Selasa, 22 Desember 2015

membuka malam



Membuka Malam
            Banyak orang bertanya tentang arti semua warna. Warna menjadi gambaran dan   tolak ukur seseorang untuk berpikir tentang diri orang lain.  Malam. Kegelapan. Warna hitam. Menjadikan malam sebagai sebuah cerita gelap, tanpa menginginkan lebih tentang sebuah cerita yang terukir dalam kegelapan itu sendiri.                                                                                                                                 
 Malam  menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah. Meskipun kadang karena kegelapannya dilupakan dengan pejaman mata berdurasi. Dan cerita tentang malam berubah tanpa alasam. Namun sang malam selalu menceraikan diri dari sang fajar. Memaksa untuk diam dalam kelam dan sunyinya malam. Setiap peristiwa akan lenyap saat malam tiba. Sebuah kisah yang harus diungkapkan, seolah hilang saat malam tiba. Karena malam, semua orang akan menutup mata dan melupakan setiap peristiwa yang terjadi.                                                                                                                                                      Prostitusi.  Sebuah cerita yang harus diperankan tokoh yang tragis tentang arti sebuah diri. Pria berhidung belang berkeliaran, dan para pekerja seolah menikmati. Malam yang tak mampu berbicara karena kegelapannya, menjadi saksi bisu. Arti sebuah diri seakan bisa ditawar oleh selembar yang membuat seribu mata berubah menjadi hijau. Tawar menawar terjadi, demi kenikmatan sesaat. Dan lagi-lagi malam menjadi saksi.
            Malam yang gelap, malam yang pekat, seakan tak ada dinding yang berlubang, yang memberi sedikit ruang kecil untuk menembus sedikit cahaya dalam kegelapan itu. Setiap diri memiliki tarif, seolah harga diri bisa ditawarkan. Kenikmatan melupakan segalanya, dan uang menjadi alasan melupakan kenikmatan. Kenikmatan dalam kegelapan, yang dihiasi oleh lembar-lembar hina, seolah tak ada cara lain mendapatkannya. Malam lagi-lagi menjadi saksi, kegersangan iman.
            Membuka malam, membuka kepedihan tentang cerita gelap. Malam menjadi sunyi senyap, dihiasi desahan beralasan. Malam tak mampu bicara, ditutup oleh seribu alasan. Semua telah dilakukan untuk memecahkan kelam dan gelapnya malam. Mencoba menyadarkan sikap dan cara berpikir setiap insan yang menikmati. Dengan peraturan yang berlaku, mencoba menyadarkan mereka tentang arti sebuah diri, dan bahaya prostitusi. Miris, prostitusi malah terjadi dikalangan pelajar yang menjadi tombak perjuangan bangsa. Harga diri diperjualbelikan demi rupiah, lalu bagaimana dengan harga diri bangsa? Apakah akan juga?
            Aparat yang berdiri diatas Undang-undang mencoba menertibkan perdagangan haram dengan cara yang tegas. Dan dengan ini, kelam malam mampu dibuka untuk lebih memahami tentang arti sebuah diri. Sosok public figur seolah tidak memiliki mandat menjadi panutan. Saya mencoba membuka cerita tentang malam. Karena kepedihan hati saya melihat fakta yang berteriak dalam kegelapan oleh kaum yang tidak mampu menjadi sosok yang patut diteladani.
            Prostitusi. Menarik untuk dibicarakan, namun pedih bila dipahami. Desahan dalam kenikmatan dikatakan sebagai korban, dan penikmat bergelar menghilang bagai pembeli buah-buahan segar, yang sekali dibayar dinikmati lalu menghilang dalam kenikmatan dan vitamin dari buah tersebut, tangan siapa yang akan diikat besi? Bukankah saling menguntungkan? Bukankah semuanya menikmati kenikmatan dalam malam berdurasi?
            Dan menurut saya semuanya bersalah dan pantas dihukum. Dan semua tentang malam bisa dibuka, dengan sikap dan tindakan tegas. Karena arti sebuah diri diatas segalahnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar