Kamis, 19 Mei 2016

aktivis juga romantis



Aktivis juga Romantis
Menemukan cinta dalam selimut perjuangan, saat cinta tak semudah menarik masa, saat cinta tak semudah membawa pengeras suara untuk berjuang melawan ketidakadilan”
Malang, 10 Mei 2015 menyusuri jalan yang berliku hingga ahkirnya sosok yang dicari ditemui di sudut kedai kopi milik pak tua zaman perjuangan yang dengan semangatnya menceritakan tentang perjuangan Orde Baru.
Aktivis muda, ia tak ingin memperkenalkan namanya, namun hanya memberikan inisialnya TMR. Mahasiswa di salah satu kampus swasta di Malang ini mulai membuka lembaran lamanya dengan menyeduh kopi ke dalam gelas kecilnya.
Tahun 2010-2013, ia masih berada di salah satu kota besar di Indonesia, Makasar. Di kota yang terkenal dengan pergerakan mahasiswanya ini, TMR harus dikeluarkan dengan tidak hormat dari kampus, karena alasan yang tidak bisa ia ceritakan. Di kampus swasta itu TMR harus pergi. Suaranya sebagai seorang mahasiswa yang meneriakkan keadilan seolah dibungkam dengan membawanya pergi secara paksa dari kota Daeng.
Harapannya tidak pergi begitu saja untuk menjadi seorang sarjana, datanglah ia ke kota “kripik tempe”  ini membawa sejuta harapan yang masih tersisa, meski sedikit saja keyakinan yang ia miliki. Kadang ia harus menanggung cercaan, karena ia seorang aktivis yang dianggap terlalu kritis dan seorang provokator. Kehidupannya yang lekat dengan teriakan, tangan yang mengepal untuk berjuang, membuatnya harus menerima banyak sindiran, namun TMR tetaplah TMR yang tidak akan ubah menjadi oranglain. Namun semuanya terjawab, saat ia  ditolak dari salah satu kampus yang ia daftar. TMR pun kehilangan harapan. Ia ingin pulang, pulang darimana ia datang dan mimpinya pun seolah kandas.
Harapan pun seolah masih terbuka untuknya, saat seniornya menawarkannya untuk masuk ke sebuah kampus swasta. Ia seolah menemukan jalan lain, kampus swasta yang kini menjadi ladangnya untuk melanjutkan pendidikan strata satunya menjadi pelabuhan terahkirnya dari persimpangan yang ia temukan. Dan kisah cintanyapun dimulai.
Berawal dari 23 September 2013, TMR menemukan sosok yang membuatnya memiliki alasan untuk berlari secepat mungkin ke kampus dan mengubah segalanya tentang dirinya sendiri, yang membuatnya menjadi oranglain. Dan tidak menunggu lama, ia pun kembali, tidak bisa mempertahankan dirinya menjadi oranglain untuk mendapatkan perhatian gadis yang ia juluki “malaikat berkerudung”. Perjuangan mendapatkan si malaikat berkerudung tak hanya sebuah teriakan tanpa makna, tetapi sebuah pencarian yang sangat lama.
Satu cerita mirisnya, saat ia harus berjalan kaki sejauh 7 km karena si malaikat berkerudung takut bersamanya dalam sebuah angkot. Sosoknya yang kritis, bicaranya yang lantang dan caranya berjalan, berpakaian dan semua hal tentangnya sebagai seorang aktivis membuat malaikat berkerudung yang berasal dari negara tetangga tersebut memandang sebagai seorang monster. “Ia sangat takut untuk berbicara bahkan sekedar  memandang saya,” katanya dengan nada pilu.
Berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan hati si malaikat,  namun mendapatkan hatinya tak semudah turun aksi dan meneriakan pendapatnya. Dari sanalah, TMR datang sebagai penulis puisi romantis. Puisi-puisi dengan kritikan seolah ia tinggalkan sejenak, untuk menggali kata-kata indah untuk sang malaikat.
“ saya memujanya di setiap tulisan saya, dan tulisan saya adalah dia. Dia adalah puisi” ungkapnya. Meski cintanya harus bertepuk sebelah tangan, puisi-puisi TMR banyak disukai oleh mahasiwa bahkan juga dosen. Sejauh ini ia telah menulis kurang lebih 90 puisi untuk sang malaikat, dan puisinya telah dibukukan bersama penulis lainnya dalam buku   “ Anggun Siapalah Daku” yang telah rilis di kalangan mahasiswa dan dosen sejak bulan April.
Selain menjadi seorang penulis puisi saat ini, TMR juga aktif dalam organisasi lain seperti KAMAPALA, KOPISEMU dan sering bergabung dalam acara-acara pentas para sastra di Malang. Selain itu, TMR kerap kali masuk dalam kontributor terbaik menulis buku dibeberapa ajang yang diselenggarakan media sosial.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar