Karena
dalam kesendirian, sebuah pemikiran akan datang. Bagai air murni dari
pegunungan, dalam kesendirian tanpa suara sumbang, suara hati didengar.
Kesendirian dalam kesunyian mengajarkan bahwa ahkir dari hidup adalah
kesendirian itu sendiri.za
Saat menulis cerita ini
aku bingung memilih judulnya. Jomblo? Hmm akan membuatmu merasa lucu saat
membaca? Aku memilih judul lain yang membuatmu berpikir tidak sejauh caraku
berpikir.
Semua
anak kos, kecuali aku selalu mendata berapa kali mereka putus dalam setahun,
mendata berapa yang menyukai mereka dalam
setahun, sekaligus mendata berapa kali mereka menasihatiku untuk meninggalkan
statusku yang membuat mereka harus lelah menasihatiku. Mungkin status yang membuat
mereka dan seluruh perabot kos harus menderita.
Jomblo. Ya kan ini hal yang biasa, yang penting aku bukan single parent.
Argh aku terlalu jauh berpikir seperti itu.
Iya... namaku Yanti, semester 4,
jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hm aku lupa satu, aku kelas A di kampusku,
dengan jabatan anggota biasa. Dan di
kos, statusku leader huru-hara. Karena kesepian akan melanda pada diri mereka,
meskipun mereka jauh dari kata “kesendirian” ya mungkin seperti itu. Karena aku
akan ditanyai saat pulang terlambat, kenapa tidak pulang. Hm aku kadang betah
dengan perhatian seperti itu. Tetapi yang sebenarnya mereka merindukan suaraku,
eits bukan karena suara mirip Celina Dion ya, tetapi suaraku mirip drum yang
kosong isinya. Hahhaha ya seperti itu, aku selalu rendah hati mengakui hal itu.
Argh.....buatku hal yang paling kutunggu di
hari sabtu sore atau yang beberapa menit lagi malam minggu, ya malam yang
panjang menurut anak kos adalah hujan. Karena yang kulakukan saat itu aku akan
tidur sepuas mungkin, dan akan bangun di
pagi hari dengan mendengarkan cerita para gadis korban malming(malam minggu). Dan alasan ini yang membuat aku di vonis
manusia paling aneh di kos. Aku tidak bilang mereka penjahat, karena aku tak
pernah merasa marah sedikitpun akan olokkan seperti itu. Bagiku mereka kakak
yang super duper kompak. Paling baik dan
sangat perhatian, ya meskipun kadang cara mereka berbeda-beda, tapi mereka
kakak-kakak yang selalu buatku betah berada di kos yang sudah lama aku tempati ini. Aku pernah dinasihat selama 5 jam.
Iya..... bisa bayangkan 5 jam itu
seperti saksi pembunuhan yang di periksa tim penyidik. Kenapa aku dinasihat
selama itu, ya alasannya cuma satu, aku yang selalu malas merespon saran mereka
untuk memiliki pacar. Aku beginilah, aku begitulah. Ah bosan. Dan hal konyol
yang pernah mereka sarankan adalah, memeriksa kejiwaanku. Saat itu aku antara
marah dan lucu. Iya itu ide konyol yang pernah ada.
Aku ditanya alasan tidak pacaran sampai saat
ini. Mereka sebenarnya peduli dan sayang kok. Tapi buat aku itu pertanyaan yang
kesekian yang sangat konyol. Iya....konyol!!!! Pertanyaan seperti itu sudah sering buat telingaku geram
sejak aku SMA. Lucu ya telingahku sampai
geram. Saking bosannya ia mendengar pertanyaan yang sama . Aku tidak marah,
tetapi aku sering merasa aneh dengan pertanyaan seperti itu. Aku pernah punya
jawaban yang membuat mereka tertawa, saat aku bilang aku ingin memberikan
hidupku untuk Tuhan. Dan saat itu aku hanya tersenyum memandang betapa bahagianya mereka
menertawakan alasanku. Itu menyedihkan
menurut mereka.
Semua punya alasan
menurutku. Saat ulangtahunku yang ke 20, aku sempat bingung dengan ucapan
mereka di medsos. Ada yang memintaku
untuk segera punya pacar, ada yang mengatakan bahwa aku jomblo yang genap usia
10 tahun. Yapz... 10 tahun?? Artinya 10 tahun yang lalu aku masih berusia 10
tahun masih kelas V SD, dengan usia seperti itu apa aku harus punya pacar?? Ya,
aku bukan anak SD usia masa kini kan? Yang lagi trendnya cinta monyet saat usianya
masih pantasnya main karet gelang.
Ya..bagiku, itu doa
yang mungkin akan buat Tuhan tersenyum. Kenapa mereka tidak mendoakanku jadi
anggota dewan atau presiden?? Dengan begitukan aku bisa menurunkan harga beras.
Dan yang paling penting lagi itu akan merugikan anak kos yang punya seribu satu
alasan dengan harga sembako naik untuk jatah bulanan, setidaknya aku
meringankan beban orangtua mereka. Kan kasihan, katanya penerus bangsa, tetapi
terkadang sikap kepedulian akan statusnya sebagai penerus bangsa itu sebenarnya
aku lupa ada tidak ya? Argh, aku akan menjadi orang yang sangat bosan membahas
tentang itu. Sebenarnya aku setuju dan ingin berada di pihak yang menyetujui
pikiranku, tetapi itu membosankan. Karena terlalu banyak orang yang berbicara
atas namaku dan pikiranku, tetapi mereka yang membius seribu mata dengan retorika
kelas atas, tanpa aksi nyata.
Terlalu panjang lebar
aku membicarakan ini, ah lupa tema cerita ini kan jomblo. Ah aku harus
mengatakannya juga, sepertinya negaraku juga sedang jomblo. Maksudku bukan negaraku,
tetapi penghuninya. Ia penghuninya, sukanya jalan sendiri. Sukanya berkompromi
pada kelompok kecil. Ya, yang ahkirnya melahirkan seribu satu penyimpangan yang
dipulikasi bak drama tanpa sutradara tapi memiliki pemain handal yang mengakui
dirinya sekedar figuran, ternyata dalam aksinya adalah pelaku utama. Aku ingin
kakak-kakakku sesekali menertawakan kejomblooan yang di miliki ibu pertiwi ini.
Tidak hanya menertawakanku yang lebih betah tidur di kos malam minggu, tetapi juga
mereka yang duduk dibangku dewan yang mengatasnamakan generasiku dan kerjanya
tidur.
Bagiku, berjalan
dibawah payung tanpa harus ditemani sosok seperti yang mereka katakan adalah
sebuah cerita tentang payung
itu. Bukan tentang orang di dalam payung. Karena perjuangan yang
dilakukan seseorang dibawah payung tersebut, akan membawa cerita baru pada
payung tersebut.
Kenapa aku sendiri? Alasan
pertama, aku masih kuliah dan ingin menyelesaikan kewajibanku pada orangtuaku.
Kedua, memiliki pacar membuatku menyibukkan diri, karena aku memang orang sibuk
yang tidak ingin dipaksa untuk sibuk dengan kedatangan tamu yang membuatku
sibuk. Ketiga, aku memiliki jatah bulanan yang sudah kuperhitungkan, dimana aku
tidak menyisihkan untuk malam minggu yang harus mengeluarkan biaya, karena aku
tahu pastinya orangtuaku malam minggunya juga hanya di rumah. Keempat, aku
belum siap pacaran karena ketiga alasan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar