Selasa, 24 Januari 2017

Reil Tokoh yang Manis




Untuk waktu yang telah membawamu pergi,
Maaf, karena untuk sebentar saja aku meminta izin kepadaMu, untuk menulis beberapa paragraf yang mungkin tidak bermakna untuk gadis yang Kau jemput pada sore itu. Dan biarkan aku mengakuinya sebagai sahabatku untuk saat ini, karena banyak yamg kuketahui tentangnya saat bersama menghirup udara di pagi hari di kota dingin tempat Kau mempertemukan kami.
Aku tahu, bahwa akan ada tangis saat kuingat kembali semua yang telah kau ambil dari sisiku, dan aku diajarkan untuk diam dalam sujud atas semua yang terjadi, bahkan olehMulah aku memilih untuk merindukannya dalam rangkaian kata yang sering kurajut bersama sahabatku, saat senja menyapa .
Namanya Reil Manis. Semanis kau mengukir senyumnya yang manis menyapaku pulang di depan rumah milik orang yang kami tumpangi satu tahun bersama. Masih kuingat saat aku diusir sepulang futsal karena kegaduhan yang kami ciptakan, Reil dengan santai mengikutiku “ayo pindah, padahal ku tahu saat itu belumlah lama ia dipuji pemilik rumah karena sikapnya yang manis.
Aku tahu, kehabisan kata bila aku menulis semua yang kujalani bersamanya. Ia sosok yang mengerti banyak hal tentang hidup yang kujalani, pilihan yang kutempuh dan cerita yang kulakoni.
Reil.....aku menyebutnya pada bagian terahkir dalam doaku, setelah orangtuaku. Aku tahu betapa berat aku menulis cerita tentangnya untuk kubuktikan pada dunia betapa baiknya Kau menghadirkan setiap tokoh disisiku. Betapa sering aku kehilangan tokoh-tokoh penting disekitarku.
Kau membawa Reil pergi, setelah mengizinkanku menemuinya sebagai sahabat. Karena setelah kembali padaMu, aku hanya bisa berharap ia mengingatku sebagai sahabatnya. Dan jika tidak, maka Kau cukup adil karena menghapus tinta-tinta hitam dalam perjalanan hidupnya di dunia ini. Dan jikalau ia, aku hanya berterimakasih kepadaMu Tuhan.
Terimakasih pernah menghadirkan seorang yang begitu sabar, terimakasih telah menyembuhkan sahabatku dari sakitnya, dan terimakasih karena kutahu ia telah sembuh bersamaMu di Surga.
Selebihnya, aku kembalikan sahabatku padaMu Tuhan.
Ia gadis yang baik. Ia mencintaiMu dengan caranya dan aku tahu itu. Kau tahu Tuhan, aku merindukannya. Sangat!!
Aku ingin menulis sebanyak yang kubisa. Sebanyak kau menganugrahkan ini.
Dan bila senja menjemput dunia yang ia jalani, katakan padanya bahwa dunia yang i yang kujalani sangat merindukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar