Senin, 23 Mei 2016

Tentang Kesendirian yang Beralasan



Karena dalam kesendirian, sebuah pemikiran akan datang. Bagai air murni dari pegunungan, dalam kesendirian tanpa suara sumbang, suara hati didengar. Kesendirian dalam kesunyian mengajarkan bahwa ahkir dari hidup adalah kesendirian itu sendiri.za



Saat menulis cerita ini aku bingung memilih judulnya. Jomblo? Hmm akan membuatmu merasa lucu saat membaca? Aku memilih judul lain yang membuatmu berpikir tidak sejauh caraku berpikir.
Semua anak kos, kecuali aku selalu mendata berapa kali mereka putus dalam setahun, mendata berapa yang  menyukai mereka dalam setahun, sekaligus mendata berapa kali mereka menasihatiku untuk meninggalkan statusku yang membuat mereka harus lelah menasihatiku. Mungkin status yang membuat mereka dan seluruh perabot kos harus menderita.  Jomblo. Ya kan ini hal yang biasa, yang penting aku bukan single parent. Argh aku terlalu jauh berpikir seperti itu.
            Iya... namaku Yanti, semester 4, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hm aku lupa satu, aku kelas A di kampusku, dengan jabatan  anggota biasa. Dan di kos, statusku leader huru-hara. Karena kesepian akan melanda pada diri mereka, meskipun mereka jauh dari kata “kesendirian” ya mungkin seperti itu. Karena aku akan ditanyai saat pulang terlambat, kenapa tidak pulang. Hm aku kadang betah dengan perhatian seperti itu. Tetapi yang sebenarnya mereka merindukan suaraku, eits bukan karena suara mirip Celina Dion ya, tetapi suaraku mirip drum yang kosong isinya. Hahhaha ya seperti itu, aku selalu rendah hati mengakui hal itu.
 Argh.....buatku hal yang paling kutunggu di hari sabtu sore atau yang beberapa menit lagi malam minggu, ya malam yang panjang menurut anak kos adalah hujan. Karena yang kulakukan saat itu aku akan tidur sepuas  mungkin, dan akan bangun di pagi hari dengan mendengarkan cerita para gadis korban malming(malam minggu).  Dan alasan ini yang membuat aku di vonis manusia paling aneh di kos. Aku tidak bilang mereka penjahat, karena aku tak pernah merasa marah sedikitpun akan olokkan seperti itu. Bagiku mereka kakak yang super duper  kompak. Paling baik dan sangat perhatian, ya meskipun kadang cara mereka berbeda-beda, tapi mereka kakak-kakak yang selalu buatku betah berada di kos yang sudah lama aku tempati  ini. Aku pernah dinasihat selama 5 jam. Iya.....  bisa bayangkan 5 jam itu seperti saksi pembunuhan yang di periksa tim penyidik. Kenapa aku dinasihat selama itu, ya alasannya cuma satu, aku yang selalu malas merespon saran mereka untuk memiliki pacar. Aku beginilah, aku begitulah. Ah bosan. Dan hal konyol yang pernah mereka sarankan adalah, memeriksa kejiwaanku. Saat itu aku antara marah dan lucu. Iya itu ide konyol yang pernah ada.
 Aku ditanya alasan tidak pacaran sampai saat ini. Mereka sebenarnya peduli dan sayang kok. Tapi buat aku itu pertanyaan yang kesekian yang sangat konyol. Iya....konyol!!!! Pertanyaan  seperti itu sudah sering buat telingaku geram sejak aku  SMA. Lucu ya telingahku sampai geram. Saking bosannya ia mendengar pertanyaan yang sama . Aku tidak marah, tetapi aku sering merasa aneh dengan pertanyaan seperti itu. Aku pernah punya jawaban yang membuat mereka tertawa, saat aku bilang aku ingin memberikan hidupku  untuk Tuhan.  Dan saat itu aku hanya tersenyum  memandang betapa bahagianya mereka menertawakan  alasanku. Itu menyedihkan menurut mereka.
Semua punya alasan menurutku. Saat ulangtahunku yang ke 20, aku sempat bingung dengan ucapan mereka di medsos. Ada yang  memintaku untuk segera punya pacar, ada yang mengatakan bahwa aku jomblo yang genap usia 10 tahun. Yapz... 10 tahun?? Artinya 10 tahun yang lalu aku masih berusia 10 tahun masih kelas V SD, dengan usia seperti itu apa aku harus punya pacar?? Ya, aku bukan anak SD usia masa kini kan? Yang lagi trendnya cinta monyet saat usianya masih pantasnya main karet gelang.
Ya..bagiku, itu doa yang mungkin akan buat Tuhan tersenyum. Kenapa mereka tidak mendoakanku jadi anggota dewan atau presiden?? Dengan begitukan aku bisa menurunkan harga beras. Dan yang paling penting lagi itu akan merugikan anak kos yang punya seribu satu alasan dengan harga sembako naik untuk jatah bulanan, setidaknya aku meringankan beban orangtua mereka. Kan kasihan, katanya penerus bangsa, tetapi terkadang sikap kepedulian akan statusnya sebagai penerus bangsa itu sebenarnya aku lupa ada tidak ya? Argh, aku akan menjadi orang yang sangat bosan membahas tentang itu. Sebenarnya aku setuju dan ingin berada di pihak yang menyetujui pikiranku, tetapi itu membosankan. Karena terlalu banyak orang yang berbicara atas namaku dan pikiranku, tetapi mereka yang membius seribu mata dengan retorika kelas atas, tanpa aksi nyata.
Terlalu panjang lebar aku membicarakan ini, ah lupa tema cerita ini kan jomblo. Ah aku harus mengatakannya juga, sepertinya negaraku juga sedang jomblo. Maksudku bukan negaraku, tetapi penghuninya. Ia penghuninya, sukanya jalan sendiri. Sukanya berkompromi pada kelompok kecil. Ya, yang ahkirnya melahirkan seribu satu penyimpangan yang dipulikasi bak drama tanpa sutradara tapi memiliki pemain handal yang mengakui dirinya sekedar figuran, ternyata dalam aksinya adalah pelaku utama. Aku ingin kakak-kakakku sesekali menertawakan kejomblooan yang di miliki ibu pertiwi ini. Tidak hanya menertawakanku yang lebih betah tidur di kos malam minggu, tetapi juga mereka yang duduk dibangku dewan yang mengatasnamakan generasiku dan kerjanya tidur. 
Bagiku, berjalan dibawah payung tanpa harus ditemani sosok seperti yang mereka katakan adalah sebuah  cerita tentang  payung  itu. Bukan tentang orang di dalam payung. Karena perjuangan yang dilakukan seseorang dibawah payung tersebut, akan membawa cerita baru pada payung tersebut.
Kenapa aku sendiri?  Alasan pertama, aku masih kuliah dan ingin menyelesaikan kewajibanku pada orangtuaku. Kedua, memiliki pacar membuatku menyibukkan diri, karena aku memang orang sibuk yang tidak ingin dipaksa untuk sibuk dengan kedatangan tamu yang membuatku sibuk. Ketiga, aku memiliki jatah bulanan yang sudah kuperhitungkan, dimana aku tidak menyisihkan untuk malam minggu yang harus mengeluarkan biaya, karena aku tahu pastinya orangtuaku malam minggunya juga hanya di rumah. Keempat, aku belum siap pacaran karena ketiga alasan tersebut.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar