Selasa, 17 November 2015

Chandra



Chandra

Kepergiannya menjadi inspirasi saya menulis narasi ini. Putih abu-abu. Masa yang menurut teman-teman saya saat ini, masa yang paling ingin mereka lalui dua kali lagi dalam hidup mereka. Yang tentunya dengan usia yang masih sama.
Masa putih abu-abu menurut saya adalah  sebuah masa yang memiliki cerita yang paling unik dari semua masa yang telah saya lalui sejauh ini. SD, SMP bahkan Perguruan Tinggi memiliki cerita yang tak seunik masa SMA.
 Namanya Chandra. Saya mengenal sosok ini awal sejak saya duduk di bangku SMA. Awal saya mengetahui namanya, saat ia meminjam penggaris. Ia bukan sosok yang begitu saya suka awalnya, karena saya harus meminta sendiri penggaris yang ia pinjam.
Chandra tak hanya menjadi teman kelas saya saat kelas X. Naik ke kelas XI dan kelas XII, ternyata kami masih sekelas karena berada di kelas yang sama. Kelas Bahasa.
            Seakan dibisik angin malam. Sejenak saya berhenti berpikir, memandang cemburu ke arah langit malam. Secepat itukah waktu berlalu? Hingga saya hanya bisa mengenang mereka dalam bayangan yang tak sesempurna realita lagi. Dan tersenyum simpul, memandang seorang pemuda tampan berbalut kain putih yang sedang dipeluk malaikat bersayap.
Situasi kelas yang sangat seru.  Gaduh. Teman  kelas yang punya sejuta tingkah konyol, unik dan menyakitkan ada di kelas kami. Bahkan gurupun harus mengelus dada melihat keseruan dan kekonyolan yang berujung dengan sanksi. Ya menyakitkan buat saya, karena saya pernah kumat karena kekonyoloan itu.
Masih sangat bekas diingatan saya. Teman-teman kelas, yang saat ini berbeda kota dari kota dingin yang saya tempati saya ini. Ya,,,, kami dipertemukan karena cita-cita, berjuang bersama untuk cita-cita, berpisah demi cita-cita.
Okey, saya akan menulis nama mereka.  Mulai dari ketua kelas,  Rober Manggur yang sekarang hidupnya sangat sukses. Fotonya di facebook selalu memakai kemeja, ia ketua kelas yang menurut saya paling bijak dalam setiap keputusannya. Ada juga Ano Apriano. Hmmm Ano adalah sosok yang menurut saya sangat kalem, tetapi kalau sedang curhat mengenai masalah hati, kalemnya hilang. Tian Saputra, yang ini sering disapa “nara” oleh Trina Huni. Tian, ia pintar, lucu dan kritis. Aldo Aldino hmmm yang ini saya bingung, karena sering disapa “bulat”. Menurut Atik, sapaan ini karena bentuk kepalanya. Hehehe ... Aldo sosok yang ramah.  Rivan, saya sering menyapanya Ipang. Punya sapaan sayang untuk saya, Neta, Yani Parungato “ rigit atau rebus”.  Menurutnya  kami bertiga memiliki rambut yang unik, karena sangat bergelombang. Ada juga Fian, gosip terahkir yang saya dengar tentang Fian, dia adalah mantan Yani Parungato,,,hahaha.... Hendro sekarang frater, dan Fridus. Mereka bertiga adalah laki-laki di kelas yang paling diam. Akan berbicara kalau mereka benar-benar berada didekat pembicara. Sisko, ini yang suka curhat. Sukanya duduk paling belakang. Yano,Chiril, dan Edo, mereka bertiga paling suka duduknya dekat Cici, Nita, dan Elvi. Alasannya sekelas tahu, karena Cici suka membawa kue. Ya mengertilah apa yang mereka inginkan kalau duduknya dekat Cici. Dan ada juga Kristo. Hmm yang ini teman kelas yang aktif di kelas yang sangat sibuk mengurus absen bersama Rober.
 Kalau tadi teman saya yang laki-laki, hmm yang sekarang perempuan. Deretan wanita di kelas saya adalah wanita yang punya seribu satu keunikan. Kami punya sejuta cerita yang tidak bisa ditulis dalam waktu sehari. Iya, kalau para lelaki sukanya bolos, hmm kami juga bisa? Kenapa tidak? Kelas kami sangat kompak. Kompaknya dalam segala hal. Tetapi kami tetap saling mendukung.
 Eits... saya mulai dari Yani Adin, yang duduknya paling depan saat kelas XII.  Hmmm Yani... sosok yang seru kalau diajak ngobrol. Ada juga Elfi, yang paling lembut.  Lusy dan Atik.. hmm satu sekolah tahu, bakat mereka dibidang tari menjadikan mereka sosok yang mudah dikenal banyak orang. Ada juga Yani Parungato dan Icha Saham, yang duduknya tepat di depan meja saya dan Neta. Hmm mereka berdua bukan orang yang mudah diajak ngobrol saat guru ada. Ya biasanya  saat mata pelajaran yang membosankan, semua akan punya kesibukan. Dan kesibukan saya adalah, mengajak dua orang itu ngobrol.  Lalu, si kembar Nastri dan Astri yang sampai saat ini belum bisa saya bedakan. Sangat identik. Duduknya  selalu dekat Elsi yang sering disapa Bule karena paling putih, dan Dela. Keempat wanita ini duduknya tidak pernah pisah. Paling heboh kalau masuk kelas. Ya,,, karena salah satunya pasti ada yang terlambat setiap hari. Ada juga teman asrama saya Trina Huni, yang duduknya dekat Lia si cantik dari Reo, An yang paling imut dan lucu. , dan Yolan hmm yang ini kalau sedang marah, bagai harimau kelaparan. Duduknya paling dekat meja guru. Dari keempat wanita ini, yang paling suka teriak adalah Lia. Yang duduknya paling belakang. Hmm ini wanita yang ngakunya bfp( best friend forever) yang salah satunya, Nadia pernah kerasukan.  Mereka Nadia, Yuni, Asri. Dan yang terahkir Cici, Elvi, Nita...duduknya paling belakang. Dan saya akui tiga wanita ini sangat pintar. Eits ini bukan yang terahkir, ada Neta, teman da juga sahabat saya yang super sabar menghadapi saya. Saya hampir lupa. Hmm Ermin Koresi. Saya lupa, karena jarang sekali masuk kelas. Mungkin karena kesibukannya. Ada juga Ris Anus, anggota dari bfp juga yang paling suka menawarkan jajan.
 Sejenak saya berhenti menulis. Kembali menatap kearah langit biru.  Saya tidak melupakannya, Chandra. Teman dan sahabat yang saat ini saya pandangi. Ia sosok yang sangat cerdas, dan inspirastif.  Menulis tentangnya bukan hal yang mudah, karena saya harus kembali ke beberapa bulan yang lalu saat membuka pesan di pagi hari , dan mendapat kabar“ Chandra Pax” sudah meninggal.  Bagai di tampar seribu tangan, mata terbelalak. Bibir bergerak tak jelas apa yang saya katakan. Chandra??  Saya tidak sedang mimpi. Ia Chandra. Teman kelas saya yang memilih Makasar sebagai tempatnya melanjutkan studynya. Saya membuka facebook, melihat begitu banyak orang yang menulis RIP Chandra. Chandra? Lagi-lagi saya memanggil namanya getir dalam hati. Tuhan, Kau sudah menjemputnya? Tapi kenapa secepat itu? Kenapa tidak nanti saja Tuhan? Saat kami kembali dengan senyum yang sama. Senyum kesuksesan. Tetapi  Tuhan lebih mencintai Chandra.
 Untuk kesekian kalinya saya menghapus airmata dan kembali menulis. Saya tidak tahu, kapan terahkir saya mengabari lelaki hebat itu.
Kembali ke masa indah putih abu-abu, mengenang saat mereka meminta untuk melemparkan tas karena mereka akan bolos. Mengenang saat ia diusir dari kelas, karena guru sastra sedang membaca puisi ia mengiringnya dengan siulan yang menurut saya sangat indah. Merindukan Chandra yang sering terlambat. Chandra yang  pandai berbahasa Inggris, merindukan Chandra yang suka memasukan tangan di dalam saku celananya saat sedang berbicara. Chandra yang pernah mengikuti lomba bahasa Inggris antar kelas. Chandra yang pernah berdebat dengan guru bahasa Inggris. Chandra yang pernah menari di tengah lapang sekolah karena mabuk, Chandra yang suka bolos. Chandra yang pernah mencerita bahwa pacarnya yang salah satu teman asrama saya selingkuh, dan selingkuhan pacarnya melabrakanya. Chandra yang kalau pulang sekolah sering memanggil saya, Chandra yang pernah  bersekolah di sekolah Misi meski hanya satu semester, Chandra yang duduknya paling belakang.  Chandra yang sangat menyayangi teman-temannya, Chandra... iyaa Chandra saya kehabisan cara untuk mengingat semua tentangnya. Terlalu banyak.
 Chan......ia kamu Chan. Kamu sekarang dimana?
Saya disini.
Dimana Chan?
Disini.
Dimana?
Saya disini
Tetapi saya tidak lihat.
Ia....kamu tidak bisa lihat saya. Saya ditempat dimana hanya saya yang bisa lihat kamu.
Tetapi kenapa begitu?
Karena hanya Tuhan yang tahu. Jangan banyak mengeluh, kenapa begitu. Saya lebih bahagia disini.
Tetapi kami mau bertemu dan liat Chand!
Tempat dan dunia kita sudah berbeda. Saatnya akan tiba, kita akan bertemu dan saling memandang. Tetapi bukan sekarang
Chan.....Chann...Chand........


Bahagia di Surga Chandra. Terimakasih karena kita sudah saling mengenal. Kami akan selalu merindukanmu Chand.



Kamis, 29 Oktober 2015

30 oktober

Tentang 30 Oktober

      Aku berhenti dari semua kesibukanku saat aku bangun di pagi hari pada tanggal 29 Oktober. Aku mencoba kembali ke 9 tahun yang lalu pada tanggal ini. Karena 29 Oktober saat itu adalah hari terahkirku bersama mama. Ia mama, yang kini bila aku mendengar namanya disebut selalu diawali kata “almarhumma”.

     Hari itulah, hari yang paling bersejarah dalam hidupku terahkir bersama mama. Hari yang menjadi ahkir perjalanan hidup mama berziarah di bumi ini. Karena mama harus pergi ke tempat yang sangat jauh.
Aku sadar dari lamunanku, setelah mengetik dua paragraf di awal narasiku. Aku mencoba kembali membaca, dan lagi-lagi aku kembali melihat foto editanku saat SMA yang sengaja kuletakkan di meja belajar kosku. Foto yang menjadi inspirasi dari setiap narasiku.. 
 
   30 oktober. Mama meninggalkanku saat usiaku 11 tahun. Aku masih kelas 6 SD. Mama bukan hanya sosok guru Bahasa Indonesia yang punya sejuta lawakan, tetapi juga seorang sahabat yang selalu setia menemaniku ke sekolah. Letak rumah yang sangat jauh dari rumah teman-temanku, membuatku selalu bersama mama ke sekolah. Aku lupa apa saja yang sering aku ceritakan bersama mama saat ke sekolah. Sungguh, 30 Oktober 9 tahun yang lalu adalah kisah perih dibalik tawaku di 30 oktober saat ini.

   Aku tidak melupakan mama, dengan semua cerita masa kecilku bersamanya. Tetapi aku melupakan semua kenanganku bersama mama, karena kenangan itulah yang membuatku menjadi gadis yang sangat manja hingga saat ini.
   9 tahun bukan waktu yang sangat mudah untukku menulis semua cerita tentang hidupku tanpa mama. Aku hidup dalam ketidaksempurnaan akan kasih sayang. Namun aku sadar, arti dari setiap tanggal 30 Oktober di setiap tahun yang Tuhan berikan kepadaku selama ini. Aku hidup tanpa melihat, mendengar suara mama. Tetapi aku selalu bisa melewati semua itu, karena kehangatan kasih sayang mama dalam diri berbeda meski tak sama.

   30 oktober adalah, hari paling bersejarah setiap tahunnya. Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk mengenang terahkir kali aku melihat mama. Tuhan masih mengizinkanku menulis tentang mama, meski aku tak bisa menulis segala yang telah mama berikan padaku. Perjuangannya menggendongku sejauh 1 km saat aku kelas 5 SD, pengorbanannya saat aku sakit dan kesabaran atas semua kenakalan masa kecilku.

   Aku pernah bermimpi. Jika mama masih ada. Ia akan melihatku menjadi seorang mahasiswi. Ia melihat putri bungsunya, yang bukan lagi gadis kecil yang nakal yang sering pergi saat ia memaksaku untuk tidur siang. Dalam mimpiku, mama sudah semakin tua, karena umurku bertambah. Aku melihat mama tersenyum bangga, karena aku telah menjadi seorang gadis dewasa, yang memiliki wajah yang mirip dengannya. Mama juga akan bangga, karena aku bukan gadis kecil yang sering di bully kedua kakakku.

   30 oktober.... aku menangis merindukan mama, aku menangis ingin pulang. Pulang melihat makam mama. Melihat nisan yang diatasnya tertulis nama mama. Aku menangis merindukan makam yang sering aku tiduri saat aku merindukan mama. Merindukan makam, yang penuh dengan lilin saat matahari kembali ke ufuk barat.
     30 oktober..... yang kedua dalam perjalanan hidupku mengenang mama, tanpa melihat nisan indah itu. Aku memandang langit yang tak pernah berubah mamandangku. Sedikit berbisik padanya, aku merindukan mama. Jika kau dekat dengannya, katakan padanya langit, aku mendoakan mama saat ini. Aku mendoakannya untuk tetap berada disampingku langit.

30 oktober, akan penuh dengan cerita setiap tahunnya.


Selasa, 07 Juli 2015



Surat Untukmu Ayah

Ayah….sedang apa dirimu?

   Ayah kurangakai kata dalam narasi sederhana ini, untuk mengenangmu ayah. Aku ingin ayah tahu, betapa indah singgasanamu dalam hatiku ayah.
  Ayah… aku belajar  tegar darimu. Ayah yang selalu menjawab setiap kesusahan dengan senyuman. Ayah yang selalu tertawa, meski yang sebenarnya ayah sedang terluka. Ayah yang selalu tegar menghadap seribu duka dalam hidup ayah. Ayah yang tetap tegar, saat seribu bibir menghujatmu ayah.
 Ayah….aku belajar sabar darimu. Ayah yang selalu sabar menghadapi aku dengan tingkah konyolku. Ayah yang selalu sabar mendengar keluhan buah hatinya, meski saat ini buah hatinya melupakan pelajaran itu darimu ayah. Ayah yang selalu sabar menjadi ibu dan juga ayah bagiku. Ayah yang dengan sabar menggendongku saat aku sakit. Ayah yang dengan sabar mengajarkan aku untuk tampil apa adanya, tanpa harus rakus akan milik oranglain.
  Aku belajar berani darimu  ayah. Ayah yang dengan keberaniannya mampu membawa aku pada dunia yang penuh dengan warna. Ayah yang selalu berani menghadap kesepian. Ayah yang dengan berani memerangi kemalasan dalam diriku.
 Ayah…..aku belajar malu darimu.  Malu untuk memiliki yang bukan milikku. Malu untuk tampil mewah, tanpa memikirkan latarbelakang. Malu karena selalu menghiasi diri seperti benalu. Malu karena tidak punya rasa malu, karena selalu meminta. Malu……karena aku tidak pernah mau berjuang.
 Ayah ,,,,darimu aku belajar menerima diri apa adanya dan mau mencintai apa adanya.
Ayah darimu aku mengerti, bahwa hidup butuh perjuangan.
Ayah,,,darimu aku mengerti, bahwa dunia yang kupijaki tak seindah Surga yang ayah tempati
 Ayah….banyak yang kupelajari darimu. Semua yang ayah berikan, menjadi pelajaran untukku ayah. Ayah, meski banyak bibir mencibirmu, memandangmu sebelah mata, bagiku ayah adalah raja dalam hatiku. Ayah adalah inspirasi dalam narasiku ayah. Ayah adalah nama yang menjadi tema dari seluruh perjalanan hidupku, disamping nama ibu yang terukir indah dalam hati.
 Ayah, berbahagialah di Singgasana yang Mahakuasa. Bersama Ibu dan seribu Malaikat yang menemani ayah. Ayah…. Tetaplah mengajarkan aku kesabaran. Peluk aku dalam doamu ayah. Dan ajarkan aku untuk setia pada Iman yang ayah ajarkan, hingga nanti aku bisa memelukmu ayah dalam dunia kita nanti.

Senin, 18 Mei 2015

puisi




PUISI NAMA
Semangat Kawula Muda
Yuk, mari kita bergegas kawan
Orang harus tahu siapa kita
Hadirkan inovasi dalam dunia kita
Angkatan kita adalah semangat muda
Nestapa yang harus diterpa
Ahkir cerita dalam semangat kawula muda
Bukan sekedar berbicara
Orde lama dan Orde Baru bukan milik kita
Milik kita adalah masa depan bangsa kita
Bukan milik penguasa bermata hijau
Oh,,,,kawan segera kita bergegas
Langit biru menjadi saksi perjuangan kita




      Puisi Defenisi
Cinta

Cinta adalah terang yang kau berikan padaku
Yang menerangi sudut gelap dalam hatiku
Yang melebur kegelisahan dalam jiwaku
Yang menjadi cahaya yang menerangi langkahku

Cinta adalah keindahan dirimu dalam hidupku
Yang mampu membuatku mengindahkan duniaku
Yang memberikanku warna dalam cerita hidupku
Yang menjadikan namamu indah dalam doaku

Cinta adalah kehilangan yang kualami tanpamu
Yang mengubah seluruh cerita hidupku
Yang menghempaskanku dalam duka tentangmu
Yang mengubah terang dan keindahan yang kau berikan padaku

Cinta adalah Iman yang kau titipkan untukku
Yang berbisik padaku, aku tidaklah sendiri
Yang memelukku atas namamu dalam sosok yang berbeda
Yang menyadarkanku duniaku bukan duniamu lagi






Puisi Pesan
Untukmu Sang Arjuna
Janganlah kau singgah bila hanya untuk sesaat
Tetapkan hatimu pada satu nama
Ikatlah janjimu pada satu jiwa
     Janganlah kau puji bila ahkirnya dibenci
     Rebahkan kepalamu pada sesosok saja
     Teguhkan janjimu pada Mahacinta
Janganlah mengukir luka dalam rasa
Lihat wajahnya tak setegar ragamu
Ketahuilah namamu ada dalam bisikan doanya
          Bukalah kedua tanganmu untuk memeluk satu raga saja
           Bukalah hatimu untuk menaungi satu jiwa
           Bukalah matamu untuk menatap dua mata dalam satu cinta

                        
      

Selasa, 28 April 2015

ceritaku

ceritaku

Airmata seakan telah habis . Namun duka tak berhenti datang. Awanpun seakan mengerti, betapa sulitnya untuk bertahan. Kedua kakiku seakan lumpuh. Dan tak ada jalan yang mampu membuatku sedkit berpikir, bahwa masih ada suka dibalik duka ini.
Semua yang didengar dari satu narasumber palsu seakan menjadi sebuah fakta yang harus dipertanggungjawabkan. Sedikit aku merenung, sekeji itukah seorang menilai kepribadian orang lain?
Hidupku bagaikan sebuah mobil yang dikendalikan oleh seorang pengemudi. Dan aku berpikir, pengemudi itupun sedang mabuk. Jalan ini bukan yang aku inginkan, mengapa harus dipaksakan. Aku seakan seperti seorang bayi, yang menunggu dan mendengar saat ibunya mengajarkannya banyak hal.
Saat mentari memancarkan cahayanya, aku mulai mengerti, ini bukan hidupku. Ini bukan jalanku. Aku berhak untuk memilih. Memilih yang bisa kulakukan. Memilih bahwa aku sebenarnya bisa. Lalu mengapa aku harus mengikuti apa yang ia inginkan? Bukankah mobil yang aku tumpangi ini sebenarnya bukan miliknya, tetapi milikku yang ia tumpangi juga?
Seribu keburukan yang ia ceritakan tentangku bukanlah suatu masalah untukku. Meski apa yang menjadi hakku harus dicabut. Dan ini bukanlah sesuatu yang adil untukku, namun aku tahu bahwa hanya dengan itu ia akan puas. Mereka akan bangga. Dan mungkin ini adalah mimpinya, melihat seorang yang hanya bisa hidup karena suatu keyakinan harus menderita. Ya,,,,ini yang ia inginkan. Mimpi sederhana, yang membawaku dalam rasa sakit yang mungkin akan membuatku melupakan masa-masa indah bersamanya, menjadi cerita buruk seumur hidupku.
Aku hanya tersenyum disetiap amarahnya, caciannya, bahkan disetiap sumpah palsu yang sering ia ucapkan. Di relung hatiku yang paling dalam, aku pernah berpikir inikah kasihsayang yang ingin ia tunjukkan. Meski menyakitkan, aku hanya bisa tersenyum. Rasa sakit ini akan aku genggam sampai kapanpun. Rasa sakit ini yang akan aku buktikan kepadanya suatu ketika, bahwa aku begitu mencintai setiap caci makinya, sumpah, bahkan setiap kata yang sering ia ucapkan. Rasa itu yang akan aku tunjukkan kepada semua orang, bahwa hidup itu berat, hidup ini tidak semudah mengedipkan kedua matamu. Aku tidak dendam pada semua sosok yang membanggakan semua kebaikan yang pernah mereka tunjukan dengan sejuta sindiran yang membuat harus bergulat dan berjuang dengan airmata, tetapi aku bangga. Mereka adalah bagian dari cerita dalam hidupku, mereka adalah bagian dari mimpi burukku. Dan mereka adalah sosok yang akan aku ceritakan kepada semua orang, bahwa menyakit hati orang lain tanpa mengerti keaadaannya akan membuat kita menjadi sosok yang hebat namun rendah dimata mereka yang lebih memahami orang itu.
Aku berjuang untuk mereka yang mendoakanku, mereka yang mendukungku dan juga mereka yang menghina aku dan kehidupan orang-orang kucintai. Dan saat airmata ini telah habis, yang bisa kulakukan hanya tersenyum. Hatiku menangis karena sakit.
Aku tahu, yang mengerti akan ini semua hanya Kekasihku. Dan aku hanya memelukNya. Aku bisa karenaMu. Aku yakin, mereka hanyalah tumpukan kerikil yang Kekasihku ciptakan, yang bisa aku lewati.
Dan disetiap tawaku, luka ini sesungguhnya belum sembuh. Masih membekas, sampai kapanpun!!!!!

Doa dan Pengorbanan Seorang Sahabat

Doa dan Pengorbanan Seorang Sahabat

Ia bukan lampu jalan yang akan menyala disaat malam tiba. Ia bukan matahari yang mampu menerangi bumi. Ia bukan bulan yang selalu diindahkan. Ia bukan bintang yang selalu di hitung, mana letak bintang yang paling terang. Dan ia bukanlah emas atau permata yang mahal harganya. Namun, ia hanyalah sebuah lilin yang memberikan terangnya meski harus mengorbankan dirinya.
Begitulah yang sering Charles banggakan tentang sahabatnya. Ia tidak pernah lelah menceritakan tentang sahabat yang telah mengubah hidupnya itu.
Di hari pertama ia masuk dan berdiri di depan kelas sebagai mahasiswa semester 5 prodi Bahasa Indonesia, ia memilih menceritakan nama baik sahabatnya sebagai tugas mata kuliah di kelasnya saat itu.
Matanya berkaca-kaca. Rasa tak sanggup menghantuinya. Peristiwa miris yang telah membuat ia harus kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya dan juga teman kelasnya itu membuatnya merasa gagal menjadi seorang sahabat sejati.
Namanya Dian. Ia sosok yang akan selalu saya ceritakan sepanjang perjalanan hidup saya. Saya mengenal Diana, saat pertama kali saya masuk kuliah. Awal saya mengenalnya, saya pernah berpikir mungkin sahabat saya itu gila. Gayanya berbicara selalu mengundang tawa, bahkan tingkahnya yang kelihatan polos namun terlihat sangat bodoh selalu mengundang tawa setiap orang yang mengenalnya, namun setiap orang yang berada didekatnya pasti akan sangat betah karena kemurahan hatinya.
Pertama kali saya mengenalnya ketika saya dipilih menjadi ketua kelompok dalam sebuah diskusi. Saya tidak sulit mencari namanya, keributan dan sikap konyolnya di kelas membuat saya ataupun teman-teman dengan mudah menemukannya. Meskipun demikian, dibalik kehebohan dan kekonyolannya ia adalah sosok yang pintar, dan cerdas. Dan saat itu saya sangat bersyukur, karena ia masuk dalam kelompok saya. Ketika ia sedang berbicara ia selalu didengar. Bukan saja karena suaranya yang lantang, tetapi karena inti dari pembicaraan yang selalu menjadi inspirasi dari setiap orang yang mendengarnya.
Persahabatan kami pun dimulai sejak saat itu. Saya, Dian, Inggrid, Tasya, Elsa, Delon, dan Aris adalah tujuh bersahabat yang selalu bersama. Sesuatu yang kami lakukan bersama akan berbeda jika salahsatu dari kami bertujuh tak ada. Hampir semua kegiatan kami lakukan bersama. Diahkir pekan, kami memilih kegiatan yang akan kami lakukan. Dan jika salahsatu dari kami keberatan, semua harus batal. Setiap hari Minggu semua wajib ke gereja, tanpa alasan apapun. Disaat kami bersama, kami tidak boleh menceritakan pacar kami, apapun alasannya. Prinsip kami, sahabat adalah prioritas. Dan sahabat adalah segalanya.
Dari keenam sahabat saya, Dian yang paling dekat dengan saya. Dian adalah pribadi yang berbeda dari keempat sahabat saya yang perempuan. Sikapnya, yang terbuka dan polos membuatnya banyak disukai lelaki. Namun responnya sering mengundang amarah dari kami para sahabatnya. Ia menganggap setiap lelaki yang mendekatinya adalah penggemar setianya. Dan tak ada satu pun yang ia terima menjadi pacarnya, bahkan sekedar singgah di hatinya pun tidak. Ketika ditanya alasan, jawabannya tetap sama, “ saya masih sayang cinta pertama saya”.
Dian adalah sosok yang selalu menyembunyikan duka dan lukanya dengan tawa. Prinsip hidupnya sangat sederhana, setiap hari kebahagian saya adalah ketika saya mampu mengukir senyuman dibibir orang yang saya sayang. Sebuah prinsip hidup yang membuatnya selalu dirindukan teman sekelas, bila dirinya tak hadir kuliah.
Di hari pertama semester ke-2, semua tentang Dian baru kami tahu. Kedua orangtuanya telah meninggal dunia. Dan yang paling menyedihkan, kami harus mengetahui hal itu dari tetangganya yang berada di kelas ekonomi. Dian tidak pernah menceritakan kedua orangtuanya. Ia selalu mengatakan “ papa dan mama saya adalah orang yang sangat sibuk, saya hanya bisa menanyakan kabar mereka kepada kedua kakak saya”. Dian adalah sosok yang tegar. Dan inilah alasan mengapa ia selalu ceria. Ketika ditanya apa alasannya menyembunyikan hal tersebut, jawabannya sangat menyedihakan ditelinga kami berenam. “Kita semua akan meninggal. Jadi, saya tidak perlu menceritakannya pada kalian. Meskipun Tuhan memanggil papa dan mama, Tuhan sudah memberikan saya pengganti mereka, yaitu kalian semua. Kalian adalah sahabat yang akan selalu saya banggakan”.
Duka dan luka yang ia alami ternyata sangat dalam. Bahkan disaat papa meninggal, Dianlah satu-satunya sahabat yang paling saya rindukan saat saya melihat jenazah papa. Saat itu saya berpikir, betapa kuatnya Dian menjalani hidupnya selama ini tanpa mama dan tanpa papa, lalu apakah saya bisa sepertinya, yang mampu menyembunyikan duka dengan suka?
Dian selalu menjadi teladan bagi kami para sahabatnya. Dian selalu menasihati kami. “ Hidup itu seperti drama. Dan kita sendiri adalah pelaku utama dalam drama itu. Kita tidak perlu menanyakan siapa-siapa tokoh yang akan ikut dalam drama hidup kita, karena kita bukan Sutradaranya. Mari kita sama-sama memainkan peran kita sebaik mungkin di depan Sutradara kita. Karena bayarannya tidak kita terima saat kita turun dari sebuah panggung yang megah, tetapi ketika kita memasuki babak baru dalam hidup baru, disanalah kita akan mendapat bayaran yang tak ternilai.
Sebuah nasihat bijak, yang tidak pernah saya mengerti, hingga ahkirnya saya sadar. Drama yang ia maksudkan adalah perjalanan hidup yang kami jalani saat ini.
Charles harus mengahkiri ceritanya. Air matanya tak terbendung lagi. Semua yang ada di kelasnya mendadak diam. Semua tentang Dian bukan sebuah cerita yang harus dilupakan begitu saja. Semua tentangnya menyisakan sebuah panutan bagi mereka yang pernah berada di dekatnya.
Begitulah yang dialami Charles. Hidupnya yang dulu penuh dengan kegelapan telah berubah. Charles termasuk salah satu mahasiwa yang terkenal playboy. Ia akan pacaran kalau ia tahu wanita yang ia pacari itu memiliki banyak uang. Dan setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan dan juga kepuasan lahiriahnya, wanita itu akan ia tinggalkan. Begitulah seterusnya, hingga ahkirnya ia menderita penyakit kelamin. Dalam keadaan seperti itu, ia sempat bertobat. Namun semua itu tidak mudah baginya. Setelah dinyatakan sembuh, ia masih mengulangi kebiasaannya itu. Hingga ahkirnya ia mengenal Dian sahabatnya.
Dian tahu kebiasaan buruk sahabatnya. Ia menasihati Charles sahabatnya bahaya seks bebas, dan dosanya di hadapan Tuhan. Ia sering mengajak Charles ke gereja, mengajaknya berdoa. Namun Charles melakukan semua itu hanya untuk menghargai prinsip persahabatan mereka. Dian tahu akan hal itu, Dian tidak pernah berhenti, ia sering mengajak Charles mengikuti pengakuan dosa. Bahkan Dian juga mengajak Charles mengikuti doa taize.
Namun semuanya sia-sia, Charles terlalu larut dalam samudra yang penuh dengan keindahan, hingga ia sendiri lupa dimana daratannya. Dimana perahu yang ia tumpangi, semua telah hancur, samudra yang luas itu membawa keindahan dan kenikmatan baginya. Kenikmatan yang hanya ia sendiri rasakan.
Saat itu Dian mulai sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia. Ia pun berhenti menasihati Charles, bahkan mengajaknya ke gereja. Yang ia lakukan adalah mendoakan sahabatnya itu. Setiap malam ia novena, dan menyerahkan sahabatnya itu kepada Bunda Maria, bahkan Dian sering menceritakan sahabatnya kepada Pastor setelah ia selesai mengikuti misa. Ia meminta Pastor agar ikut mendoakan sahabatnya.” Saya tahu Romo, itu adalah privasi sahabat saya. Saya tidak berniat untuk membuka aibnya. Saya mohon Romo, sebutlah nama sahabat saya kapanpun Romo merayakan perayaan ekaristi. Saya akan gagal menjadi seorang sahabat Romo, kalau saya belum membawa sahabat saya pulang ke rumah yang benar. Ia menempati rumah yang salah Romo. Rumah yang tak pernah ia tahu siapa pemiliknya. Saya mohon Romo”, begitulah yang Romo Yosef katakan, mengulang kembali permohonan yang sering ia dengar dari Dian. Dian sadar hanya dengan doalah ia bisa membantu sahabatnya. Hanya dengan doa sahabatnya akan berpaling ke jalan yang benar. Dan hanya dengan doalah sahabatnya akan melihat bahwa jalan yang ia lalui adalah sebuah kegelapan, yang tidak memiliki arah dan merupakan tujuan yang tak berpenghuni.
Memasuki semester 3, Charles kecelakaan bersama pacarnya. Saat itu Charles kehilangan banyak darah, dan pacarnya tak terselamatkan. Yang ada disamping Charles saat itu hanya keenam sahabatnya. Papa dan mamanya masih di kampung, dan bingung dengan apa yang mereka dengar tentang anaknya yang saat itu sedang mempertaruhkan hidup dan matinya.
Dokter menyatakan, jika tidak secepatnya Charles mendapatkan pendonor, maka nyawanya tidak bisa di tolong. Dan hanya mujizat Tuhanlah, yang bisa menyelamatkan Charles.
Tanpa berpikir panjang, keenam sahabatnya memasuki ruangan lab untuk memeriksa darah. Dan dari keenam sahabatnya, hanya Dian yang memiliki darah yang cocok. Tanpa berpikir terlalu lama, Dian menandatangani surat administrasi yang diberikan oleh suster untuk menyumbang darahnya. Ia melihat sahabatnya yang terbaring disampingnya, ia berbisik. “Darah ini akan mengubah jalan hidupmu sahabat, dan matamu akan terbuka. Kegelapan yang kau tempuh akan menjadi terang, selamat pesta Pakah sahabatku sayang. Saat matamu terbuka nanti, kabar sukacita akan datang. Kuatkan tubuh Charles, kau akan tetap berada disini”.
Dian sangat bahagia hari pertama melihat sahabatnya membuka mata. Ia langsung memeluk sahabatnya, dan dalam pelukannya ia mendoakan sahabatnya. “Tuhan, ubahlah hidupnya”.
Saat itu ternyata untuk terahkir kalinya Charles melihat sahabatnya. Dian masih terus memeluk Charles, hingga jam kunjungan pasien selesai. Dian berbisik ” Charles selamat pesta Paskah. Kamu tidak sendiri Charles disini. Ingat ubahlah hidupmu sahabat, sehingga saat kita bertemu nanti, saya bangga melihatmu. Saya pulang ya Charles. Jaga dirimu, dan jagalah persahabatan kita. Setiap hari Minggu ajak sahabat kita ke gereja ya”. Dian mencium kening sahabatnya untuk terahkir kalinya.” Charles, mainkan dramamu seindah mungkin. Kalaupun ada tokoh yang akan meninggalkanmu, sempurnakan peran hidupmu”. Selamat tinggal Charles.
Cerita tentang Dianpun terungkap, saat ia kembali ke rumah Bapa.
Dian ditinggalkan papa dan mamanya saat ia masih kecil. Dan alasannya untuk menolak semua laki-laki yang mendekatinya bukan karena cinta pertamanya, tetapi karena ia mau untuk tidak menikah seumur hidupnya. Dian mau mempersembahkan hidupnya untuk anak-anak yatim piatu saat ia sukses nanti. Ia tidak ingin melihat kepedihan di mata mereka yang ditinggalkan orangtuanya, karena ia sangat pedih menjalani hidupnya.
Saat pertama ia masuk kuliah, dokter men-vonisnya penyakit jantung. Penyakit itu adalah penyakit keturunan, yang juga membuat Dian harus kehilangan mamanya saat ia masih kelas 6 SD. Saat keluar dari ruang rawat Charles, Dian langsung pingsan. Ia kumat, dan tak terselamatkan. Dokter yang menanganinya menyerah. Hingga ahkirnya Dian pulang ke rumah Bapa.
Dian adalah sosok yang sangat rajin berdoa, begitu cerita Aurel sahabatnya. Dalam setiap doanya, Dian selalu menyebut nama sahabat-sahabatnya. Dan setiap hari ia tak pernah lelah menceritakan nama sahabat-sahabatnya di kayu salib di kamarnya. Pintanya sama, ia minta agar sahabat-sahabatnya tidak mengalami nasib sepertinya. Agar sahabat-sahabatnya masih terus melihat kedua orangtua mereka saat mereka selesai sekolah, dan masih akan terus melihat orangtuanya sampai mereka tua nanti.
Hidup Dian tak seindah senyumnya, tak seindah tawanya dan tak seindah kata-kata indah yang sering ia katakan saat menghibur sahabat-sahabatnya. Dian ditinggalkan papa dan mamanya saat ia masih kecil. Kedua kakaknya menikah dan punya kesibukannya mereka sendiri. Dan seluruh harta yang diwariskan kedua orangtuanya diambil omnya.
Dian tak pernah menangisi hartanya. Dian tak pernah punya dendam untuk membalas semua mereka yang menyudutkannya, termasuk sepupunya yang sering menfitnahnya. Dian selalu mengatakan, tanpa mereka cerita hidup yang akan saya jalani takkan ada ceritanya. Meski hidup Dian begitu berat, namun ia tak pernah lelah dan putus asa untuk terus berjuang, meski kadang ia harus menangis karena tenaganya dan ketegarannya hampir habis.
Kekuatan doa, Jalan Salib setiap hari Jumaat, menghadiri perayaan Ekaristi adalah kekuatannya untuk terus bertahan dalam hidup. Meski kadang ia merasa tak adil, namun ia selalu berjuang untuk terus bertahan dalam imannya hingga ahkirnya ia kembali ke tempat indah dimana beban duniawi pun berahkir.
Itulah alasannya untuk tidak pacaran. Dalam hidupnya yang mampu menguatkannya untuk bertahan adalah sahabat-sahabatnya. Dian sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Dan Charles adalah sahabat yang paling sering ia tangisi di depan Yesus. Ia sangat menyayangi Charles, bahkan ia sering memikirkan Charles hingga ia harus terjaga dari tidurnya.
Charles, Dian tahu apa yang akan terjadi bila ia mendonorkan darahnya. Namun ia tetap melakukan hal itu, karena ia ingin kamu berpaling ke jalan yang benar. Impian Dian sederhana, Dian hanya ingin kamu meninggalkan kebiasaan burukmu, dan hidup dengan sehat. Dian tidak ingin seumur hidupnya, ia melihat sahabatnya berjalan dalam kegelapan, dan ia akan merasa bahwa dirinya gagal menjadi seorang sahabat. Dian rela memberikan hidupnya bagi kamu Charles, karena baginya Tuhan akan memberikan banyak kesempatan bagi umatNya yang mau sungguh-sungguh bertobat.
Charles terpaku diam. Wajahnya sulit dijelaskan. Disana ada penyesalan, ada marah karena ia selalu mengiyakan nasihat sahabatnya dan sulit melaksanakannya, dan ada sedih karena ia harus mendengarkan kisah pedih sahabatnya saat ia telah tiada. Charles menangis karena setiap hari Dian selalu menghiburnya, namun sedikitpun ia belum pernah menghibur sahabatnya.
Charles, tolong kamu berhenti free seks. Saya mohon Charles, berhentilah mempermainkan perempuan” itulah yang selalu Dian katakan saat mereka bersama. Namun, semua nasihat itu baginya hanya kalimat yang wajib ia dengar setiap hari dari bibir sahabatnya itu.
Hingga ahkirnya Dian mengorbankan dirinya demi sahabatnya. Dian memberikan hidupnya bukan karena beban yang ia jalani dalam hidupnya, namun karena cintanya kepada sahabatnya. Ia mencintai sahabatnya, seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia mendoakan sahabat-sahabatnya karena ia tahu, mereka titipan terbesar yang Tuhan berikan. Ia menjaga sahabatnya hingga ahkir nafasnya. Dan ziarahnya di bumi berahkir dengan sebuah cerita yang membuahkan hasil. Doanya dikabulkan, meski saat semua itu berubah ia tak ada disana. Keteguhan dan kesabarannya membuahkan hasil.
Jalan hidup sahabatnya Charles telah berbeda. Charles semakin aktif dalam kegiatan rohani. Charles dipilih menjadi ketua OMK. Charles aktif dalam kegiatan pewartaan di setiap KBG. Dan saat ini, Charles sibuk mempersiapkan perayaan Paskahnya yang pertama tanpa Dian sahabatnya. Ia mengajak teman-temannya untuk terlibat dalam setiap kegiatan paroki, dan mengajak teman-temannya untuk wajib mengikuti jalan salib dan wajib puasa setiap hari Jumaat.
Untuk pertama kalinya dan untuk selamanya Charles merayakan Paskah tanpa sahabatnya. Ia dan keenam sahabatnya mengunjungi makam Dian yang letaknya tidak jauh dari gereja. Disana ratap kerinduan tak terbendung. Semuanya telah berbeda. Tanpa sosok yang selalu memberikan sejuta cerita inspirasi yang penuh dengan keramahan cinta dalam persahabatan mereka, semuanya terasa hampa.
Menahan deraian airmata, Charles memegang nisan sahabatnya. Tersenyum memandang wajah cantik sahabatnya, dan ia berbisik “ Dian, selamat hari raya Paskah. Hari kemenangan dan hari dimana kamu menyerahkan hidupmu untuk saya. Terimakasih karena doa dan pengorbananmu telah mengubah hidup saya. Kamu seperti Kekasih jiwamu yang sering kamu ceritakan, yang rela mengurbankan diriNya demi keselamatan dunia. Terimakasih telah menyelamatkan jiwa saya Dian. Terimakasih telah membuktikan kepada semua orang bahwa harta tidaklah abadi. Hidupmu akan selalu saya banggakan sahabat tersayang, dan prinsip hidupmu akan saya pegang sampai kapanpun, hingga waktu mempersatukan kita sebagai sahabat yang abadi ”.
Dian mendengar doa dan kerinduan sahabatnya-sahabatnya. Langit yang terlihat mendung berubah menjadi cerah. Semua mata terpana. Sungguh alam pun ikut bangga menyaksikan cerita persahabatan mereka. Sebuah cerita yang tak habis dalam satu sejarah, tetapi sebuah cerita yang akan abadi dalam setiap pengorbanan yang diberikan kepada sesama dalam persahabatan dengan Yesus sendiri.