trina Huni. Tian, ia pintar, lucu dan kritis. Aldo Aldino hmmm yang ini saya bingung, karena sering disapa “bulat”. Menurut Atik, sapaan ini karena bentuk kepalanya. Hehehe ... Aldo sosok yang ramah.  Rivan, saya sering menyapanya Ipang. Punya sapaan sayang untuk saya, Neta, Yani Parungato “ rigit atau rebus”.  Menurutnya  kami bertiga memiliki rambut yang unik, karena sangat bergelombang. Ada juga Fian, gosip terahkir yang saya dengar tentang Fian, dia adalah mantan Yani Parungato,,,hahaha.... Hendro sekarang frater, dan Fridus. Mereka bertiga adalah laki-laki di kelas yang paling diam. Akan berbicara kalau mereka benar-benar berada didekat pembicara. Sisko, ini yang suka curhat. Sukanya duduk paling belakang. Yano,Chiril, dan Edo, mereka bertiga paling suka duduknya dekat Cici, Nita, dan Elvi. Alasannya sekelas tahu, karena Cici suka membawa kue. Ya mengertilah apa yang mereka inginkan kalau duduknya dekat Cici. Dan ada juga Kristo. Hmm yang ini teman kelas yang aktif di kelas yang sangat sibuk mengurus absen bersama Rober.
 Kalau tadi teman saya yang laki-laki, hmm yang sekarang perempuan. Deretan wanita di kelas saya adalah wanita yang punya seribu satu keunikan. Kami punya sejuta cerita yang tidak bisa ditulis dalam waktu sehari. Iya, kalau para lelaki sukanya bolos, hmm kami juga bisa? Kenapa tidak? Kelas kami sangat kompak. Kompaknya dalam segala hal. Tetapi kami tetap saling mendukung.
 Eits... saya mulai dari Yani Adin, yang duduknya paling depan saat kelas XII.  Hmmm Yani... sosok yang seru kalau diajak ngobrol. Ada juga Elfi, yang paling lembut.  Lusy dan Atik.. hmm satu sekolah tahu, bakat mereka dibidang tari menjadikan mereka sosok yang mudah dikenal banyak orang. Ada juga Yani Parungato dan Icha Saham, yang duduknya tepat di depan meja saya dan Neta. Hmm mereka berdua bukan orang yang mudah diajak ngobrol saat guru ada. Ya biasanya  saat mata pelajaran yang membosankan, semua akan punya kesibukan. Dan kesibukan saya adalah, mengajak dua orang itu ngobrol.  Lalu, si kembar Nastri dan Astri yang sampai saat ini belum bisa saya bedakan. Sangat identik. Duduknya  selalu dekat Elsi yang sering disapa Bule karena paling putih, dan Dela. Keempat wanita ini duduknya tidak pernah pisah. Paling heboh kalau masuk kelas. Ya,,, karena salah satunya pasti ada yang terlambat setiap hari. Ada juga teman asrama saya Trina Huni, yang duduknya dekat Lia si cantik dari Reo, An yang paling imut dan lucu. , dan Yolan hmm yang ini kalau sedang marah, bagai harimau kelaparan. Duduknya paling dekat meja guru. Dari keempat wanita ini, yang paling suka teriak adalah Lia. Yang duduknya paling belakang. Hmm ini wanita yang ngakunya bfp( best friend forever) yang salah satunya, Nadia pernah kerasukan.  Mereka Nadia, Yuni, Asri. Dan yang terahkir Cici, Elvi, Nita...duduknya paling belakang. Dan saya akui tiga wanita ini sangat pintar. Eits ini bukan yang terahkir, ada Neta, teman da juga sahabat saya yang super sabar menghadapi saya. Saya hampir lupa. Hmm Ermin Koresi. Saya lupa, karena jarang sekali masuk kelas. Mungkin karena kesibukannya. Ada juga Ris Anus, anggota dari bfp juga yang paling suka menawarkan jajan.
 Sejenak saya berhenti menulis. Kembali menatap kearah langit biru.  Saya tidak melupakannya, Chandra. Teman dan sahabat yang saat ini saya pandangi. Ia sosok yang sangat cerdas, dan inspirastif.  Menulis tentangnya bukan hal yang mudah, karena saya harus kembali ke beberapa bulan yang lalu saat membuka pesan di pagi hari , dan mendapat kabar“ Chandra Pax” sudah meninggal.  Bagai di tampar seribu tangan, mata terbelalak. Bibir bergerak tak jelas apa yang saya katakan. Chandra??  Saya tidak sedang mimpi. Ia Chandra. Teman kelas saya yang memilih Makasar sebagai tempatnya melanjutkan studynya. Saya membuka facebook, melihat begitu banyak orang yang menulis RIP Chandra. Chandra? Lagi-lagi saya memanggil namanya getir dalam hati. Tuhan, Kau sudah menjemputnya? Tapi kenapa secepat itu? Kenapa tidak nanti saja Tuhan? Saat kami kembali dengan senyum yang sama. Senyum kesuksesan. Tetapi  Tuhan lebih mencintai Chandra.
 Untuk kesekian kalinya saya menghapus airmata dan kembali menulis. Saya tidak tahu, kapan terahkir saya mengabari lelaki hebat itu.
Kembali ke masa indah putih abu-abu, mengenang saat mereka meminta untuk melemparkan tas karena mereka akan bolos. Mengenang saat ia diusir dari kelas, karena guru sastra sedang membaca puisi ia mengiringnya dengan siulan yang menurut saya sangat indah. Merindukan Chandra yang sering terlambat. Chandra yang  pandai berbahasa Inggris, merindukan Chandra yang suka memasukan tangan di dalam saku celananya saat sedang berbicara. Chandra yang pernah mengikuti lomba bahasa Inggris antar kelas. Chandra yang pernah berdebat dengan guru bahasa Inggris. Chandra yang pernah menari di tengah lapang sekolah karena mabuk, Chandra yang suka bolos. Chandra yang pernah mencerita bahwa pacarnya yang salah satu teman asrama saya selingkuh, dan selingkuhan pacarnya melabrakanya. Chandra yang kalau pulang sekolah sering memanggil saya, Chandra yang pernah  bersekolah di sekolah Misi meski hanya satu semester, Chandra yang duduknya paling belakang.  Chandra yang sangat menyayangi teman-temannya, Chandra... iyaa Chandra saya kehabisan cara untuk mengingat semua tentangnya. Terlalu banyak.
 Chan......ia kamu Chan. Kamu sekarang dimana?
Saya disini.
Dimana Chan?
Disini.
Dimana?
Saya disini
Tetapi saya tidak lihat.
Ia....kamu tidak bisa lihat saya. Saya ditempat dimana hanya saya yang bisa lihat kamu.
Tetapi kenapa begitu?
Karena hanya Tuhan yang tahu. Jangan banyak mengeluh, kenapa begitu. Saya lebih bahagia disini.
Tetapi kami mau bertemu dan liat Chand!
Tempat dan dunia kita sudah berbeda. Saatnya akan tiba, kita akan bertemu dan saling memandang. Tetapi bukan sekarang
Chan.....Chann...Chand........


Bahagia di Surga Chandra. Terimakasih karena kita sudah saling mengenal. Kami akan selalu merindukanmu Chand.



Kamis, 29 Oktober 2015

30 oktober

Tentang 30 Oktober

      Aku berhenti dari semua kesibukanku saat aku bangun di pagi hari pada tanggal 29 Oktober. Aku mencoba kembali ke 9 tahun yang lalu pada tanggal ini. Karena 29 Oktober saat itu adalah hari terahkirku bersama mama. Ia mama, yang kini bila aku mendengar namanya disebut selalu diawali kata “almarhumma”.

     Hari itulah, hari yang paling bersejarah dalam hidupku terahkir bersama mama. Hari yang menjadi ahkir perjalanan hidup mama berziarah di bumi ini. Karena mama harus pergi ke tempat yang sangat jauh.
Aku sadar dari lamunanku, setelah mengetik dua paragraf di awal narasiku. Aku mencoba kembali membaca, dan lagi-lagi aku kembali melihat foto editanku saat SMA yang sengaja kuletakkan di meja belajar kosku. Foto yang menjadi inspirasi dari setiap narasiku.. 
 
   30 oktober. Mama meninggalkanku saat usiaku 11 tahun. Aku masih kelas 6 SD. Mama bukan hanya sosok guru Bahasa Indonesia yang punya sejuta lawakan, tetapi juga seorang sahabat yang selalu setia menemaniku ke sekolah. Letak rumah yang sangat jauh dari rumah teman-temanku, membuatku selalu bersama mama ke sekolah. Aku lupa apa saja yang sering aku ceritakan bersama mama saat ke sekolah. Sungguh, 30 Oktober 9 tahun yang lalu adalah kisah perih dibalik tawaku di 30 oktober saat ini.

   Aku tidak melupakan mama, dengan semua cerita masa kecilku bersamanya. Tetapi aku melupakan semua kenanganku bersama mama, karena kenangan itulah yang membuatku menjadi gadis yang sangat manja hingga saat ini.
   9 tahun bukan waktu yang sangat mudah untukku menulis semua cerita tentang hidupku tanpa mama. Aku hidup dalam ketidaksempurnaan akan kasih sayang. Namun aku sadar, arti dari setiap tanggal 30 Oktober di setiap tahun yang Tuhan berikan kepadaku selama ini. Aku hidup tanpa melihat, mendengar suara mama. Tetapi aku selalu bisa melewati semua itu, karena kehangatan kasih sayang mama dalam diri berbeda meski tak sama.

   30 oktober adalah, hari paling bersejarah setiap tahunnya. Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk mengenang terahkir kali aku melihat mama. Tuhan masih mengizinkanku menulis tentang mama, meski aku tak bisa menulis segala yang telah mama berikan padaku. Perjuangannya menggendongku sejauh 1 km saat aku kelas 5 SD, pengorbanannya saat aku sakit dan kesabaran atas semua kenakalan masa kecilku.

   Aku pernah bermimpi. Jika mama masih ada. Ia akan melihatku menjadi seorang mahasiswi. Ia melihat putri bungsunya, yang bukan lagi gadis kecil yang nakal yang sering pergi saat ia memaksaku untuk tidur siang. Dalam mimpiku, mama sudah semakin tua, karena umurku bertambah. Aku melihat mama tersenyum bangga, karena aku telah menjadi seorang gadis dewasa, yang memiliki wajah yang mirip dengannya. Mama juga akan bangga, karena aku bukan gadis kecil yang sering di bully kedua kakakku.

   30 oktober.... aku menangis merindukan mama, aku menangis ingin pulang. Pulang melihat makam mama. Melihat nisan yang diatasnya tertulis nama mama. Aku menangis merindukan makam yang sering aku tiduri saat aku merindukan mama. Merindukan makam, yang penuh dengan lilin saat matahari kembali ke ufuk barat.
     30 oktober..... yang kedua dalam perjalanan hidupku mengenang mama, tanpa melihat nisan indah itu. Aku memandang langit yang tak pernah berubah mamandangku. Sedikit berbisik padanya, aku merindukan mama. Jika kau dekat dengannya, katakan padanya langit, aku mendoakan mama saat ini. Aku mendoakannya untuk tetap berada disampingku langit.

30 oktober, akan penuh dengan cerita setiap tahunnya.


Selasa, 07 Juli 2015



Surat Untukmu Ayah

Ayah….sedang apa dirimu?

   Ayah kurangakai kata dalam narasi sederhana ini, untuk mengenangmu ayah. Aku ingin ayah tahu, betapa indah singgasanamu dalam hatiku ayah.
  Ayah… aku belajar  tegar darimu. Ayah yang selalu menjawab setiap kesusahan dengan senyuman. Ayah yang selalu tertawa, meski yang sebenarnya ayah sedang terluka. Ayah yang selalu tegar menghadap seribu duka dalam hidup ayah. Ayah yang tetap tegar, saat seribu bibir menghujatmu ayah.
 Ayah….aku belajar sabar darimu. Ayah yang selalu sabar menghadapi aku dengan tingkah konyolku. Ayah yang selalu sabar mendengar keluhan buah hatinya, meski saat ini buah hatinya melupakan pelajaran itu darimu ayah. Ayah yang selalu sabar menjadi ibu dan juga ayah bagiku. Ayah yang dengan sabar menggendongku saat aku sakit. Ayah yang dengan sabar mengajarkan aku untuk tampil apa adanya, tanpa harus rakus akan milik oranglain.
  Aku belajar berani darimu  ayah. Ayah yang dengan keberaniannya mampu membawa aku pada dunia yang penuh dengan warna. Ayah yang selalu berani menghadap kesepian. Ayah yang dengan berani memerangi kemalasan dalam diriku.
 Ayah…..aku belajar malu darimu.  Malu untuk memiliki yang bukan milikku. Malu untuk tampil mewah, tanpa memikirkan latarbelakang. Malu karena selalu menghiasi diri seperti benalu. Malu karena tidak punya rasa malu, karena selalu meminta. Malu……karena aku tidak pernah mau berjuang.
 Ayah ,,,,darimu aku belajar menerima diri apa adanya dan mau mencintai apa adanya.
Ayah darimu aku mengerti, bahwa hidup butuh perjuangan.
Ayah,,,darimu aku mengerti, bahwa dunia yang kupijaki tak seindah Surga yang ayah tempati
 Ayah….banyak yang kupelajari darimu. Semua yang ayah berikan, menjadi pelajaran untukku ayah. Ayah, meski banyak bibir mencibirmu, memandangmu sebelah mata, bagiku ayah adalah raja dalam hatiku. Ayah adalah inspirasi dalam narasiku ayah. Ayah adalah nama yang menjadi tema dari seluruh perjalanan hidupku, disamping nama ibu yang terukir indah dalam hati.
 Ayah, berbahagialah di Singgasana yang Mahakuasa. Bersama Ibu dan seribu Malaikat yang menemani ayah. Ayah…. Tetaplah mengajarkan aku kesabaran. Peluk aku dalam doamu ayah. Dan ajarkan aku untuk setia pada Iman yang ayah ajarkan, hingga nanti aku bisa memelukmu ayah dalam dunia kita nanti.