Jumat, 14 November 2014

pacar sejatiku. aku pernah membaca sebuah novel yang berjudul "daun takkan pernah membenci angin".

                                        PACAR SETIAKU


Aku pernah membaca sebuah novel yang berjudul “ daun takkan pernah membenci angin”. Kadang aku berpikir, apakah ada yang tahu bahwa daun tidak membenci angin? Atau pernahkah daun mengatakan ia tidak membenci angin kepada seseorang?? Ataukah itu hanya sebuah analogi yang membandingkan suatu kenyataan, ketika seseorang tidak bisa memiliki orang yang dicintainya????
********************
Mataku memandang tak percaya. Mama…..iya yang kulihat itu memang sungguh itu mama. Mama yang selama ini mengisi hari-hariku, kini terbaring didepanku. Mama sudah tidak lagi melihat aku, menyapaku, bahkan memelukku seperti biasanya.
Semua kenangan itu kembali tersirat dalam benakku. Saat itu aku berusia 10 tahun. Aku belum mengerti akan arti kehilangan. Aku belum menyadari apa arti hidupku tanpa mama.
Hal itu kulakukan untuk terahkir kalinya dalam hidupku bersama mama, meski saat itu mama hanya terbaring kaku ditempat yang tentunya bukan ranjang. Tempat itu dibuat dari papan, yang didasari oleh spon. Kulihat wajah mama untuk terahkir kalinya. Mama seperti sedang tidur, namun itu bukan tidur biasa.
Rm Mansu,pr pastor paroki yang memimpin misa saat itu memintaku, untuk mengucapkan selamat jalan kepada mama. Aku mengecup kening mama yang sangat dingin. Lalu aku menoleh.
Rm, kok badan mama sangat dingin??” tanya ku penasaran “ iya Yohana,” jawab Rm tanpa menoleh kepadaku “ Rm, mama sedang tidur kan?” tanyaku lagi.
Kali ini Rm tidak menjawabku. Aku semakin bingung. Air mata orang-orang di sekitarku, semakin membuatku bingung.
Aku melihat wajah mama ditutup kain serba putih. Rm memegang
tanganku erat sekali, lalu berbisik “jangan takut Yohana, kamu kan punya Sobat yang setia, jadi kamu tidak sendiri”
Aku hanya mengangguk, namun lagi-lagi aku belum mengerti.
Aku tahu didalam peti yang telah dibaringkan di dalam sebuah lubang yang ada dihadapanku ada mama, tetapi dalam hati, aku berpikir kalau nanti mama bangun, mama akan membuka peti itu, dan mama akan keluar. Mama akan memanggilku, dan kembali memelukku. Setelah itu aku dan mama sama-sama berangkat ke sekolah. Ya,,, seperti biasa setiap harinya. Mama akan setia menungguku ke sekolah, meskipun menurut para tetangga terlalu cepat bagi seorang guru untuk ke sekolah sepagi itu.
Rm Mansu memberkati makam itu. Aku menoleh ke samping kiriku. Disitu ada papa.
Pa, kenapa Rm memberkati lubang itu? Rm juga mendupai lubang itu papa? Bisikku setengah merengek. Sedikitpun papa tidak menoleh kearahku. Hal itulah yang membuatku berpikir, mungkinkah ini suatu misteri yang sering diceritakan oleh guru agamaku??? “ Yohana, ayo sirami makam mama dengan bunga” Rm Mansu memberiku bunga yang baru selesai ia tabur dia atas peti jenazah mama. Aku sedikit berpikir sebelum aku melakukannya. “ Untuk apa Rm? “Untuk menghiasi langkah mama ke surga sayang” “baiklah Rm” Itulah yang terahkir kali aku lakukan sebelum ahkirnya aku tak melihat mama lagi, meski hanya peti itu. Yang aku tahu ada mama disana
5 Tahun Setelah Kepergian Mama
Setiap hari aku selalu duduk di samping makam mama. Saat itu aku mulai mengerti arti kehilangan. Namun aku tetap berharap, suatu saat nanti mama akan bangkit secara nyata, seperti Yesus. Setiap malam, sebelum tidur, aku mengintip ke makam mama, kalau-kalau makam itu sudah terbongkar.
Hari berganti hari, bulan dan tahun pun ikut berganti. Keinginkanku hanya mimpi yang takkan pernah menjadi nyata, karena sesungguhnya mama sudah bangkit, namun bukan secara fisik. Aku menjadi dilema, hidupku pun berubah.
Aku bukan lagi Yohana yang ceria, yang rajin ke gereja, dan yang rajin mengikuti kegiatan rohani. Papa selalu membujuk, namun sia-sia. Aku hanya keluar rumah di pagi hari, ketika ke sekolah. Sepulang sekolah, aku hanya duduk dan merenung di samping makam mama.
Rm Mansu setiap minggu ke rumahku. Ia menghiburku, mengajakku ngobrol, bahkan ia menari-nari di hadapanku. Tetapi,semua itu sia-sia, aku tetap diam seakan membisu.
Yohana, kamu jangan seperti ini. Pacarmu kecewa. Yesus ingin kamu tahu bahwa Ia sangat mencintaimu Yohana. Kamu tidak pernah sendiri,” Rm membelai rambutku. Teman-temanku juga ikut menghiburku. Mereka sangat kehilangan, saat aku tak lagi berada ditengah-tengah mereka sebagai seorang animatris.
Aku tahu, betapa pedulinya mereka terhadapku, tetapi aku tak sanggup hidup tanpa mama. Sedikit pun aku tidak menjawab Rm. Dalam hati aku berpikir “ jika memang Yesus pacarku, mengapa mama yang Ia ambil. Mengapa bukan para pencuri uang rakyat yang sering di beritakan di tv itu??? Mengapa harus mama??? Mama bukan pencuri, mama itu seorang guru yang memperjuangkan rakyat kecil.
Dalam hati aku menjawab Rm “ aku dan Yesus sudah putus Rm. Akulah yang memutuskan-Nya.
Sejak itu aku menjauh dari-Nya. Saat itu aku seperti pohon yang berdiri tanpa akar. Aku terombang-ambing diterpa angin. Kadang aku bingung, dalam keadaan seperti ini mengapa aku masih bertahan?? Padahal aku tak punya kekuatan yang bisa kuandalkan.
Teringat kembali masa-masa kecilku. Aku selalu ingin agar mama menceritakan dongeng sebelum tidurku adalah kisah Santa dan Santo. Mama pernah bilang kalau cerita Santa dan Santo itu bukan cerita dongeng, atau fabel. Tapi bagiku, itu adalah cerita dongeng, yang membuat imajinasiku berpikir, andaikan cerita itu ada di zaman sekarang ini. Sungguh menakjubkan
Sering aku protes, kalau mama salah atau lupa nama dari Santa dan Santo yang mama ceritakan. Hingga malam itu, sebelum ahkirnya mama pergi untuk selamanya.
mama, nanti kalau Yohana SMA yohana mau tinggal di asrama Santa Ursula” pintaku manja “kenapa harus disana sayang” jawab mama lembut “ hmmmmm Ma, kemarin Yohana lihat kakak-kakak yang tinggal disana itu cantik-cantik. Bukan hanya itu mama, Rm Mansu pernah bilang mereka pintar-pintar. Mama mau kan?” bujukku
Yohana, kalau kamu kesana, mama sama siapa??” jawab mama dengan sedikit merajuk
Aku tahu, itu cara mama agar aku membatalkan niatku. Mama tahu, aku paling tidak suka melihatnya sedih.
mama,, kan masih ada papa. Ma, memang mama tidak menginginkan Yohana pintar yah?? Mama,,, Yohana mau tinggal disana itu karena Yohana penazaran sama kisah Santa Ursula. Yohana pernah membaca di buku Santa-Santo, Santa Ursula itu seorang Santa yang menyelamatkan gadis-gadis di dalam sebuah kapal besar ketika mereka akan di perkosa Ma” ceritaku panjang lebar .
o jadi karena itu ya, baiklah kalau itu yang kamu mau, mama janji mama yang antar kamu kesana. Tetapi janji, harus buat mama bangga. Yohana harus bisa meneladani Santa Ursula itu, okey??? Mama memeluk. “siiiipppp bosss, hahahahahaha”
Aku tidak pernah menyadari, bahwa itu akan menjadi malam terahkir aku bersama mama. Malam terahkir aku melihat mama.
***************
Kepergian mama, membuat papa harus menjalankan dua tugas. Sebagai ayah dan sebagai ibu.
Hal itulah yang membuat papa jarang berada di rumah. Papa hanya pulang untuk melihat keadaan rumah. Papa hanya menitipkan pesan kepada bibi Meri, untuk tetap mengontrolku.

Ternyata masa SMA membuatku mulai melupakan masalah dalam hidupku Aku membatalkan niatku untuk tinggal di asrama Santa Ursula, karena aku tahu tak ada yang mengantarku kesana. Papa sangat senang dengan perubahan yang ada dalam diriku. Aku mulai belajar mengenal dunia luar, selain dinding dan sudut-sudut rumah, karena selama ini aku jarang atau bahkan tak pernah keluar. Yang aku lakukan pertama saat itu adalah, mengenal sahabat-sahabatku yang berada dari kalangan elit. Aku tak perlu merasa minder, karena aku juga berada dari kalangan yang sama. Ayahku pemilik perusahaan mesin yang sangat terkenal, dan ibu…….ah untuk apa aku mengenangnya. Hal itulah yang aku katakan, jika teman-temanku menanyakan latarbelakangku. Aku tidak membenci mama, tetapi aku benci dengan kenyataanku tanpa mama.
Duniaku dunia yang penuh warna. Dunia yang penuh gemerlap lampu malam. Dunia yang tak memiliki sekat antara remaja dan dewasa. Aku bebas itu apa yang aku inginkan. Tak ada yang melarangku.
Papa sekalipun……
Malam itu aku pulang dalam keadaan pening. Kepalaku sangat pusing, efek alkohol yang aku minum bersama Hady pacarku di bar milik mamanya.
Malam itu aku tidur tanpa selimut. Aku tidak tahu itu mimpi atau nyata. Aku melihat seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan. Ia tersenyum melihatku, lalu membuka sebuah amplop.
Katanya “ Yohana, ini surat dari pacarMu”.
Aku menerimanya, lalu aku membuka surat itu.
Isi surat itu;
.
Dear Yohana,
Aku sangat merindukanmu Yohana. Rindu caramu memanggil nama-Ku. Rindu caramu bercerita tentang-Ku. Selama ini Aku menunggu saat-saat itu, tetapi kau tak kunjung datang pada-Ku Yohana. Aku tak pernah meninggalkanmu. Ketika malam tiba Aku berada disampingmu, aku ingin engkau menceritakan hari yang engkau jalani sepanjang hari ini kepadaKu. Ceritamu bersama sahabat-sahabatmu. Tetapi nampaknya engkau sangat lelah Yohana. Kau langsung tertidur pulas. Tetapi, taukah engkau saat itu Aku yang menyelimutimu dengan selimut agar kau tak kedinginan. Tetapi saat kau bangun, engkau lupa, mengapa semalaman tadi engkau tak merasakan dingin. Engkau langsung sibuk. Yohana, Aku tidak akan meninggalkanmu, meski engkau sering melupakan Aku.
Aku merasakan tubuhku menggigil. Ah ternyata selimutku jatuh ke lantai. Aku mulai berpikir tentang surat itu. Siapakah yang mengirimkan surat ini padaku?? Dan kenapa malamini, aku merasakan dingin yang luarbiasa??
Hmmmmm terlalu lama aku berpikir, membuat pengaruh alkohol itu mulai menghilang. Aku kembali tidur meskipun aku tak nyenyak.
Malam itu papa menelponku
yohana, malam ini papa lembur. Kamu ajak bibi Meri nginap di rumah yah.. Ingat jangan keluar, papa tidak sukaYohana. “ baik pa..”
Malam itu aku menelpon bibi Meri, tetapi tampaknya bibi sedang sibuk. Aku tidak tahu harus mengajak siapa. Tiba-tiba hanphoneku berdering “ sayang kamu dimana?? Suara yang sangat ku kenal “aku di rumah, kenapa sayang??? Jawabku semangat “ kamu sama siapa?? Aku kerumah kamu ya?? Bosan di bar” “oke……” jawabku tanpa berpikir panjang
Yah… pacarku memang datang saat aku sangat membutuhkan teman, seperti malam ini.
Tak lama motor Hady sudah ku dengar di depan rumah.
kamu kok sendiri” sapanya “iyaaaa papa lembur, bibi sibuk. Makasih yah kamu mau datang”. “ya sayang”
Malam itu aku banyak bercerita, Hady hanya mengangguk. Aku tak tahu ia mendengarku, atau hanya sekedar menghargai aku.
Aku pun mulai ngantuk, dan tertidur di pundak Hady. Hady menggendongku, dan mengantarku ke kamar. Aku tak tahu apa yang kami lakukan setelah itu. Hady mengajakku kedalam samudra yang begitu luas. Disana kadang aku merasa takut, namun Hady tetap memegang kedua tanganku. Cukup lama aku dan Hady melewati dan menikmati samudra luas itu.
Ketika menjelang pagi, aku dan Hady memutuskan kembali ke daratan. Dan ketika aku dan Hady sampai, perahu yang kami tumpangi pecah. Aku mulai sadar apa yang telah terjadi
******


Aku sadar dari lamunanku, ketika lonceng gereja berbunyi.
Ah waktunya aku mengikuti adorasi,,,,,

Aku telah melewati hidupku yang begitu rumit.
Langkahku semakin mantap menuju gereja. Kembali teringat kejadian memalukan yang pernah aku lakukan malam itu, dan penyesalan yang membuatku ingin mengahkiri hidupku, karena takut Papa malu. Tetapi, ternyata Pacarku yang selama ini tak pernah kudengar menarik tanganku. Ia berbisik padaku” Aku takkan meninggalkanmu, kembalilah padaku Yohana. Aku bukan Hady, yang pergi dan meninggalkanmu. Tetapi aku pacarmu yang selalu setia ada di hatimu”
Kini aku telah kembali pada-Nya. Ia memelukku dan di pundak-Nya aku menangis. Ia tetap tersenyum, meski aku sering melupakan-Nya
Ia menghiburku,,,,, sungguh benar apa yang Ia katakan
aku seperti anak yang selama ini menghilang yang kembali kepada Bapanya”
Di gereja aku memandang wajah Yesus,,,,,,,,,,
Sungguh Dialah pacarku yang setia. Yang tidak akan pernah meninggalkan aku

Bila dunia menolakmu, Tuhan tak pernah menolakmu. Ia tau begitu sulitnya kau mencari terang, ketika kegelapan mengelilingimu. Percayalah, Ia akan menjemputmu di depan pintu, yang tak seorangpun tahu dimana pintu itu berada.

1 komentar:

  1. Yoh, cierta ini membuat saya menitikkan air mata. Sangat menyentuh karena ini pengalaman personalmu. salam sayang

    BalasHapus