Aktivis juga Romantis
Menemukan
cinta dalam selimut perjuangan, saat cinta tak semudah menarik masa, saat
cinta tak semudah membawa pengeras suara untuk berjuang melawan ketidakadilan”
Malang, 10 Mei
2015 menyusuri jalan yang berliku hingga ahkirnya sosok yang dicari ditemui di
sudut kedai kopi milik pak tua zaman perjuangan yang dengan semangatnya
menceritakan tentang perjuangan Orde Baru.
Aktivis muda, ia
tak ingin memperkenalkan namanya, namun hanya memberikan inisialnya TMR.
Mahasiswa di salah satu kampus swasta di Malang ini mulai membuka lembaran
lamanya dengan menyeduh kopi ke dalam gelas kecilnya.
Tahun 2010-2013,
ia masih berada di salah satu kota besar di Indonesia, Makasar. Di kota yang
terkenal dengan pergerakan mahasiswanya ini, TMR harus dikeluarkan dengan tidak
hormat dari kampus, karena alasan yang tidak bisa ia ceritakan. Di kampus
swasta itu TMR harus pergi. Suaranya sebagai seorang mahasiswa yang
meneriakkan keadilan seolah dibungkam dengan membawanya pergi secara paksa dari
kota Daeng.
Harapannya tidak
pergi begitu saja untuk menjadi seorang sarjana, datanglah ia ke kota “kripik tempe” ini membawa sejuta harapan yang masih tersisa,
meski sedikit saja keyakinan yang ia miliki. Kadang ia harus menanggung cercaan,
karena ia seorang aktivis yang dianggap terlalu kritis dan seorang provokator.
Kehidupannya yang lekat dengan teriakan, tangan yang mengepal untuk berjuang,
membuatnya harus menerima banyak sindiran, namun TMR tetaplah TMR yang tidak
akan ubah menjadi oranglain. Namun semuanya terjawab, saat ia ditolak dari salah satu kampus yang ia daftar.
TMR pun kehilangan harapan. Ia ingin pulang, pulang darimana ia datang dan
mimpinya pun seolah kandas.
Harapan pun
seolah masih terbuka untuknya, saat seniornya menawarkannya untuk masuk ke
sebuah kampus swasta. Ia seolah menemukan jalan lain, kampus swasta yang kini
menjadi ladangnya untuk melanjutkan pendidikan strata satunya menjadi pelabuhan
terahkirnya dari persimpangan yang ia temukan. Dan kisah cintanyapun dimulai.
Berawal dari 23
September 2013, TMR menemukan sosok yang membuatnya memiliki alasan untuk
berlari secepat mungkin ke kampus dan mengubah segalanya tentang dirinya
sendiri, yang membuatnya menjadi oranglain. Dan tidak menunggu lama, ia pun
kembali, tidak bisa mempertahankan dirinya menjadi oranglain untuk mendapatkan
perhatian gadis yang ia juluki “malaikat berkerudung”. Perjuangan mendapatkan
si malaikat berkerudung tak hanya sebuah teriakan tanpa makna, tetapi sebuah
pencarian yang sangat lama.
Satu cerita mirisnya,
saat ia harus berjalan kaki sejauh 7 km karena si malaikat berkerudung takut
bersamanya dalam sebuah angkot. Sosoknya yang kritis, bicaranya yang lantang
dan caranya berjalan, berpakaian dan semua hal tentangnya sebagai seorang
aktivis membuat malaikat berkerudung yang berasal dari negara tetangga tersebut
memandang sebagai seorang monster. “Ia sangat takut untuk berbicara bahkan
sekedar memandang saya,” katanya dengan nada pilu.
Berbagai cara ia
lakukan untuk mendapatkan hati si malaikat,
namun mendapatkan hatinya tak semudah turun aksi dan meneriakan
pendapatnya. Dari sanalah, TMR datang sebagai penulis puisi romantis.
Puisi-puisi dengan kritikan seolah ia tinggalkan sejenak, untuk menggali
kata-kata indah untuk sang malaikat.
“ saya memujanya
di setiap tulisan saya, dan tulisan saya adalah dia. Dia adalah puisi”
ungkapnya. Meski cintanya harus bertepuk sebelah tangan, puisi-puisi TMR banyak
disukai oleh mahasiwa bahkan juga dosen. Sejauh ini ia telah menulis kurang
lebih 90 puisi untuk sang malaikat, dan puisinya telah dibukukan bersama
penulis lainnya dalam buku “ Anggun Siapalah Daku” yang telah rilis di
kalangan mahasiswa dan dosen sejak bulan April.
Selain menjadi
seorang penulis puisi saat ini, TMR juga aktif dalam organisasi lain seperti
KAMAPALA, KOPISEMU dan sering bergabung dalam acara-acara pentas para sastra di
Malang. Selain itu, TMR kerap kali masuk dalam kontributor terbaik menulis buku
dibeberapa ajang yang diselenggarakan media sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar