Natal
Natal.... ia
hari ini hari raya Natal. Hari yang dinantikan umat Kristiani di seluruh dunia.
Hari dimana semua insan saling berjabat tangan, menyampaikan permohonan maaf
lahir batin, mewartakan sukacita kelahiran Kristus.
Hari ini, aku harus bangun di waktu yang tidak
biasanya. Saat hendak sarapan, aku harus
bingung melihat kalender dekat meja belajarku... hah?????? Hari tanggal
24? Dan malam nanti?? Oh Tuhan, aku sudah janji untuk merayakan Natal di Blitar
bersama saudara mama. Oh Tuhan!!! Aku hanya bisa memandang konyol ke arah salib
tempat aku bersimpuh setiap harinya bersama Yesus Kekasih Jiwaku. Yesus?? Aku
tersenyum konyol.....
Aku segera mandi
secepat mungkin, dan harus bergegas ke stasiun kareta. Dan sepertinya, untuk
kedua kalinya aku harus merayakan Natal di tempat ini. Tanpa keluarga, tanpa
sahabat dan tanpa mama atau juga papa. Tiket ke Blitar habis 10 menit yang
lalu.. ya 10 menit yang lalu, aku baru berangkat dari kos menuju stasiun.
Aku pulang dengan harapan kosong. Tanpa
kusadari handphoneku berbunyi. Ia mereka menelponku “ kamu dimana? udah di
stasiun kan?
Aku tersenyum. “
maaf tante, nanti liburan ya aku ke Blitar. Tiketnya habis” jawabku singkat.
Di kos semua sibuk dengan topiknya
masing-masing, ya ada yang mengeluh karena hujan, ada yang bingung mau pake
gaun apa malam nantin ada juga yang kecewa lantaran gaunnya belum kering karena
sekarang musim hujan.
Hmmm aku memilih
untuk merespin keluhan mereka dengan senyum. Aku membeli
kopi dan menikamatinya di kamar, sambil menulis narasi ini. Diiringi
lagu Nike Ardila. Ya....buat kalian ini konyol, aku tak ingin mendengarkan lagu
Natal. Biarkan aku mendengarnya saat di gereja nanti.
Natal...... ini bukan yang pertama kalinya aku
merayakan Natal sendiri. Aku bahkan lupa terahkir aku Natal bersama papa, mama, dan
kedua kakakku. Kali ini, aku harus
mematikan lampu kamarku, karena aku tak ingin teman-temanku melihat
kesedihanku, dan terganggu dengan kebisingan mereka.
Dua jam lagi Yesus. Aku ke RumahMu menyambut
kelahiranMu. Ini bukan pertama, kedua, atau ketiga kalinya. Tetapi ini yang
kesekian yang tak bisa aku hitung. Aku egois jika aku mengeluh Yesus. Tetapi,
aku sama seperti yang lain yang merindukan Natal bersama keluarganya. Aku
merindukan papa....mama.... aku merindukan mereka Yesus, bahkan aku hanya ingin
mengucapkan selamat Natal diatas nisan mereka. Aku menghiasi makam mereka, aku
menyalakan lilin, aku berdoa, aku mencium nisan mereka, dan aku ke gereja. Di
gereja aku bahagia Yesus, karena saat aku merayakan kelahiranMu, aku melihat
papa dan mama di dekat altar. Mereka memakai baju putih dan tersenyum padaku.
Aku tak bisa menahan airmataku saat ini. Aku
jujur padamu kawan. Aku merindukan mama dan papa. Aku merindukan mereka lebih dari sekedar yang
kutulis saat ini. Natal.....bahkan saat usiaku 13 tahun, aku tak pernah
menghargai Natal yang sesungguhnya, karena aku sibuk menangis merindukan mama.
Saat itu, aku masih merayakan Natal bersama papa.
Aku manarik nafas. Kenapa sesakit ini?
Sakittt Yesus.. dan untuk selamanya aku seperti ini.
Argh.... aku menghapus airmataku. Aku terlalu
banyak berceloteh. Saat pengakuan aku banyak bercerita pada Yesus. Tentang
kesibukanku, tentang salahku dan memohon pengampunan agar hatiku pantas
menyambutNya malam nanti.
Aku merasa
kelegaan saat itu tanpa menangis seperti ini. Kenapa sekarang aku harus
menangis??
Aku sadar Yesus. Aku bukan wanita perkasa
Yesus yang sekuat saat aku banyak berbicara. Yang kuat saat teman-temanku
memanggilku wanita perkasa karena aku memiliki suara yang paling keras saat
berbicara, yang kuat menggayuh sepeda, yang kuat menggendong sahabatku saat
pingsan. Dibalik semua itu aku lemah Yesus. Aku sama seperti yang lain yang
menangis saat jatah bulanannya terlambat dikirim. Aku menangis melebihi itu
Yesus. Aku menangis karena kesepian, kekosongan saat aku di kelilingi
keramaian. Aku kesepian Yesus. Aku merindukan mama.....papa saat ini. Aku ingin
menelpon mereka sama seperti yang lain Yesus, sekedar mengucapkan “ selamat
Natal mama... selamat Natal papa”.
Aku berhenti mengetik sebentar. Tisuku
sepertinya habis. Hah!!! Aku barus sadar. Aku harus mandi. Sebentar lagi aku
harus ke Rumah Tuhan. Aku sudah berjanji
untuk tidak menangis saat menulis apapun tentang mama dan papa.
Aku tersenyum
untuk menutup ceritaku saat kembali memandang Yesus di sampingku. Aku lemah
karena aku manusia biasa. Namun, hatiku mantap menyambutMu malam ini Yesus.
Izinkan aku lahir kembali bersamaMu untuk menjadi sosok yang kuat dan tegar
yang bisa membawa damai bagi orang lain.
Kawan...sudahkah kita mempersiapkan diri
untuk menyambutNya?
Selamat
merayakan Natal. Jadilah pembawa damai....