Doa
dan Pengorbanan Seorang Sahabat
Ia
bukan lampu jalan yang akan menyala disaat malam tiba. Ia bukan
matahari yang mampu menerangi bumi. Ia bukan bulan yang selalu
diindahkan. Ia bukan bintang yang selalu di hitung, mana letak
bintang yang paling terang. Dan ia bukanlah emas atau permata yang
mahal harganya. Namun, ia hanyalah sebuah lilin yang memberikan
terangnya meski harus mengorbankan dirinya.
Begitulah
yang sering Charles banggakan tentang sahabatnya. Ia tidak pernah
lelah menceritakan tentang sahabat yang telah mengubah hidupnya itu.
Di
hari pertama ia masuk dan berdiri di depan kelas sebagai mahasiswa
semester 5 prodi Bahasa Indonesia, ia memilih menceritakan nama baik
sahabatnya sebagai tugas mata kuliah di kelasnya saat itu.
Matanya
berkaca-kaca. Rasa tak sanggup menghantuinya. Peristiwa miris yang
telah membuat ia harus kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya dan
juga teman kelasnya itu membuatnya merasa gagal menjadi seorang
sahabat sejati.
Namanya
Dian. Ia sosok yang akan selalu saya ceritakan sepanjang perjalanan
hidup saya. Saya mengenal Diana, saat pertama kali saya masuk kuliah.
Awal saya mengenalnya, saya pernah berpikir mungkin sahabat saya itu
gila. Gayanya berbicara selalu mengundang tawa, bahkan tingkahnya
yang kelihatan polos namun terlihat sangat bodoh selalu mengundang
tawa setiap orang yang mengenalnya, namun setiap orang yang berada
didekatnya pasti akan sangat betah karena kemurahan hatinya.
Pertama
kali saya mengenalnya ketika saya dipilih menjadi ketua kelompok
dalam sebuah diskusi. Saya tidak sulit mencari namanya, keributan dan
sikap konyolnya di kelas membuat saya ataupun teman-teman dengan
mudah menemukannya. Meskipun demikian, dibalik kehebohan dan
kekonyolannya ia adalah sosok yang pintar, dan cerdas. Dan saat itu
saya sangat bersyukur, karena ia masuk dalam kelompok saya. Ketika ia
sedang berbicara ia selalu didengar. Bukan saja karena suaranya yang
lantang, tetapi karena inti dari pembicaraan yang selalu menjadi
inspirasi dari setiap orang yang mendengarnya.
Persahabatan
kami pun dimulai sejak saat itu. Saya, Dian, Inggrid, Tasya, Elsa,
Delon, dan Aris adalah tujuh bersahabat yang selalu bersama. Sesuatu
yang kami lakukan bersama akan berbeda jika salahsatu dari kami
bertujuh tak ada. Hampir semua kegiatan kami lakukan bersama.
Diahkir pekan, kami memilih kegiatan yang akan kami lakukan. Dan jika
salahsatu dari kami keberatan, semua harus batal. Setiap hari Minggu
semua wajib ke gereja, tanpa alasan apapun. Disaat kami bersama, kami
tidak boleh menceritakan pacar kami, apapun alasannya. Prinsip kami,
sahabat adalah prioritas. Dan sahabat adalah segalanya.
Dari
keenam sahabat saya, Dian yang paling dekat dengan saya. Dian adalah
pribadi yang berbeda dari keempat sahabat saya yang perempuan.
Sikapnya, yang terbuka dan polos membuatnya banyak disukai lelaki.
Namun responnya sering mengundang amarah dari kami para sahabatnya.
Ia menganggap setiap lelaki yang mendekatinya adalah penggemar
setianya. Dan tak ada satu pun yang ia terima menjadi pacarnya,
bahkan sekedar singgah di hatinya pun tidak. Ketika ditanya alasan,
jawabannya tetap sama, “ saya masih sayang cinta pertama saya”.
Dian
adalah sosok yang selalu menyembunyikan duka dan lukanya dengan tawa.
Prinsip hidupnya sangat sederhana, setiap hari kebahagian saya adalah
ketika saya mampu mengukir senyuman dibibir orang yang saya sayang.
Sebuah prinsip hidup yang membuatnya selalu dirindukan teman sekelas,
bila dirinya tak hadir kuliah.
Di
hari pertama semester ke-2, semua tentang Dian baru kami tahu. Kedua
orangtuanya telah meninggal dunia. Dan yang paling menyedihkan, kami
harus mengetahui hal itu dari tetangganya yang berada di kelas
ekonomi. Dian tidak pernah menceritakan kedua orangtuanya. Ia selalu
mengatakan “ papa dan mama saya adalah orang yang sangat sibuk,
saya hanya bisa menanyakan kabar mereka kepada kedua kakak saya”.
Dian adalah sosok yang tegar. Dan inilah alasan mengapa ia selalu
ceria. Ketika ditanya apa alasannya menyembunyikan hal tersebut,
jawabannya sangat menyedihakan ditelinga kami berenam. “Kita semua
akan meninggal. Jadi, saya tidak perlu menceritakannya pada kalian.
Meskipun Tuhan memanggil papa dan mama, Tuhan sudah memberikan saya
pengganti mereka, yaitu kalian semua. Kalian adalah sahabat yang akan
selalu saya banggakan”.
Duka
dan luka yang ia alami ternyata sangat dalam. Bahkan disaat papa
meninggal, Dianlah satu-satunya sahabat yang paling saya rindukan
saat saya melihat jenazah papa. Saat itu saya berpikir, betapa
kuatnya Dian menjalani hidupnya selama ini tanpa mama dan tanpa papa,
lalu apakah saya bisa sepertinya, yang mampu menyembunyikan duka
dengan suka?
Dian
selalu menjadi teladan bagi kami para sahabatnya. Dian selalu
menasihati kami. “ Hidup itu seperti drama. Dan kita sendiri adalah
pelaku utama dalam drama itu. Kita tidak perlu menanyakan siapa-siapa
tokoh yang akan ikut dalam drama hidup kita, karena kita bukan
Sutradaranya. Mari kita sama-sama memainkan peran kita sebaik mungkin
di depan Sutradara kita. Karena bayarannya tidak kita terima saat
kita turun dari sebuah panggung yang megah, tetapi ketika kita
memasuki babak baru dalam hidup baru, disanalah kita akan mendapat
bayaran yang tak ternilai.
Sebuah
nasihat bijak, yang tidak pernah saya mengerti, hingga ahkirnya saya
sadar. Drama yang ia maksudkan adalah perjalanan hidup yang kami
jalani saat ini.
Charles
harus mengahkiri ceritanya. Air matanya tak terbendung lagi. Semua
yang ada di kelasnya mendadak diam. Semua tentang Dian bukan sebuah
cerita yang harus dilupakan begitu saja. Semua tentangnya menyisakan
sebuah panutan bagi mereka yang pernah berada di dekatnya.
Begitulah
yang dialami Charles. Hidupnya yang dulu penuh dengan kegelapan telah
berubah. Charles termasuk salah satu mahasiwa yang terkenal playboy.
Ia akan pacaran kalau ia tahu wanita yang ia pacari itu memiliki
banyak uang. Dan setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan dan juga
kepuasan lahiriahnya, wanita itu akan ia tinggalkan. Begitulah
seterusnya, hingga ahkirnya ia menderita penyakit kelamin. Dalam
keadaan seperti itu, ia sempat bertobat. Namun semua itu tidak mudah
baginya. Setelah dinyatakan sembuh, ia masih mengulangi kebiasaannya
itu. Hingga ahkirnya ia mengenal Dian sahabatnya.
Dian
tahu kebiasaan buruk sahabatnya. Ia menasihati Charles sahabatnya
bahaya seks bebas, dan dosanya di hadapan Tuhan. Ia sering mengajak
Charles ke gereja, mengajaknya berdoa. Namun Charles melakukan semua
itu hanya untuk menghargai prinsip persahabatan mereka. Dian tahu
akan hal itu, Dian tidak pernah berhenti, ia sering mengajak Charles
mengikuti pengakuan dosa. Bahkan Dian juga mengajak Charles mengikuti
doa taize.
Namun
semuanya sia-sia, Charles terlalu larut dalam samudra yang penuh
dengan keindahan, hingga ia sendiri lupa dimana daratannya. Dimana
perahu yang ia tumpangi, semua telah hancur, samudra yang luas itu
membawa keindahan dan kenikmatan baginya. Kenikmatan yang hanya ia
sendiri rasakan.
Saat
itu Dian mulai sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia. Ia pun
berhenti menasihati Charles, bahkan mengajaknya ke gereja. Yang ia
lakukan adalah mendoakan sahabatnya itu. Setiap malam ia novena, dan
menyerahkan sahabatnya itu kepada Bunda Maria, bahkan Dian sering
menceritakan sahabatnya kepada Pastor setelah ia selesai mengikuti
misa. Ia meminta Pastor agar ikut mendoakan sahabatnya.” Saya tahu
Romo, itu adalah privasi sahabat saya. Saya tidak berniat untuk
membuka aibnya. Saya mohon Romo, sebutlah nama sahabat saya kapanpun
Romo merayakan perayaan ekaristi. Saya akan gagal menjadi seorang
sahabat Romo, kalau saya belum membawa sahabat saya pulang ke rumah
yang benar. Ia menempati rumah yang salah Romo. Rumah yang tak pernah
ia tahu siapa pemiliknya. Saya mohon Romo”, begitulah yang Romo
Yosef katakan, mengulang kembali permohonan yang sering ia dengar
dari Dian. Dian sadar hanya dengan doalah ia bisa membantu
sahabatnya. Hanya dengan doa sahabatnya akan berpaling ke jalan yang
benar. Dan hanya dengan doalah sahabatnya akan melihat bahwa jalan
yang ia lalui adalah sebuah kegelapan, yang tidak memiliki arah dan
merupakan tujuan yang tak berpenghuni.
Memasuki
semester 3, Charles kecelakaan bersama pacarnya. Saat itu Charles
kehilangan banyak darah, dan pacarnya tak terselamatkan. Yang ada
disamping Charles saat itu hanya keenam sahabatnya. Papa dan mamanya
masih di kampung, dan bingung dengan apa yang mereka dengar tentang
anaknya yang saat itu sedang mempertaruhkan hidup dan matinya.
Dokter
menyatakan, jika tidak secepatnya Charles mendapatkan pendonor, maka
nyawanya tidak bisa di tolong. Dan hanya mujizat Tuhanlah, yang bisa
menyelamatkan Charles.
Tanpa
berpikir panjang, keenam sahabatnya memasuki ruangan lab untuk
memeriksa darah. Dan dari keenam sahabatnya, hanya Dian yang memiliki
darah yang cocok. Tanpa berpikir terlalu lama, Dian menandatangani
surat administrasi yang diberikan oleh suster untuk menyumbang
darahnya. Ia melihat sahabatnya yang terbaring disampingnya, ia
berbisik. “Darah ini akan mengubah jalan hidupmu sahabat, dan
matamu akan terbuka. Kegelapan yang kau tempuh akan menjadi terang,
selamat pesta Pakah sahabatku sayang. Saat matamu terbuka nanti,
kabar sukacita akan datang. Kuatkan tubuh Charles, kau akan tetap
berada disini”.
Dian
sangat bahagia hari pertama melihat sahabatnya membuka mata. Ia
langsung memeluk sahabatnya, dan dalam pelukannya ia mendoakan
sahabatnya. “Tuhan, ubahlah hidupnya”.
Saat
itu ternyata untuk terahkir kalinya Charles melihat sahabatnya. Dian
masih terus memeluk Charles, hingga jam kunjungan pasien selesai.
Dian berbisik ” Charles selamat pesta Paskah. Kamu tidak
sendiri Charles disini. Ingat ubahlah hidupmu sahabat, sehingga saat
kita bertemu nanti, saya bangga melihatmu. Saya pulang ya Charles.
Jaga dirimu, dan jagalah persahabatan kita. Setiap hari Minggu ajak
sahabat kita ke gereja ya”. Dian mencium kening sahabatnya untuk
terahkir kalinya.” Charles, mainkan dramamu seindah mungkin.
Kalaupun ada tokoh yang akan meninggalkanmu, sempurnakan peran
hidupmu”. Selamat tinggal Charles.
Cerita
tentang Dianpun terungkap, saat ia kembali ke rumah Bapa.
Dian
ditinggalkan papa dan mamanya saat ia masih kecil. Dan alasannya
untuk menolak semua laki-laki yang mendekatinya bukan karena cinta
pertamanya, tetapi karena ia mau untuk tidak menikah seumur hidupnya.
Dian mau mempersembahkan hidupnya untuk anak-anak yatim piatu saat ia
sukses nanti. Ia tidak ingin melihat kepedihan di mata mereka yang
ditinggalkan orangtuanya, karena ia sangat pedih menjalani hidupnya.
Saat
pertama ia masuk kuliah, dokter men-vonisnya penyakit jantung.
Penyakit itu adalah penyakit keturunan, yang juga membuat Dian harus
kehilangan mamanya saat ia masih kelas 6 SD. Saat keluar dari ruang
rawat Charles, Dian langsung pingsan. Ia kumat, dan tak
terselamatkan. Dokter yang menanganinya menyerah. Hingga ahkirnya
Dian pulang ke rumah Bapa.
Dian
adalah sosok yang sangat rajin berdoa, begitu cerita Aurel
sahabatnya. Dalam setiap doanya, Dian selalu menyebut nama
sahabat-sahabatnya. Dan setiap hari ia tak pernah lelah menceritakan
nama sahabat-sahabatnya di kayu salib di kamarnya. Pintanya sama, ia
minta agar sahabat-sahabatnya tidak mengalami nasib sepertinya. Agar
sahabat-sahabatnya masih terus melihat kedua orangtua mereka saat
mereka selesai sekolah, dan masih akan terus melihat orangtuanya
sampai mereka tua nanti.
Hidup
Dian tak seindah senyumnya, tak seindah tawanya dan tak seindah
kata-kata indah yang sering ia katakan saat menghibur
sahabat-sahabatnya. Dian ditinggalkan papa dan mamanya saat ia masih
kecil. Kedua kakaknya menikah dan punya kesibukannya mereka sendiri.
Dan seluruh harta yang diwariskan kedua orangtuanya diambil omnya.
Dian
tak pernah menangisi hartanya. Dian tak pernah punya dendam untuk
membalas semua mereka yang menyudutkannya, termasuk sepupunya yang
sering menfitnahnya. Dian selalu mengatakan, tanpa mereka cerita
hidup yang akan saya jalani takkan ada ceritanya. Meski hidup Dian
begitu berat, namun ia tak pernah lelah dan putus asa untuk terus
berjuang, meski kadang ia harus menangis karena tenaganya dan
ketegarannya hampir habis.
Kekuatan
doa, Jalan Salib setiap hari Jumaat, menghadiri perayaan Ekaristi
adalah kekuatannya untuk terus bertahan dalam hidup. Meski kadang ia
merasa tak adil, namun ia selalu berjuang untuk terus bertahan dalam
imannya hingga ahkirnya ia kembali ke tempat indah dimana beban
duniawi pun berahkir.
Itulah
alasannya untuk tidak pacaran. Dalam hidupnya yang mampu
menguatkannya untuk bertahan adalah sahabat-sahabatnya. Dian sangat
mencintai sahabat-sahabatnya. Dan Charles adalah sahabat yang paling
sering ia tangisi di depan Yesus. Ia sangat menyayangi Charles,
bahkan ia sering memikirkan Charles hingga ia harus terjaga dari
tidurnya.
Charles,
Dian tahu apa yang akan terjadi bila ia mendonorkan darahnya. Namun
ia tetap melakukan hal itu, karena ia ingin kamu berpaling ke jalan
yang benar. Impian Dian sederhana, Dian hanya ingin kamu meninggalkan
kebiasaan burukmu, dan hidup dengan sehat. Dian tidak ingin seumur
hidupnya, ia melihat sahabatnya berjalan dalam kegelapan, dan ia akan
merasa bahwa dirinya gagal menjadi seorang sahabat. Dian rela
memberikan hidupnya bagi kamu Charles, karena baginya Tuhan akan
memberikan banyak kesempatan bagi umatNya yang mau sungguh-sungguh
bertobat.
Charles
terpaku diam. Wajahnya sulit dijelaskan. Disana ada penyesalan, ada
marah karena ia selalu mengiyakan nasihat sahabatnya dan sulit
melaksanakannya, dan ada sedih karena ia harus mendengarkan kisah
pedih sahabatnya saat ia telah tiada. Charles menangis karena setiap
hari Dian selalu menghiburnya, namun sedikitpun ia belum pernah
menghibur sahabatnya.
“Charles,
tolong kamu berhenti free seks. Saya mohon Charles, berhentilah
mempermainkan perempuan”
itulah yang selalu Dian katakan saat mereka bersama. Namun, semua
nasihat itu baginya hanya kalimat yang wajib ia dengar setiap hari
dari bibir sahabatnya itu.
Hingga
ahkirnya Dian mengorbankan dirinya demi sahabatnya. Dian memberikan
hidupnya bukan karena beban yang ia jalani dalam hidupnya, namun
karena cintanya kepada sahabatnya. Ia mencintai sahabatnya, seperti
ia mencintai dirinya sendiri. Ia mendoakan sahabat-sahabatnya karena
ia tahu, mereka titipan terbesar yang Tuhan berikan. Ia menjaga
sahabatnya hingga ahkir nafasnya. Dan ziarahnya di bumi berahkir
dengan sebuah cerita yang membuahkan hasil. Doanya dikabulkan, meski
saat semua itu berubah ia tak ada disana. Keteguhan dan kesabarannya
membuahkan hasil.
Jalan
hidup sahabatnya Charles telah berbeda. Charles semakin aktif dalam
kegiatan rohani. Charles dipilih menjadi ketua OMK. Charles aktif
dalam kegiatan pewartaan di setiap KBG. Dan saat ini, Charles sibuk
mempersiapkan perayaan Paskahnya yang pertama tanpa Dian sahabatnya.
Ia mengajak teman-temannya untuk terlibat dalam setiap kegiatan
paroki, dan mengajak teman-temannya untuk wajib mengikuti jalan salib
dan wajib puasa setiap hari Jumaat.
Untuk
pertama kalinya dan untuk selamanya Charles merayakan Paskah tanpa
sahabatnya. Ia dan keenam sahabatnya mengunjungi makam Dian yang
letaknya tidak jauh dari gereja. Disana ratap kerinduan tak
terbendung. Semuanya telah berbeda. Tanpa sosok yang selalu
memberikan sejuta cerita inspirasi yang penuh dengan keramahan cinta
dalam persahabatan mereka, semuanya terasa hampa.
Menahan
deraian airmata, Charles memegang nisan sahabatnya. Tersenyum
memandang wajah cantik sahabatnya, dan ia berbisik “ Dian, selamat
hari raya Paskah. Hari kemenangan dan hari dimana kamu menyerahkan
hidupmu untuk saya. Terimakasih karena doa dan pengorbananmu telah
mengubah hidup saya. Kamu seperti Kekasih jiwamu yang sering kamu
ceritakan, yang rela mengurbankan diriNya demi keselamatan dunia.
Terimakasih telah menyelamatkan jiwa saya Dian. Terimakasih telah
membuktikan kepada semua orang bahwa harta tidaklah abadi. Hidupmu
akan selalu saya banggakan sahabat tersayang, dan prinsip hidupmu
akan saya pegang sampai kapanpun, hingga waktu mempersatukan kita
sebagai sahabat yang abadi ”.
Dian
mendengar doa dan kerinduan sahabatnya-sahabatnya. Langit yang
terlihat mendung berubah menjadi cerah. Semua mata terpana. Sungguh
alam pun ikut bangga menyaksikan cerita persahabatan mereka. Sebuah
cerita yang tak habis dalam satu sejarah, tetapi sebuah cerita yang
akan abadi dalam setiap pengorbanan yang diberikan kepada sesama
dalam persahabatan dengan Yesus sendiri.