PACAR
SETIAKU
Aku
pernah membaca sebuah novel yang berjudul “ daun
takkan pernah membenci angin”.
Kadang aku berpikir, apakah ada yang tahu bahwa daun tidak membenci
angin? Atau pernahkah daun mengatakan ia tidak membenci angin kepada
seseorang?? Ataukah itu hanya sebuah analogi yang membandingkan suatu
kenyataan, ketika seseorang tidak bisa memiliki orang yang
dicintainya????
********************
Mataku
memandang tak percaya. Mama…..iya yang kulihat itu memang sungguh
itu mama. Mama yang selama ini mengisi hari-hariku, kini terbaring
didepanku. Mama sudah tidak lagi melihat aku, menyapaku, bahkan
memelukku seperti biasanya.
Semua
kenangan itu kembali tersirat dalam benakku. Saat itu aku berusia 10
tahun. Aku belum mengerti akan arti kehilangan. Aku belum menyadari
apa arti hidupku tanpa mama.
Hal
itu kulakukan untuk terahkir kalinya dalam hidupku bersama mama,
meski saat itu mama hanya terbaring kaku ditempat yang tentunya bukan
ranjang. Tempat itu dibuat dari papan, yang didasari oleh spon.
Kulihat wajah mama untuk terahkir kalinya. Mama seperti sedang tidur,
namun itu bukan tidur
biasa.
Rm
Mansu,pr pastor paroki yang memimpin misa saat itu memintaku, untuk
mengucapkan selamat jalan kepada mama. Aku mengecup kening mama yang
sangat dingin. Lalu aku menoleh.
“ Rm, kok badan
mama sangat dingin??” tanya
ku penasaran
“ iya
Yohana,” jawab Rm
tanpa
menoleh kepadaku
“ Rm, mama sedang tidur
kan?” tanyaku lagi.
Kali
ini Rm tidak menjawabku. Aku semakin bingung. Air mata orang-orang di
sekitarku, semakin membuatku bingung.
Aku melihat wajah
mama ditutup kain serba putih. Rm memegangtanganku erat sekali, lalu berbisik “jangan takut Yohana, kamu kan punya Sobat yang setia, jadi kamu tidak sendiri”
Aku hanya mengangguk, namun lagi-lagi aku belum mengerti.
Aku
tahu didalam peti yang telah dibaringkan di dalam sebuah lubang yang
ada dihadapanku ada mama, tetapi dalam hati, aku berpikir kalau nanti
mama bangun, mama akan membuka peti itu, dan mama akan keluar. Mama
akan memanggilku, dan kembali memelukku. Setelah itu aku dan mama
sama-sama berangkat ke sekolah.
Ya,,, seperti biasa setiap harinya. Mama akan setia menungguku ke
sekolah, meskipun menurut para tetangga terlalu cepat bagi seorang
guru untuk ke sekolah sepagi itu.
Rm
Mansu memberkati makam itu. Aku menoleh ke samping kiriku. Disitu
ada papa.
“ Pa, kenapa Rm
memberkati lubang itu? Rm juga mendupai lubang itu papa? Bisikku
setengah merengek. Sedikitpun papa tidak menoleh kearahku. Hal
itulah yang membuatku berpikir, mungkinkah
ini suatu misteri yang sering diceritakan oleh guru agamaku???
“ Yohana, ayo sirami makam mama dengan bunga” Rm Mansu memberiku
bunga yang baru selesai ia tabur dia atas peti jenazah mama. Aku
sedikit berpikir sebelum aku melakukannya.
“ Untuk apa Rm?
“Untuk menghiasi
langkah mama ke surga sayang”
“baiklah
Rm” Itulah yang terahkir kali aku lakukan sebelum ahkirnya aku tak
melihat mama lagi, meski hanya peti itu. Yang aku tahu ada mama
disana
5
Tahun Setelah Kepergian Mama
Setiap
hari aku selalu duduk di samping makam mama. Saat itu aku mulai
mengerti arti kehilangan. Namun
aku tetap berharap, suatu
saat nanti
mama
akan
bangkit
secara nyata,
seperti Yesus. Setiap malam, sebelum tidur, aku mengintip ke makam
mama, kalau-kalau makam itu sudah terbongkar.
Hari
berganti hari, bulan dan tahun pun ikut berganti. Keinginkanku hanya
mimpi yang takkan pernah menjadi nyata,
karena sesungguhnya mama sudah bangkit, namun bukan secara fisik. Aku
menjadi dilema, hidupku pun berubah.
Aku
bukan lagi Yohana yang ceria, yang rajin ke gereja, dan yang rajin
mengikuti kegiatan rohani. Papa selalu membujuk, namun sia-sia. Aku
hanya keluar rumah di pagi hari, ketika ke sekolah. Sepulang
sekolah,
aku hanya duduk dan merenung di samping makam mama.
Rm
Mansu setiap minggu ke rumahku. Ia menghiburku, mengajakku ngobrol,
bahkan ia menari-nari di hadapanku. Tetapi,semua itu sia-sia,
aku tetap diam seakan membisu.
“Yohana,
kamu jangan seperti ini. Pacarmu kecewa. Yesus ingin kamu tahu bahwa
Ia sangat mencintaimu Yohana. Kamu tidak pernah sendiri,”
Rm membelai rambutku. Teman-temanku juga ikut menghiburku.
Mereka sangat kehilangan, saat aku tak lagi berada ditengah-tengah
mereka sebagai seorang animatris.
Aku
tahu, betapa pedulinya mereka terhadapku, tetapi aku tak sanggup
hidup tanpa mama. Sedikit pun aku tidak menjawab Rm. Dalam hati aku
berpikir “ jika memang Yesus pacarku, mengapa mama yang Ia ambil.
Mengapa bukan para pencuri uang rakyat yang sering di beritakan di tv
itu??? Mengapa harus mama??? Mama bukan pencuri, mama itu seorang
guru yang memperjuangkan rakyat kecil.
Dalam
hati aku menjawab Rm “ aku dan Yesus sudah putus Rm. Akulah yang
memutuskan-Nya.
Sejak
itu aku menjauh dari-Nya. Saat itu aku seperti pohon yang berdiri
tanpa akar. Aku terombang-ambing diterpa angin. Kadang aku bingung,
dalam keadaan seperti ini mengapa aku masih bertahan?? Padahal aku
tak punya kekuatan yang bisa kuandalkan.
Teringat
kembali masa-masa kecilku. Aku selalu ingin agar mama menceritakan
dongeng sebelum tidurku adalah kisah Santa dan Santo. Mama pernah
bilang kalau cerita Santa dan Santo itu bukan cerita dongeng, atau
fabel. Tapi bagiku, itu adalah cerita dongeng, yang membuat
imajinasiku berpikir, andaikan cerita itu ada di zaman sekarang ini.
Sungguh menakjubkan
Sering
aku protes, kalau mama salah atau lupa nama dari Santa dan Santo yang
mama ceritakan. Hingga malam itu, sebelum ahkirnya mama pergi untuk
selamanya.
“ mama, nanti
kalau Yohana SMA yohana mau tinggal di asrama Santa Ursula” pintaku
manja “kenapa harus disana sayang”
jawab mama lembut
“ hmmmmm Ma,
kemarin Yohana lihat kakak-kakak yang tinggal disana itu
cantik-cantik. Bukan hanya itu mama, Rm Mansu pernah bilang mereka
pintar-pintar. Mama mau kan?” bujukku
“ Yohana, kalau kamu kesana, mama sama siapa??” jawab mama dengan sedikit merajuk
Aku tahu, itu cara mama agar aku membatalkan niatku. Mama tahu, aku paling tidak suka melihatnya sedih.
“ mama,, kan masih ada papa. Ma, memang mama tidak menginginkan Yohana pintar yah?? Mama,,, Yohana mau tinggal disana itu karena Yohana penazaran sama kisah Santa Ursula. Yohana pernah membaca di buku Santa-Santo, Santa Ursula itu seorang Santa yang menyelamatkan gadis-gadis di dalam sebuah kapal besar ketika mereka akan di perkosa Ma” ceritaku panjang lebar .
“ o jadi karena itu ya, baiklah kalau itu yang kamu mau, mama janji mama yang antar kamu kesana. Tetapi janji, harus buat mama bangga. Yohana harus bisa meneladani Santa Ursula itu, okey??? Mama memeluk. “siiiipppp bosss, hahahahahaha”
Aku
tidak pernah menyadari, bahwa itu akan menjadi malam terahkir aku
bersama mama. Malam terahkir aku melihat mama.
***************
Kepergian
mama, membuat papa harus menjalankan dua tugas. Sebagai ayah dan
sebagai ibu.
Hal
itulah yang membuat papa jarang berada di rumah. Papa hanya pulang
untuk melihat keadaan rumah. Papa hanya menitipkan pesan kepada bibi
Meri, untuk tetap mengontrolku.
Ternyata
masa SMA membuatku mulai melupakan masalah dalam hidupku Aku
membatalkan niatku untuk tinggal di asrama Santa Ursula, karena aku
tahu tak ada yang mengantarku kesana. Papa sangat senang dengan
perubahan yang ada dalam diriku. Aku mulai belajar mengenal dunia
luar, selain dinding dan sudut-sudut rumah, karena selama ini aku
jarang atau bahkan tak pernah keluar. Yang aku lakukan pertama saat
itu adalah, mengenal sahabat-sahabatku yang berada dari kalangan
elit. Aku tak perlu merasa minder, karena aku juga berada dari
kalangan yang sama. Ayahku pemilik perusahaan mesin yang sangat
terkenal, dan ibu…….ah untuk apa aku mengenangnya. Hal itulah
yang aku katakan, jika teman-temanku menanyakan latarbelakangku. Aku
tidak membenci mama, tetapi aku benci dengan kenyataanku tanpa mama.
Duniaku
dunia yang penuh warna. Dunia yang penuh gemerlap lampu malam. Dunia
yang tak memiliki sekat antara remaja dan dewasa. Aku bebas itu apa
yang aku inginkan. Tak ada yang melarangku.
Papa
sekalipun……
Malam
itu aku pulang dalam keadaan pening. Kepalaku sangat pusing, efek
alkohol yang aku minum bersama Hady pacarku di bar milik mamanya.
Malam
itu aku tidur tanpa selimut. Aku tidak tahu itu mimpi atau nyata. Aku
melihat seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan. Ia tersenyum
melihatku, lalu membuka sebuah amplop.
Katanya
“ Yohana, ini surat dari pacarMu”.
Aku
menerimanya, lalu aku membuka surat itu.
Isi
surat itu;
.
Dear
Yohana,
Aku
sangat merindukanmu Yohana. Rindu caramu memanggil nama-Ku. Rindu
caramu bercerita tentang-Ku. Selama ini Aku menunggu saat-saat itu,
tetapi kau tak kunjung datang pada-Ku Yohana. Aku tak pernah
meninggalkanmu. Ketika malam tiba Aku berada disampingmu, aku ingin
engkau menceritakan hari yang engkau jalani sepanjang hari ini
kepadaKu. Ceritamu bersama sahabat-sahabatmu. Tetapi nampaknya engkau
sangat lelah Yohana. Kau langsung tertidur pulas. Tetapi, taukah
engkau saat itu Aku yang menyelimutimu dengan selimut agar kau tak
kedinginan. Tetapi saat kau bangun, engkau lupa, mengapa semalaman
tadi engkau tak merasakan dingin. Engkau langsung sibuk. Yohana, Aku
tidak akan meninggalkanmu, meski engkau sering melupakan Aku.
Aku
merasakan tubuhku menggigil. Ah ternyata selimutku jatuh ke lantai.
Aku mulai berpikir tentang surat itu. Siapakah yang mengirimkan surat
ini padaku?? Dan kenapa malamini, aku merasakan dingin yang
luarbiasa??
Hmmmmm
terlalu lama aku berpikir, membuat pengaruh alkohol itu mulai
menghilang. Aku kembali tidur meskipun aku tak nyenyak.
Malam
itu papa menelponku
“ yohana, malam
ini papa lembur. Kamu ajak bibi Meri nginap di rumah yah.. Ingat
jangan keluar, papa tidak sukaYohana.
“ baik
pa..”Malam itu aku menelpon bibi Meri, tetapi tampaknya bibi sedang sibuk. Aku tidak tahu harus mengajak siapa. Tiba-tiba hanphoneku berdering “ sayang kamu dimana?? Suara yang sangat ku kenal “aku di rumah, kenapa sayang??? Jawabku semangat “ kamu sama siapa?? Aku kerumah kamu ya?? Bosan di bar” “oke……” jawabku tanpa berpikir panjang
Yah… pacarku memang datang saat aku sangat membutuhkan teman, seperti malam ini.
Tak
lama motor Hady sudah ku dengar di depan rumah.
“kamu kok
sendiri” sapanya
“iyaaaa papa lembur, bibi sibuk. Makasih yah kamu
mau datang”.
“ya sayang”
Malam
itu aku banyak bercerita, Hady hanya mengangguk. Aku tak tahu ia
mendengarku, atau hanya sekedar menghargai aku.
Aku
pun mulai ngantuk, dan tertidur di pundak Hady. Hady menggendongku,
dan mengantarku ke kamar. Aku tak tahu apa yang kami lakukan setelah
itu. Hady mengajakku kedalam samudra yang begitu luas. Disana kadang
aku merasa takut, namun Hady tetap memegang kedua tanganku. Cukup
lama aku dan Hady melewati dan menikmati samudra luas itu.
Ketika
menjelang pagi, aku dan Hady memutuskan kembali ke daratan. Dan
ketika aku dan Hady sampai, perahu yang kami tumpangi pecah. Aku
mulai sadar apa yang telah terjadi
******
Aku
sadar dari lamunanku, ketika lonceng gereja berbunyi.
Ah
waktunya aku mengikuti adorasi,,,,,
Aku
telah melewati hidupku yang begitu rumit.
Langkahku
semakin mantap menuju gereja. Kembali teringat kejadian memalukan
yang pernah aku lakukan malam itu, dan penyesalan yang membuatku
ingin mengahkiri hidupku, karena takut Papa malu. Tetapi, ternyata
Pacarku yang selama ini tak pernah kudengar menarik tanganku. Ia
berbisik padaku” Aku takkan meninggalkanmu, kembalilah padaku
Yohana. Aku bukan Hady, yang pergi dan meninggalkanmu. Tetapi aku
pacarmu yang selalu setia ada di hatimu”
Kini
aku telah kembali pada-Nya. Ia memelukku dan di pundak-Nya aku
menangis. Ia tetap tersenyum, meski aku sering melupakan-Nya
Ia
menghiburku,,,,, sungguh benar apa yang Ia katakan
“ aku
seperti anak yang selama ini menghilang yang kembali kepada
Bapanya”
Di
gereja aku memandang wajah Yesus,,,,,,,,,,
Sungguh
Dialah pacarku yang setia. Yang tidak akan pernah meninggalkan aku
Bila
dunia menolakmu, Tuhan tak pernah menolakmu. Ia tau begitu sulitnya
kau mencari terang, ketika kegelapan mengelilingimu. Percayalah, Ia
akan menjemputmu di depan pintu, yang tak seorangpun tahu dimana
pintu itu berada.
Yoh, cierta ini membuat saya menitikkan air mata. Sangat menyentuh karena ini pengalaman personalmu. salam sayang
BalasHapus