ceritaku
Airmata
seakan telah habis . Namun duka tak berhenti datang. Awanpun seakan
mengerti, betapa sulitnya untuk bertahan. Kedua kakiku seakan lumpuh.
Dan tak ada jalan yang mampu membuatku sedkit berpikir, bahwa masih
ada suka dibalik duka ini.
Semua
yang didengar dari satu narasumber palsu seakan menjadi sebuah fakta
yang harus dipertanggungjawabkan. Sedikit aku merenung, sekeji itukah
seorang menilai kepribadian orang lain?
Hidupku
bagaikan sebuah mobil yang dikendalikan oleh seorang pengemudi. Dan
aku berpikir, pengemudi itupun sedang mabuk. Jalan ini bukan yang aku
inginkan, mengapa harus dipaksakan. Aku seakan seperti seorang bayi,
yang menunggu dan mendengar saat ibunya mengajarkannya banyak hal.
Saat
mentari memancarkan cahayanya, aku mulai mengerti, ini bukan hidupku.
Ini bukan jalanku. Aku berhak untuk memilih. Memilih yang bisa
kulakukan. Memilih bahwa aku sebenarnya bisa. Lalu mengapa aku harus
mengikuti apa yang ia inginkan? Bukankah mobil yang aku tumpangi ini
sebenarnya bukan miliknya, tetapi milikku yang ia tumpangi juga?
Seribu
keburukan yang ia ceritakan tentangku bukanlah suatu masalah untukku.
Meski apa yang menjadi hakku harus dicabut. Dan ini bukanlah sesuatu
yang adil untukku, namun aku tahu bahwa hanya dengan itu ia akan
puas. Mereka akan bangga. Dan mungkin ini adalah mimpinya, melihat
seorang yang hanya bisa hidup karena suatu keyakinan harus menderita.
Ya,,,,ini yang ia inginkan. Mimpi sederhana, yang membawaku dalam
rasa sakit yang mungkin akan membuatku melupakan masa-masa indah
bersamanya, menjadi cerita buruk seumur hidupku.
Aku
hanya tersenyum disetiap amarahnya, caciannya, bahkan disetiap sumpah
palsu yang sering ia ucapkan. Di relung hatiku yang paling dalam, aku
pernah berpikir inikah kasihsayang yang ingin ia tunjukkan. Meski
menyakitkan, aku hanya bisa tersenyum. Rasa sakit ini akan aku
genggam sampai kapanpun. Rasa sakit ini yang akan aku buktikan
kepadanya suatu ketika, bahwa aku begitu mencintai setiap caci
makinya, sumpah, bahkan setiap kata yang sering ia ucapkan. Rasa itu
yang akan aku tunjukkan kepada semua orang, bahwa hidup itu berat,
hidup ini tidak semudah mengedipkan kedua matamu. Aku tidak dendam
pada semua sosok yang membanggakan semua kebaikan yang pernah mereka
tunjukan dengan sejuta sindiran yang membuat harus bergulat dan
berjuang dengan airmata, tetapi aku bangga. Mereka adalah bagian dari
cerita dalam hidupku, mereka adalah bagian dari mimpi burukku. Dan
mereka adalah sosok yang akan aku ceritakan kepada semua orang, bahwa
menyakit hati orang lain tanpa mengerti keaadaannya akan membuat kita
menjadi sosok yang hebat namun rendah dimata mereka yang lebih
memahami orang itu.
Aku
berjuang untuk mereka yang mendoakanku, mereka yang mendukungku dan
juga mereka yang menghina aku dan kehidupan orang-orang kucintai.
Dan saat airmata ini telah habis, yang bisa kulakukan hanya
tersenyum. Hatiku menangis karena sakit.
Aku
tahu, yang mengerti akan ini semua hanya Kekasihku. Dan aku hanya
memelukNya. Aku bisa karenaMu. Aku yakin, mereka hanyalah tumpukan
kerikil yang Kekasihku ciptakan, yang bisa aku lewati.
Dan
disetiap tawaku, luka ini sesungguhnya belum sembuh. Masih membekas,
sampai kapanpun!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar