Selasa, 28 April 2015

ceritaku

ceritaku

Airmata seakan telah habis . Namun duka tak berhenti datang. Awanpun seakan mengerti, betapa sulitnya untuk bertahan. Kedua kakiku seakan lumpuh. Dan tak ada jalan yang mampu membuatku sedkit berpikir, bahwa masih ada suka dibalik duka ini.
Semua yang didengar dari satu narasumber palsu seakan menjadi sebuah fakta yang harus dipertanggungjawabkan. Sedikit aku merenung, sekeji itukah seorang menilai kepribadian orang lain?
Hidupku bagaikan sebuah mobil yang dikendalikan oleh seorang pengemudi. Dan aku berpikir, pengemudi itupun sedang mabuk. Jalan ini bukan yang aku inginkan, mengapa harus dipaksakan. Aku seakan seperti seorang bayi, yang menunggu dan mendengar saat ibunya mengajarkannya banyak hal.
Saat mentari memancarkan cahayanya, aku mulai mengerti, ini bukan hidupku. Ini bukan jalanku. Aku berhak untuk memilih. Memilih yang bisa kulakukan. Memilih bahwa aku sebenarnya bisa. Lalu mengapa aku harus mengikuti apa yang ia inginkan? Bukankah mobil yang aku tumpangi ini sebenarnya bukan miliknya, tetapi milikku yang ia tumpangi juga?
Seribu keburukan yang ia ceritakan tentangku bukanlah suatu masalah untukku. Meski apa yang menjadi hakku harus dicabut. Dan ini bukanlah sesuatu yang adil untukku, namun aku tahu bahwa hanya dengan itu ia akan puas. Mereka akan bangga. Dan mungkin ini adalah mimpinya, melihat seorang yang hanya bisa hidup karena suatu keyakinan harus menderita. Ya,,,,ini yang ia inginkan. Mimpi sederhana, yang membawaku dalam rasa sakit yang mungkin akan membuatku melupakan masa-masa indah bersamanya, menjadi cerita buruk seumur hidupku.
Aku hanya tersenyum disetiap amarahnya, caciannya, bahkan disetiap sumpah palsu yang sering ia ucapkan. Di relung hatiku yang paling dalam, aku pernah berpikir inikah kasihsayang yang ingin ia tunjukkan. Meski menyakitkan, aku hanya bisa tersenyum. Rasa sakit ini akan aku genggam sampai kapanpun. Rasa sakit ini yang akan aku buktikan kepadanya suatu ketika, bahwa aku begitu mencintai setiap caci makinya, sumpah, bahkan setiap kata yang sering ia ucapkan. Rasa itu yang akan aku tunjukkan kepada semua orang, bahwa hidup itu berat, hidup ini tidak semudah mengedipkan kedua matamu. Aku tidak dendam pada semua sosok yang membanggakan semua kebaikan yang pernah mereka tunjukan dengan sejuta sindiran yang membuat harus bergulat dan berjuang dengan airmata, tetapi aku bangga. Mereka adalah bagian dari cerita dalam hidupku, mereka adalah bagian dari mimpi burukku. Dan mereka adalah sosok yang akan aku ceritakan kepada semua orang, bahwa menyakit hati orang lain tanpa mengerti keaadaannya akan membuat kita menjadi sosok yang hebat namun rendah dimata mereka yang lebih memahami orang itu.
Aku berjuang untuk mereka yang mendoakanku, mereka yang mendukungku dan juga mereka yang menghina aku dan kehidupan orang-orang kucintai. Dan saat airmata ini telah habis, yang bisa kulakukan hanya tersenyum. Hatiku menangis karena sakit.
Aku tahu, yang mengerti akan ini semua hanya Kekasihku. Dan aku hanya memelukNya. Aku bisa karenaMu. Aku yakin, mereka hanyalah tumpukan kerikil yang Kekasihku ciptakan, yang bisa aku lewati.
Dan disetiap tawaku, luka ini sesungguhnya belum sembuh. Masih membekas, sampai kapanpun!!!!!

Doa dan Pengorbanan Seorang Sahabat

Doa dan Pengorbanan Seorang Sahabat

Ia bukan lampu jalan yang akan menyala disaat malam tiba. Ia bukan matahari yang mampu menerangi bumi. Ia bukan bulan yang selalu diindahkan. Ia bukan bintang yang selalu di hitung, mana letak bintang yang paling terang. Dan ia bukanlah emas atau permata yang mahal harganya. Namun, ia hanyalah sebuah lilin yang memberikan terangnya meski harus mengorbankan dirinya.
Begitulah yang sering Charles banggakan tentang sahabatnya. Ia tidak pernah lelah menceritakan tentang sahabat yang telah mengubah hidupnya itu.
Di hari pertama ia masuk dan berdiri di depan kelas sebagai mahasiswa semester 5 prodi Bahasa Indonesia, ia memilih menceritakan nama baik sahabatnya sebagai tugas mata kuliah di kelasnya saat itu.
Matanya berkaca-kaca. Rasa tak sanggup menghantuinya. Peristiwa miris yang telah membuat ia harus kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya dan juga teman kelasnya itu membuatnya merasa gagal menjadi seorang sahabat sejati.
Namanya Dian. Ia sosok yang akan selalu saya ceritakan sepanjang perjalanan hidup saya. Saya mengenal Diana, saat pertama kali saya masuk kuliah. Awal saya mengenalnya, saya pernah berpikir mungkin sahabat saya itu gila. Gayanya berbicara selalu mengundang tawa, bahkan tingkahnya yang kelihatan polos namun terlihat sangat bodoh selalu mengundang tawa setiap orang yang mengenalnya, namun setiap orang yang berada didekatnya pasti akan sangat betah karena kemurahan hatinya.
Pertama kali saya mengenalnya ketika saya dipilih menjadi ketua kelompok dalam sebuah diskusi. Saya tidak sulit mencari namanya, keributan dan sikap konyolnya di kelas membuat saya ataupun teman-teman dengan mudah menemukannya. Meskipun demikian, dibalik kehebohan dan kekonyolannya ia adalah sosok yang pintar, dan cerdas. Dan saat itu saya sangat bersyukur, karena ia masuk dalam kelompok saya. Ketika ia sedang berbicara ia selalu didengar. Bukan saja karena suaranya yang lantang, tetapi karena inti dari pembicaraan yang selalu menjadi inspirasi dari setiap orang yang mendengarnya.
Persahabatan kami pun dimulai sejak saat itu. Saya, Dian, Inggrid, Tasya, Elsa, Delon, dan Aris adalah tujuh bersahabat yang selalu bersama. Sesuatu yang kami lakukan bersama akan berbeda jika salahsatu dari kami bertujuh tak ada. Hampir semua kegiatan kami lakukan bersama. Diahkir pekan, kami memilih kegiatan yang akan kami lakukan. Dan jika salahsatu dari kami keberatan, semua harus batal. Setiap hari Minggu semua wajib ke gereja, tanpa alasan apapun. Disaat kami bersama, kami tidak boleh menceritakan pacar kami, apapun alasannya. Prinsip kami, sahabat adalah prioritas. Dan sahabat adalah segalanya.
Dari keenam sahabat saya, Dian yang paling dekat dengan saya. Dian adalah pribadi yang berbeda dari keempat sahabat saya yang perempuan. Sikapnya, yang terbuka dan polos membuatnya banyak disukai lelaki. Namun responnya sering mengundang amarah dari kami para sahabatnya. Ia menganggap setiap lelaki yang mendekatinya adalah penggemar setianya. Dan tak ada satu pun yang ia terima menjadi pacarnya, bahkan sekedar singgah di hatinya pun tidak. Ketika ditanya alasan, jawabannya tetap sama, “ saya masih sayang cinta pertama saya”.
Dian adalah sosok yang selalu menyembunyikan duka dan lukanya dengan tawa. Prinsip hidupnya sangat sederhana, setiap hari kebahagian saya adalah ketika saya mampu mengukir senyuman dibibir orang yang saya sayang. Sebuah prinsip hidup yang membuatnya selalu dirindukan teman sekelas, bila dirinya tak hadir kuliah.
Di hari pertama semester ke-2, semua tentang Dian baru kami tahu. Kedua orangtuanya telah meninggal dunia. Dan yang paling menyedihkan, kami harus mengetahui hal itu dari tetangganya yang berada di kelas ekonomi. Dian tidak pernah menceritakan kedua orangtuanya. Ia selalu mengatakan “ papa dan mama saya adalah orang yang sangat sibuk, saya hanya bisa menanyakan kabar mereka kepada kedua kakak saya”. Dian adalah sosok yang tegar. Dan inilah alasan mengapa ia selalu ceria. Ketika ditanya apa alasannya menyembunyikan hal tersebut, jawabannya sangat menyedihakan ditelinga kami berenam. “Kita semua akan meninggal. Jadi, saya tidak perlu menceritakannya pada kalian. Meskipun Tuhan memanggil papa dan mama, Tuhan sudah memberikan saya pengganti mereka, yaitu kalian semua. Kalian adalah sahabat yang akan selalu saya banggakan”.
Duka dan luka yang ia alami ternyata sangat dalam. Bahkan disaat papa meninggal, Dianlah satu-satunya sahabat yang paling saya rindukan saat saya melihat jenazah papa. Saat itu saya berpikir, betapa kuatnya Dian menjalani hidupnya selama ini tanpa mama dan tanpa papa, lalu apakah saya bisa sepertinya, yang mampu menyembunyikan duka dengan suka?
Dian selalu menjadi teladan bagi kami para sahabatnya. Dian selalu menasihati kami. “ Hidup itu seperti drama. Dan kita sendiri adalah pelaku utama dalam drama itu. Kita tidak perlu menanyakan siapa-siapa tokoh yang akan ikut dalam drama hidup kita, karena kita bukan Sutradaranya. Mari kita sama-sama memainkan peran kita sebaik mungkin di depan Sutradara kita. Karena bayarannya tidak kita terima saat kita turun dari sebuah panggung yang megah, tetapi ketika kita memasuki babak baru dalam hidup baru, disanalah kita akan mendapat bayaran yang tak ternilai.
Sebuah nasihat bijak, yang tidak pernah saya mengerti, hingga ahkirnya saya sadar. Drama yang ia maksudkan adalah perjalanan hidup yang kami jalani saat ini.
Charles harus mengahkiri ceritanya. Air matanya tak terbendung lagi. Semua yang ada di kelasnya mendadak diam. Semua tentang Dian bukan sebuah cerita yang harus dilupakan begitu saja. Semua tentangnya menyisakan sebuah panutan bagi mereka yang pernah berada di dekatnya.
Begitulah yang dialami Charles. Hidupnya yang dulu penuh dengan kegelapan telah berubah. Charles termasuk salah satu mahasiwa yang terkenal playboy. Ia akan pacaran kalau ia tahu wanita yang ia pacari itu memiliki banyak uang. Dan setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan dan juga kepuasan lahiriahnya, wanita itu akan ia tinggalkan. Begitulah seterusnya, hingga ahkirnya ia menderita penyakit kelamin. Dalam keadaan seperti itu, ia sempat bertobat. Namun semua itu tidak mudah baginya. Setelah dinyatakan sembuh, ia masih mengulangi kebiasaannya itu. Hingga ahkirnya ia mengenal Dian sahabatnya.
Dian tahu kebiasaan buruk sahabatnya. Ia menasihati Charles sahabatnya bahaya seks bebas, dan dosanya di hadapan Tuhan. Ia sering mengajak Charles ke gereja, mengajaknya berdoa. Namun Charles melakukan semua itu hanya untuk menghargai prinsip persahabatan mereka. Dian tahu akan hal itu, Dian tidak pernah berhenti, ia sering mengajak Charles mengikuti pengakuan dosa. Bahkan Dian juga mengajak Charles mengikuti doa taize.
Namun semuanya sia-sia, Charles terlalu larut dalam samudra yang penuh dengan keindahan, hingga ia sendiri lupa dimana daratannya. Dimana perahu yang ia tumpangi, semua telah hancur, samudra yang luas itu membawa keindahan dan kenikmatan baginya. Kenikmatan yang hanya ia sendiri rasakan.
Saat itu Dian mulai sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia. Ia pun berhenti menasihati Charles, bahkan mengajaknya ke gereja. Yang ia lakukan adalah mendoakan sahabatnya itu. Setiap malam ia novena, dan menyerahkan sahabatnya itu kepada Bunda Maria, bahkan Dian sering menceritakan sahabatnya kepada Pastor setelah ia selesai mengikuti misa. Ia meminta Pastor agar ikut mendoakan sahabatnya.” Saya tahu Romo, itu adalah privasi sahabat saya. Saya tidak berniat untuk membuka aibnya. Saya mohon Romo, sebutlah nama sahabat saya kapanpun Romo merayakan perayaan ekaristi. Saya akan gagal menjadi seorang sahabat Romo, kalau saya belum membawa sahabat saya pulang ke rumah yang benar. Ia menempati rumah yang salah Romo. Rumah yang tak pernah ia tahu siapa pemiliknya. Saya mohon Romo”, begitulah yang Romo Yosef katakan, mengulang kembali permohonan yang sering ia dengar dari Dian. Dian sadar hanya dengan doalah ia bisa membantu sahabatnya. Hanya dengan doa sahabatnya akan berpaling ke jalan yang benar. Dan hanya dengan doalah sahabatnya akan melihat bahwa jalan yang ia lalui adalah sebuah kegelapan, yang tidak memiliki arah dan merupakan tujuan yang tak berpenghuni.
Memasuki semester 3, Charles kecelakaan bersama pacarnya. Saat itu Charles kehilangan banyak darah, dan pacarnya tak terselamatkan. Yang ada disamping Charles saat itu hanya keenam sahabatnya. Papa dan mamanya masih di kampung, dan bingung dengan apa yang mereka dengar tentang anaknya yang saat itu sedang mempertaruhkan hidup dan matinya.
Dokter menyatakan, jika tidak secepatnya Charles mendapatkan pendonor, maka nyawanya tidak bisa di tolong. Dan hanya mujizat Tuhanlah, yang bisa menyelamatkan Charles.
Tanpa berpikir panjang, keenam sahabatnya memasuki ruangan lab untuk memeriksa darah. Dan dari keenam sahabatnya, hanya Dian yang memiliki darah yang cocok. Tanpa berpikir terlalu lama, Dian menandatangani surat administrasi yang diberikan oleh suster untuk menyumbang darahnya. Ia melihat sahabatnya yang terbaring disampingnya, ia berbisik. “Darah ini akan mengubah jalan hidupmu sahabat, dan matamu akan terbuka. Kegelapan yang kau tempuh akan menjadi terang, selamat pesta Pakah sahabatku sayang. Saat matamu terbuka nanti, kabar sukacita akan datang. Kuatkan tubuh Charles, kau akan tetap berada disini”.
Dian sangat bahagia hari pertama melihat sahabatnya membuka mata. Ia langsung memeluk sahabatnya, dan dalam pelukannya ia mendoakan sahabatnya. “Tuhan, ubahlah hidupnya”.
Saat itu ternyata untuk terahkir kalinya Charles melihat sahabatnya. Dian masih terus memeluk Charles, hingga jam kunjungan pasien selesai. Dian berbisik ” Charles selamat pesta Paskah. Kamu tidak sendiri Charles disini. Ingat ubahlah hidupmu sahabat, sehingga saat kita bertemu nanti, saya bangga melihatmu. Saya pulang ya Charles. Jaga dirimu, dan jagalah persahabatan kita. Setiap hari Minggu ajak sahabat kita ke gereja ya”. Dian mencium kening sahabatnya untuk terahkir kalinya.” Charles, mainkan dramamu seindah mungkin. Kalaupun ada tokoh yang akan meninggalkanmu, sempurnakan peran hidupmu”. Selamat tinggal Charles.
Cerita tentang Dianpun terungkap, saat ia kembali ke rumah Bapa.
Dian ditinggalkan papa dan mamanya saat ia masih kecil. Dan alasannya untuk menolak semua laki-laki yang mendekatinya bukan karena cinta pertamanya, tetapi karena ia mau untuk tidak menikah seumur hidupnya. Dian mau mempersembahkan hidupnya untuk anak-anak yatim piatu saat ia sukses nanti. Ia tidak ingin melihat kepedihan di mata mereka yang ditinggalkan orangtuanya, karena ia sangat pedih menjalani hidupnya.
Saat pertama ia masuk kuliah, dokter men-vonisnya penyakit jantung. Penyakit itu adalah penyakit keturunan, yang juga membuat Dian harus kehilangan mamanya saat ia masih kelas 6 SD. Saat keluar dari ruang rawat Charles, Dian langsung pingsan. Ia kumat, dan tak terselamatkan. Dokter yang menanganinya menyerah. Hingga ahkirnya Dian pulang ke rumah Bapa.
Dian adalah sosok yang sangat rajin berdoa, begitu cerita Aurel sahabatnya. Dalam setiap doanya, Dian selalu menyebut nama sahabat-sahabatnya. Dan setiap hari ia tak pernah lelah menceritakan nama sahabat-sahabatnya di kayu salib di kamarnya. Pintanya sama, ia minta agar sahabat-sahabatnya tidak mengalami nasib sepertinya. Agar sahabat-sahabatnya masih terus melihat kedua orangtua mereka saat mereka selesai sekolah, dan masih akan terus melihat orangtuanya sampai mereka tua nanti.
Hidup Dian tak seindah senyumnya, tak seindah tawanya dan tak seindah kata-kata indah yang sering ia katakan saat menghibur sahabat-sahabatnya. Dian ditinggalkan papa dan mamanya saat ia masih kecil. Kedua kakaknya menikah dan punya kesibukannya mereka sendiri. Dan seluruh harta yang diwariskan kedua orangtuanya diambil omnya.
Dian tak pernah menangisi hartanya. Dian tak pernah punya dendam untuk membalas semua mereka yang menyudutkannya, termasuk sepupunya yang sering menfitnahnya. Dian selalu mengatakan, tanpa mereka cerita hidup yang akan saya jalani takkan ada ceritanya. Meski hidup Dian begitu berat, namun ia tak pernah lelah dan putus asa untuk terus berjuang, meski kadang ia harus menangis karena tenaganya dan ketegarannya hampir habis.
Kekuatan doa, Jalan Salib setiap hari Jumaat, menghadiri perayaan Ekaristi adalah kekuatannya untuk terus bertahan dalam hidup. Meski kadang ia merasa tak adil, namun ia selalu berjuang untuk terus bertahan dalam imannya hingga ahkirnya ia kembali ke tempat indah dimana beban duniawi pun berahkir.
Itulah alasannya untuk tidak pacaran. Dalam hidupnya yang mampu menguatkannya untuk bertahan adalah sahabat-sahabatnya. Dian sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Dan Charles adalah sahabat yang paling sering ia tangisi di depan Yesus. Ia sangat menyayangi Charles, bahkan ia sering memikirkan Charles hingga ia harus terjaga dari tidurnya.
Charles, Dian tahu apa yang akan terjadi bila ia mendonorkan darahnya. Namun ia tetap melakukan hal itu, karena ia ingin kamu berpaling ke jalan yang benar. Impian Dian sederhana, Dian hanya ingin kamu meninggalkan kebiasaan burukmu, dan hidup dengan sehat. Dian tidak ingin seumur hidupnya, ia melihat sahabatnya berjalan dalam kegelapan, dan ia akan merasa bahwa dirinya gagal menjadi seorang sahabat. Dian rela memberikan hidupnya bagi kamu Charles, karena baginya Tuhan akan memberikan banyak kesempatan bagi umatNya yang mau sungguh-sungguh bertobat.
Charles terpaku diam. Wajahnya sulit dijelaskan. Disana ada penyesalan, ada marah karena ia selalu mengiyakan nasihat sahabatnya dan sulit melaksanakannya, dan ada sedih karena ia harus mendengarkan kisah pedih sahabatnya saat ia telah tiada. Charles menangis karena setiap hari Dian selalu menghiburnya, namun sedikitpun ia belum pernah menghibur sahabatnya.
Charles, tolong kamu berhenti free seks. Saya mohon Charles, berhentilah mempermainkan perempuan” itulah yang selalu Dian katakan saat mereka bersama. Namun, semua nasihat itu baginya hanya kalimat yang wajib ia dengar setiap hari dari bibir sahabatnya itu.
Hingga ahkirnya Dian mengorbankan dirinya demi sahabatnya. Dian memberikan hidupnya bukan karena beban yang ia jalani dalam hidupnya, namun karena cintanya kepada sahabatnya. Ia mencintai sahabatnya, seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia mendoakan sahabat-sahabatnya karena ia tahu, mereka titipan terbesar yang Tuhan berikan. Ia menjaga sahabatnya hingga ahkir nafasnya. Dan ziarahnya di bumi berahkir dengan sebuah cerita yang membuahkan hasil. Doanya dikabulkan, meski saat semua itu berubah ia tak ada disana. Keteguhan dan kesabarannya membuahkan hasil.
Jalan hidup sahabatnya Charles telah berbeda. Charles semakin aktif dalam kegiatan rohani. Charles dipilih menjadi ketua OMK. Charles aktif dalam kegiatan pewartaan di setiap KBG. Dan saat ini, Charles sibuk mempersiapkan perayaan Paskahnya yang pertama tanpa Dian sahabatnya. Ia mengajak teman-temannya untuk terlibat dalam setiap kegiatan paroki, dan mengajak teman-temannya untuk wajib mengikuti jalan salib dan wajib puasa setiap hari Jumaat.
Untuk pertama kalinya dan untuk selamanya Charles merayakan Paskah tanpa sahabatnya. Ia dan keenam sahabatnya mengunjungi makam Dian yang letaknya tidak jauh dari gereja. Disana ratap kerinduan tak terbendung. Semuanya telah berbeda. Tanpa sosok yang selalu memberikan sejuta cerita inspirasi yang penuh dengan keramahan cinta dalam persahabatan mereka, semuanya terasa hampa.
Menahan deraian airmata, Charles memegang nisan sahabatnya. Tersenyum memandang wajah cantik sahabatnya, dan ia berbisik “ Dian, selamat hari raya Paskah. Hari kemenangan dan hari dimana kamu menyerahkan hidupmu untuk saya. Terimakasih karena doa dan pengorbananmu telah mengubah hidup saya. Kamu seperti Kekasih jiwamu yang sering kamu ceritakan, yang rela mengurbankan diriNya demi keselamatan dunia. Terimakasih telah menyelamatkan jiwa saya Dian. Terimakasih telah membuktikan kepada semua orang bahwa harta tidaklah abadi. Hidupmu akan selalu saya banggakan sahabat tersayang, dan prinsip hidupmu akan saya pegang sampai kapanpun, hingga waktu mempersatukan kita sebagai sahabat yang abadi ”.
Dian mendengar doa dan kerinduan sahabatnya-sahabatnya. Langit yang terlihat mendung berubah menjadi cerah. Semua mata terpana. Sungguh alam pun ikut bangga menyaksikan cerita persahabatan mereka. Sebuah cerita yang tak habis dalam satu sejarah, tetapi sebuah cerita yang akan abadi dalam setiap pengorbanan yang diberikan kepada sesama dalam persahabatan dengan Yesus sendiri.







Puisi


Cinta
Cinta adalah terang yang kau berikan padaku
Yang menerangi sudut gelap dalam hatiku
Yang melebur kegelisahan dalam jiwaku
Yang menjadi cahaya yang menerangi langkahku

Cinta adalah keindahan dirimu dalam hidupku
Yang mampu membuatku mengindahkan duniaku
Yang memberikanku warna dalam cerita hidupku
Yang menjadikan namamu indah dalam doaku

Cinta adalah kehilangan yang kualami tanpamu
Yang mengubah seluruh cerita hidupku
Yang menghempaskanku dalam duka tentangmu
Yang mengubah terang dan keindahan yang kau berikan padaku

Cinta adalah Iman yang kau titipkan untukku
Yang berbisik padaku, aku tidaklah sendiri
Yang memelukku atas namamu dalam sosok yang berbeda
Yang menyadarkanku duniaku bukan duniamu lagi