Untuk waktu yang telah
membawamu pergi,
Maaf, karena untuk sebentar
saja aku meminta izin kepadaMu, untuk menulis beberapa paragraf yang mungkin tidak
bermakna untuk gadis yang Kau jemput pada sore itu. Dan biarkan aku mengakuinya
sebagai sahabatku untuk saat ini, karena banyak yamg kuketahui tentangnya saat
bersama menghirup udara di pagi hari di kota dingin tempat Kau mempertemukan
kami.
Aku tahu, bahwa akan ada tangis
saat kuingat kembali semua yang telah kau ambil dari sisiku, dan aku diajarkan
untuk diam dalam sujud atas semua yang terjadi, bahkan olehMulah aku memilih
untuk merindukannya dalam rangkaian kata yang sering kurajut bersama sahabatku,
saat senja menyapa .
Namanya Reil Manis. Semanis kau
mengukir senyumnya yang manis menyapaku pulang di depan rumah milik orang yang
kami tumpangi satu tahun bersama. Masih kuingat saat aku diusir sepulang futsal
karena kegaduhan yang kami ciptakan, Reil dengan santai mengikutiku “ayo pindah, padahal ku tahu saat itu
belumlah lama ia dipuji pemilik rumah karena sikapnya yang manis.
Aku tahu, kehabisan kata bila
aku menulis semua yang kujalani bersamanya. Ia sosok yang mengerti banyak hal
tentang hidup yang kujalani, pilihan yang kutempuh dan cerita yang kulakoni.
Reil.....aku menyebutnya pada
bagian terahkir dalam doaku, setelah orangtuaku. Aku tahu betapa berat aku menulis
cerita tentangnya untuk kubuktikan pada dunia betapa baiknya Kau menghadirkan
setiap tokoh disisiku. Betapa sering aku kehilangan tokoh-tokoh penting
disekitarku.
Kau membawa Reil pergi, setelah
mengizinkanku menemuinya sebagai sahabat. Karena setelah kembali padaMu, aku
hanya bisa berharap ia mengingatku sebagai sahabatnya. Dan jika tidak, maka Kau
cukup adil karena menghapus tinta-tinta hitam dalam perjalanan hidupnya di
dunia ini. Dan jikalau ia, aku hanya berterimakasih kepadaMu Tuhan.
Terimakasih pernah menghadirkan
seorang yang begitu sabar, terimakasih telah menyembuhkan sahabatku dari
sakitnya, dan terimakasih karena kutahu ia telah sembuh bersamaMu di Surga.
Selebihnya, aku kembalikan sahabatku
padaMu Tuhan.
Ia gadis yang baik. Ia mencintaiMu
dengan caranya dan aku tahu itu. Kau tahu Tuhan, aku merindukannya. Sangat!!
Aku ingin menulis sebanyak yang
kubisa. Sebanyak kau menganugrahkan ini.
Dan bila senja menjemput dunia
yang ia jalani, katakan padanya bahwa dunia yang i yang kujalani sangat
merindukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar