Kamis, 24 Desember 2015

Natal



Natal
Natal.... ia hari ini hari raya Natal. Hari yang dinantikan umat Kristiani di seluruh dunia. Hari dimana semua insan saling berjabat tangan, menyampaikan permohonan maaf lahir batin, mewartakan sukacita kelahiran Kristus.
 Hari ini, aku harus bangun di waktu yang tidak biasanya. Saat hendak sarapan, aku harus  bingung melihat kalender dekat meja belajarku... hah?????? Hari tanggal 24? Dan malam nanti?? Oh Tuhan, aku sudah janji untuk merayakan Natal di Blitar bersama saudara mama. Oh Tuhan!!! Aku hanya bisa memandang konyol ke arah salib tempat aku bersimpuh setiap harinya bersama Yesus Kekasih Jiwaku. Yesus?? Aku tersenyum konyol.....
Aku segera mandi secepat mungkin, dan harus bergegas ke stasiun kareta. Dan sepertinya, untuk kedua kalinya aku harus merayakan Natal di tempat ini. Tanpa keluarga, tanpa sahabat dan tanpa mama atau juga papa. Tiket ke Blitar habis 10 menit yang lalu.. ya 10 menit yang lalu, aku baru berangkat dari kos menuju stasiun.  
 Aku pulang dengan harapan kosong. Tanpa kusadari handphoneku berbunyi. Ia mereka menelponku “ kamu dimana? udah di stasiun kan?
Aku tersenyum. “ maaf tante, nanti liburan ya aku ke Blitar. Tiketnya habis” jawabku singkat.
 Di kos semua sibuk dengan topiknya masing-masing, ya ada yang mengeluh karena hujan, ada yang bingung mau pake gaun apa malam nantin ada juga yang kecewa lantaran gaunnya belum kering karena sekarang musim hujan.
Hmmm aku memilih untuk merespin keluhan mereka dengan senyum.  Aku membeli  kopi dan menikamatinya di kamar, sambil menulis narasi ini. Diiringi lagu Nike Ardila. Ya....buat kalian ini konyol, aku tak ingin mendengarkan lagu Natal. Biarkan aku mendengarnya saat di gereja nanti.
 Natal...... ini bukan yang pertama kalinya aku merayakan Natal sendiri. Aku bahkan lupa  terahkir aku Natal bersama papa, mama, dan kedua kakakku.  Kali ini, aku harus mematikan lampu kamarku, karena aku tak ingin teman-temanku melihat kesedihanku, dan terganggu dengan kebisingan mereka.
 Dua jam lagi Yesus. Aku ke RumahMu menyambut kelahiranMu. Ini bukan pertama, kedua, atau ketiga kalinya. Tetapi ini yang kesekian yang tak bisa aku hitung. Aku egois jika aku mengeluh Yesus. Tetapi, aku sama seperti yang lain yang merindukan Natal bersama keluarganya. Aku merindukan papa....mama.... aku merindukan mereka Yesus, bahkan aku hanya ingin mengucapkan selamat Natal diatas nisan mereka. Aku menghiasi makam mereka, aku menyalakan lilin, aku berdoa, aku mencium nisan mereka, dan aku ke gereja. Di gereja aku bahagia Yesus, karena saat aku merayakan kelahiranMu, aku melihat papa dan mama di dekat altar. Mereka memakai baju putih dan tersenyum padaku.
 Aku tak bisa menahan airmataku saat ini. Aku jujur padamu kawan. Aku merindukan mama dan papa.  Aku merindukan mereka lebih dari sekedar yang kutulis saat ini. Natal.....bahkan saat usiaku 13 tahun, aku tak pernah menghargai Natal yang sesungguhnya, karena aku sibuk menangis merindukan mama. Saat itu, aku masih merayakan Natal bersama papa.
  Aku manarik nafas. Kenapa sesakit ini? Sakittt Yesus.. dan untuk selamanya aku seperti ini.
 Argh.... aku menghapus airmataku. Aku terlalu banyak berceloteh. Saat pengakuan aku banyak bercerita pada Yesus. Tentang kesibukanku, tentang salahku dan memohon pengampunan agar hatiku pantas menyambutNya malam nanti.
Aku merasa kelegaan saat itu tanpa menangis seperti ini. Kenapa sekarang aku harus menangis??
 Aku sadar Yesus. Aku bukan wanita perkasa Yesus yang sekuat saat aku banyak berbicara. Yang kuat saat teman-temanku memanggilku wanita perkasa karena aku memiliki suara yang paling keras saat berbicara, yang kuat menggayuh sepeda, yang kuat menggendong sahabatku saat pingsan. Dibalik semua itu aku lemah Yesus. Aku sama seperti yang lain yang menangis saat jatah bulanannya terlambat dikirim. Aku menangis melebihi itu Yesus. Aku menangis karena kesepian, kekosongan saat aku di kelilingi keramaian. Aku kesepian Yesus. Aku merindukan mama.....papa saat ini. Aku ingin menelpon mereka sama seperti yang lain Yesus, sekedar mengucapkan “ selamat Natal mama... selamat Natal papa”.
 Aku berhenti mengetik sebentar. Tisuku sepertinya habis. Hah!!! Aku barus sadar. Aku harus mandi. Sebentar lagi aku harus ke Rumah Tuhan.  Aku sudah berjanji untuk tidak menangis saat menulis apapun tentang mama dan papa.
Aku tersenyum untuk menutup ceritaku saat kembali memandang Yesus di sampingku. Aku lemah karena aku manusia biasa. Namun, hatiku mantap menyambutMu malam ini Yesus. Izinkan aku lahir kembali bersamaMu untuk menjadi sosok yang kuat dan tegar yang bisa membawa damai bagi orang lain.
  Kawan...sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambutNya?
Selamat merayakan Natal. Jadilah pembawa damai....  

Selasa, 22 Desember 2015

membuka malam



Membuka Malam
            Banyak orang bertanya tentang arti semua warna. Warna menjadi gambaran dan   tolak ukur seseorang untuk berpikir tentang diri orang lain.  Malam. Kegelapan. Warna hitam. Menjadikan malam sebagai sebuah cerita gelap, tanpa menginginkan lebih tentang sebuah cerita yang terukir dalam kegelapan itu sendiri.                                                                                                                                 
 Malam  menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah. Meskipun kadang karena kegelapannya dilupakan dengan pejaman mata berdurasi. Dan cerita tentang malam berubah tanpa alasam. Namun sang malam selalu menceraikan diri dari sang fajar. Memaksa untuk diam dalam kelam dan sunyinya malam. Setiap peristiwa akan lenyap saat malam tiba. Sebuah kisah yang harus diungkapkan, seolah hilang saat malam tiba. Karena malam, semua orang akan menutup mata dan melupakan setiap peristiwa yang terjadi.                                                                                                                                                      Prostitusi.  Sebuah cerita yang harus diperankan tokoh yang tragis tentang arti sebuah diri. Pria berhidung belang berkeliaran, dan para pekerja seolah menikmati. Malam yang tak mampu berbicara karena kegelapannya, menjadi saksi bisu. Arti sebuah diri seakan bisa ditawar oleh selembar yang membuat seribu mata berubah menjadi hijau. Tawar menawar terjadi, demi kenikmatan sesaat. Dan lagi-lagi malam menjadi saksi.
            Malam yang gelap, malam yang pekat, seakan tak ada dinding yang berlubang, yang memberi sedikit ruang kecil untuk menembus sedikit cahaya dalam kegelapan itu. Setiap diri memiliki tarif, seolah harga diri bisa ditawarkan. Kenikmatan melupakan segalanya, dan uang menjadi alasan melupakan kenikmatan. Kenikmatan dalam kegelapan, yang dihiasi oleh lembar-lembar hina, seolah tak ada cara lain mendapatkannya. Malam lagi-lagi menjadi saksi, kegersangan iman.
            Membuka malam, membuka kepedihan tentang cerita gelap. Malam menjadi sunyi senyap, dihiasi desahan beralasan. Malam tak mampu bicara, ditutup oleh seribu alasan. Semua telah dilakukan untuk memecahkan kelam dan gelapnya malam. Mencoba menyadarkan sikap dan cara berpikir setiap insan yang menikmati. Dengan peraturan yang berlaku, mencoba menyadarkan mereka tentang arti sebuah diri, dan bahaya prostitusi. Miris, prostitusi malah terjadi dikalangan pelajar yang menjadi tombak perjuangan bangsa. Harga diri diperjualbelikan demi rupiah, lalu bagaimana dengan harga diri bangsa? Apakah akan juga?
            Aparat yang berdiri diatas Undang-undang mencoba menertibkan perdagangan haram dengan cara yang tegas. Dan dengan ini, kelam malam mampu dibuka untuk lebih memahami tentang arti sebuah diri. Sosok public figur seolah tidak memiliki mandat menjadi panutan. Saya mencoba membuka cerita tentang malam. Karena kepedihan hati saya melihat fakta yang berteriak dalam kegelapan oleh kaum yang tidak mampu menjadi sosok yang patut diteladani.
            Prostitusi. Menarik untuk dibicarakan, namun pedih bila dipahami. Desahan dalam kenikmatan dikatakan sebagai korban, dan penikmat bergelar menghilang bagai pembeli buah-buahan segar, yang sekali dibayar dinikmati lalu menghilang dalam kenikmatan dan vitamin dari buah tersebut, tangan siapa yang akan diikat besi? Bukankah saling menguntungkan? Bukankah semuanya menikmati kenikmatan dalam malam berdurasi?
            Dan menurut saya semuanya bersalah dan pantas dihukum. Dan semua tentang malam bisa dibuka, dengan sikap dan tindakan tegas. Karena arti sebuah diri diatas segalahnya.