Selasa, 13 Januari 2015

penyesalan terahkir

Penyesalan Terahkir

Adtya, Jakarta tempatku saat ini menetap. Jauh dari segala jeritan hati, dan tangisan jiwa. Kemiskinan membuatku harus bernaung di bawah terik mentari mencari sesuap nasi dalam keramaian dan kebisingan ibukota.
Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahku seorang nelayan, ibuku bekerja membantu ayah. Kebutuhan keluargaku tak selalu di penuhi. Namun ayahku selalu berjuang untuk mencukupi kebutuhan dalam rumah meski semua tak tercukupi. Kemisikinan seakan membuat hidupku tak berguna. Aku bosan dengan rutinitas hidupku yang tak pernah berubah setiap hari, bulan, bahkan tahu.
Akupun memilih untuk berhenti sekolah. Saat itu aku kelas 3 SMP. Ayah dan ibu tidak memaksa bahkan memarahiku. Aku sering membentak ayahku, memaki ibuku, bahkan memukul adik-adikku. Sosok ayahku yang kurus, ibuku yang lemah karena penyakit asma membuatku sesuka hati.
Aku menuntut ayah untuk membelikanku sepeda motor. Ayah terpaksa menjual perahunya karena aku mengancam untuk membakar rumah kalau-kalau keinginanku tidak di penuhi. Keinginanku pun ayah penuhi. Aku pernah berpikir saat itu betapa sulitnya ayah saat itu. Namun, hati nuraniku telah mati.
Aku semakin jarang berada di rumah semenjak ayah membelikanku sepeda motor. Siang aku ojek. Uang hasil ojek siang, aku gunakan untuk minum pada malam hari bersama teman-temanku.
Malam itu, adik perempuanku menemui. Ia menarikku dari kerumunan teman-temanku. Ia bilang, ayah sedang sakit. Aku mendorong adikku, dan menyuruhnya pulang. Adikku pergi dengan airmata. Bagiku berita itu hanyalah kabar burung yang tak perlu aku tanggapi.
Pagi itu aku pulang dalam keaadaan mabuk. Aku melihat adikku perempuanku sedang tidur kelelahan. Aku tahu adikku lelah menjaga ayah. Aku menyuruhnya bangun, dan menyiapkan segelas kopi. Ia tak melawan bahkan protes. Ia menyiapkan untuk. Ia terus memandangku. Matanya berkaca-kaca. “kak, ayah sakit. Ibu tak punya cukup uang untuk membawa ayah ke dokter”. Aku memandang adikku. “ terus, apa hubungannya denganku?”. Adikku hanya diam, dan ahkirnya airmatanya tak tertahan lagi.
Kepedihan hati adikku semakin mencekam, karena malam itu ayah dan ibu meninggal bersamaan. Ayah mau membantu ibu yang asmanya kumat. Dan saat itu juga penyakit ayah kambuh. Adik-adikku menjadi saksi kepergian ayah dan ibuku. Mereka sangat terpukul, dan sampai saat ini, mereka sangat membenciku.
Kini aku sadar, betapa pilu menjadi yatim piatu. Tuhan mengambil dua sosok yang masih kubutuh. Aku tidak pernah mensyukuri apa yang telah aku miliki. Kini aku bertanggung jawab atas adik-adikku. Aku hanya berharap, ayah dan ibuku telah memaafkan aku. Aku berjanji untuk memberikan kehidupan yang layak dan pantas untuk adik-adikku.

Hidup adalah sebuah pilihan. Kematian dan berpisah dari orang-orang yang kita sayangi tentu bukanlah sebuah pilihan yang kita inginkan. Orangtua adalah sosok yang paling kita kenal sebelum kita mengenal orang lain. Orangtua adalah sosok yang begitu kita cintai. Mereka ibarat payung. Saat musim hujan, panas maupun salju kita sangat membutuhkan payung, untuk melindungi kita. Begitulah orangtua. Mereka selalu berusaha menjadi pelindung bagi kita. Apapun keaadaan mereka selalu berusaha melindungi kita.
Aku sering mendengar curhat teman-temanku saat memiliki masalah . Mereka sering cerita ayah sangat keras, atau ibu yang keras. Kadang apa yang mereka minta tidak di penuhi. Mereka marah, merajuk dan bahkan memilih lari dari rumah. Mereka juga sering cerita ayah dan ibu mereka sering ribut, yang membuat mereka minder. Begitu banyak 1001 cerita teman-temanku tentang orangtuanya.
Aku hanya diam, sambil tersenyum. Dalam hati aku berbicara, pernahkah mereka berpikir, betapa pilunya hati kedua orangtua mereka, saat mereka lari dari rumah? Pernahkah mereka berpikir jika yang pergi itu adalah orangtua?? Apa mereka masih bisa tersenyum?
Teman-temanku, rasa sakit hati ketika di tinggal pacar, di putus pacar, di cuekin sahabat tidaklah sama seperti rasa sakit ketika kita di tinggal untuk selamanya oleh kedua orangtua kita. Kita masih memiliki banyak sahabat, ketika salah satu dari sahabat kita meninggalkan kita, kita masih punya banyak penggemar, ketika cinta pertama kita meninggalkan kita, dan kita masih punya banyak waktu saat tugas kita menumpuk. Namun, apakah kita bisa ceria saat kedua orangtua kita pergi untuk selamanya?
Kita sering menipu ibu, dengan alasan kerja tugas, tetapi kita ke kos pacar. Kita juga sering membohongi ayah tentang uang belanja, uang buku, uang fotocopy. Ternyata uang itu kita pakai untuk senang-senang.
Mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka sedang galau, seperti kita yang dengan spontan mengatakan kita sedang galau saat pacar kita selingkuh. Mereka hanya diam, dan dalam diam itu sebait doa mereka panjatkan untuk kita. Mereka menginginkan yang terbaik untuk kita.
Saat kita kehilangan salah satu dari kedua orangtua kita, kita merasa hidup kita tidaklah lengkap. Ayah dan ibu adalah sosok yang berbeda, namun satu kesatuan yang tak pernah bisa kita pisahkan.
Ketika mereka telah tiada, kita bagaikan pohon yang berdiri tanpa akar. Sewaktu-waktu pohon itu akan jatuh karena angin.
Semua akan bisa kita atasi ketika kita menyadari bahwa apa yang kita milik Tuhan. Meskipun kita merasa begitu jauh darinya saat kita kehilangan orangtua kita, sesungguhnya Tuhan sedang memeluk kita. Kita tidak merasakan hangatnya belaian papa dan mama, Tuhan memberikan sosok lain dalam hidup kita.
Saat kedua kaki kita tak lagi bisa melangkah, sesungguhnya Tuhan memberikan begitu banyak tongkat membantu kita untuk tetap berjalan.
By: yohana bombol


Tentang sahabatkuu


Tentang Sahabatku

Wajah cerianya seakan tak menunjukkan bahwa ia sedang bahagia. Ia memaksa dirinya untuk tetap tersenyum. Hatinya sedang kacau, dan raganya tak menyatu bersama pikirannya.
Aku tahu, sahabatku sedang bimbang, dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Aku memegang pundaknya. Sebelum menyapanya, kuberikan ia senyum dan ciuman persahabatan kami.
Aku mencoba menyentuh relung hatinya yang paling dalam, dengan menceritakan kisah seorang Ibu yang melahirkan Putranya di dalam kandang domba.
Matanya seakan ingin menangis memandangku, sejuta cerita duka ia selipkan di pandangan matanya. Bibirnya bergetar. Ia pun menangis memelukku.
Kembali teringat pertengkaran hebatku dengannya 2 bulan yang lalu.
Pacarnya seorang yang memiliki keyakinan yang berbeda.
Awal ia mengenal pria itu, aku sangat tidak setuju. Hal yang paling mendasariku adalah keyakinan yang berbeda. Selain itu aku tahu lelaki itu bukan sosok yang pantas dicintai sahabatku. Namun ada sedikit keraguan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Reilia sahabatku menganggap itu semua hanya alasanku. Bahkan ketika aku melarangnya bertemu pria itu, ia sering bergerutu “ ah, ini sudah bukan asrama lagi Dian. Mengapa semuanya harus diatur?.
Aku tidak pernah malas dan bosan untuk mengingatkannya.
Reilia, ini sudah malam. Apa tidak lebih baik besok saja kamu jalan-jalan. Sebentar lagi masa Adven. Bukankah lebih baik kita berdoa, seperti kebiasaan kita di asrama?”
Dian, ini malam Minggu. Ya aku tahu sebentar masa Adven, besok saja doanya di gereja. Kamu tidak bosan 3 tahun di asrama? Kerja kita hanya doa, taize, legio, misa bahasa Inggris? Ah apa lagi yang lain. Aku saja lupa Dian, saking banyaknya.
Reil!!!! Kali ini aku membentaknya.
Namun, semuanya sia-sia. Pintu rahasia kos, menjadi jalan keluarnya malam itu.
Begitulah seterusnya, sampai masa Adven pun tiba. Aku mengajaknya ke gereja. Namun, jawabannya sangat singkat. Aku tunggu Natal sekalian ya,,,,,,,
Dan puncaknya pada hari itu. Natal tinggal 2 hari. Ia bercerita padaku, pacarnya ingin Rosario yang ia pakai. Pernyataan itu membuat aku marah dan menghujaninya dengan kata-kata kasar. Meski aku tahu, itu sangat menyakitkannya. Ia hanya diam terpaku menatapku.
Aku bertanya, bodohkah kamu menjual Tuhanmu sendiri. Kamu tidak malu, kalau ia menggunakan itu sebagai aksesoris. Apa Tuhanmu juga kau anggap seperti itu?? Kamu lihat Reilia, sekarang orang berlomba-lomba memakai Rosario, namun sikap mereka jauh dari ajaran Tuhan.
Reil hanya diam. Diam tanpa aku tahu, apa dia mengerti atau tidak.
Sehari kemudian, Ia pun memutuskan untuk pindah dariku.
Akupun merayakan Natal sendiri. Natal pertama yang aku jalani di tanah orang tanpa ditemani seorang kerabat pun namun kebahagiaan akan sang Kristus tetap aku pancarkan.
Aku dengan semangat menceritakan pengalaman Natal dan Tahun Baru pada Reilia. Ia mendengarku tanpa ku tahu Ia sedang menyimakku, atau sedang memikirkan hal lain.
Ia pun tak dapat menahan tangisnya. Reilia memelukku dan menangis. Dan ini tangisan yang kedua setelah aku datang.
Dian, maaf, selama ini aku tak pernah sedikit pun mendengarmu. Kamu kuanggap sebagai batu sandungan dalam hidupku. Ternyata itu semua membuatku hancur Dian. Aku bukan Reilia yang kamu kenal dulu. Laki-laki brengsek itu sudah membuatku hancur Dian. Aku sudah tidak utuh lagi Dian”.
Reilia menangis dan menghujani kata-kata kasar terhadap laki-laki yang pernah ia sanjung, bahkan laki-laki yang membuat persahabatan kami ikut hancur.
Aku memeluknya. “ Reilia, aku pernah bilang kan? Jika Tuhanmu saja kau jual demi cinta, siapa yang akan menjagamu? Cinta tidak harus mengorbankan segala yang kita miliki, jika kamu sendiri tahu kamu dan dia tidak akan pernah bersatu? Tuhan mencintaimu tak pernah menuntut balas, ya meski kamu sering meninggalkan Dia. Apa itu belum cukup??? Belum cukup orang-orang disekitar kamu?
Reilia terus menangis. Aku tahu, hatinya telah hancur.
Reilia,,,,,, sudah saatnya kamu sadar sekarang. Tuhan sedang mengujimu sahabat sayang. Sekarang berbaliklah, Tuhan Yesus sedang menunggumu untuk kembali padaNya. Ia sedang tersenyum memandangmu. Bahkan saat ini Tuhan sangat merindukanmu sahabat. Jangan takut Reilia, aku tetap jadi sahabat kamu kok.....seperti apapun dosa kita Tuhan akan ampuni kita, yang terpenting kita mau bertobat. Ok??
Ratu kos kok galau? Kamu kan pernah bilang, kita akan jadi Ratu kos... aku bergurau mencoba mengukir senyum dibibirnya.
Relia tersenyum memandangku. “ kamu tidak dendam?”
hahahaha Reilia,,,,,, dendam untuk apa? Ini Tahun Baru. Sekarang kamu mandi, pulang ke tempat dimana kita memulai cerita disini, ok?”
Reilia memelukku lagi. Aku tahu meski pilunya luka masih ia rasakan, setidaknya ia tahu Tuhan masih mencintainya. Dan seperti apapun keadaannya, Ia tetap sahabatku. Karena tugas seorang sahabat itu, mengingatkan sahabatnya ketika ia lupa, menariknya saat ia terjatuh, menjaganya saat ia sakit, menguatkannya saat ia gundah. Sahabat sejati, tidak harus selalu mengikuti semua yang sahabatnya lakukan, ia tahu mana yang harus ia katakan TIDAK, karena ia tahu itu salah.
Dan dibalik semua itu Tuhanlah yang berkarya. Cinta Tuhan yang akan hadir melalui orang-orang disekitar kita. Mereka yang mau menerima kita Reilia, tanpa memandang. Karena kita semua tidak luput dari debu hina yang ada di dunia ini.”

Sekian
Yohana bombol

puisi, Tangisan Dosa

Tangisan dosa
Berlumuran dosa aku menengadah
Tak punya rasa malu pada seekor merpati putih
Menatapku penuh kasihan
Dan senyumnya menyatakan
Ia tidak mengenalku lagi
Di sudut senja aku berdiri
Menatapi gersang ladang hatiku
Tak pernah kutaburi ladang hatiku
Yang kini tandus tak terawat
Yang begitu tandus tak terawat
Aku tak tahu, kapan hujan akan datang
Aku ingin berlari mengejar sang merpati
Apa daya berdiripun aku tak mampu
Begitu dalamnya aku tenggelam
Dalam samudra debu yang
Kudengar suara lembut itu menyapaku
Dia akan datang...siapkan hatimu
Aku menatap ke langit dan bertanya pada merpati itu
Masihka ia mengampuniku??
Merpatipun tersenyum...



YOHANA BOMBOL


Senin, 12 Januari 2015

drama dan hidup


Drama dan Hidup
Ketika kulihat ke arah timur, matahari telah kembali ke ufuk barat. Aku tahu matahari itu akan kembali datang dari ufuk timur. Meski terangnya kadang ditutup awan tebal, namun semua orang tahu ia tetap ada.
Saat siang berganti malam, bulan memancarkan cahayanya untuk menggantikan matahari. Begitulah yang akan terus terjadi, tanpa menghitung hari dan waktu. Dan setiap orang punya kesibukannya sendiri.
Aku berdiri menatap mentari yang kembali ke ufuk barat. Sejenak aku membayangkan, jikalau aku membuka mata di pagi esok, mentari itu tak kembali, masih bisakah aku berjalan? Dan kegelapan pun akan terjadi.

Hidupku tidaklah sendiri. Karena aku memang tidak pernah sendiri, tetapi aku merasa sendiri. Kadang aku ingin seperti matahari, yang menyinari banyak orang. Namun kadang aku takut menjadi seperti matahari, yang akan menjadi alasan bagi orang untuk bepergian, ketika panasnya mengigit. Aku takut menjadi alasan orang untuk maju, karena aku belum mampu menyinari diriku sendiri. Aku belum mampu menafkahi diriku sendiri. Karena meskipun menggigit, matahari memiliki sinar yang menerangi banyak orang.
Aku ada karena cinta, berdiri, berjalan dan berjuang karena cinta. Namun mengapa aku merasa ditinggalkan? Bukankah banyak orang yang mencintaiku? Sama halnya seperti matahari yang ditutup awan tebal, seperti itulah aku. Awan tebal dalam hidupku adalah luka dan duka.
Aku memiliki segalanya. Namun yang kumiliki tidak sepenuhnya membawaku dalam bahagia.
Hidupku bagai drama. Dan aku sendirilah pemeran utamanya. Aku tidak pernah tahu, siapa tokoh yang akan datang kedalam drama ini, karena bukan aku Sutradaranya.

Aku bukan dewa, bukan juga alien bahkan bukan vampir yang dapat mengubah hidup orang-orang yang kusayangi untuk berada lebih lama didekatku. Aku juga tidak mampu menjadi seperti matahari, yang akan selalu menyinari bumi. Tetapi, aku hanya seorang yang selalu berjalan dibawah sinar sang mentari.
Kalimat sang Bunda “ Terjadilah Padaku, Menurut PerkataanMu” menyadarkanku, bahwa aku tidak seharusnya banyak mengeluh kepada Sutradaraku akan cerita hidupku. Aku hanya mengikuti alur yang telah ia siapkan, dan melakoni peran itu sesuai dengan peran yang ia berikan.
Seperti matahari yang akan terus menyinari bumi, aku pun ingin terus menyinari diriku sendiri. Aku sadar aku tidak sendiri. Meski kadang sinar itu tertutup awan tebal.

Aku memiliki seorang Kekasih, yang aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan aku mencintainya. RagaNya tak pernah kusentuh, namun aku merasakan Ia selalu ada untuk memelukku. Ia yang memberiku matahari, ia yang selalu menghapuskan airmataku, dan ia yang selalu berbisik bahwa aku tidak sendiri.
Mimpi sederhanaku bukanlah menjadi matahari, namun menjadi sebuah pelita. Pelita yang menerangi ruang hatiku yang kadang di landa kegelapan. Gelap karena sosok terang disekitarku memiliki banyak ruang. Pelita itu yang akan membawaku kepada terang, dimana aku akan melihat siapa sosok terang yang selama ini aku impikan.

Kekasihku membawaku pada ketinggian yang tak mampu ku ukur. Ia mengajakku, dan menyuruhku untuk menghitung semua orang yang mencintaiku. Aku memandang wajah Kekasihku dan memelukNya. Aku pun sadar, aku terlalu banyak mengeluh padaNya. Dari ketinggian itu, aku tahu orang-orang disekitarku dengan caranya sendiri berusaha untuk menjadi terang untukku. Dan aku tidak bisa menghitung berapa banyak mereka.

Aku sadar akan hal itu, meski mereka bukanlah matahari dalam hidupku, namun mereka senantiasa menjadi pelita dalam hidupku. Aku yang seharusnya jadi matahari untuk diriku sendiri, dan menjadi matahari untuk mereka, jika suatu saat nanti mereka berada dalam kegelapan seperti yang aku alami. Gelap karena bingung kemana arah hidup ini kan ku bawa, karena sosok terang disisiku telah kembali pada sang Sutradara.
Kekasihku berbisik. Dramamu akan terasa indah, jikalau kau mampu memainkannya dengan sempurna. Tidak usah mengeluh akan peranmu, ketahuilah tokoh yang tidak kau bayangkan akan Ia hadirkan. Dan diahkiri dramamu, mereka yang ikut bermain dalam dramamu akan mengatakan bahwa engkau adalah sosok peran utama yang takkan dilupakan.

Aku tersenyum memandang Kekasihku, aku tahu Dialah yang selama ini berbisik dalam hatiku.
...........................................................
Karena pada dasarnya Tuhan sangat mencintai mereka yang terus memanggul salibNya dan dengan setia mengikuti Dia. Dialah kekasih Jiwa yang dengan setia menemani setiap jiwa yang percaya padaNya.
By; yohana bombol

sebuah kisah dalam cerita. aku adalah judul ceritaku ini

Sebuah kisah dalam cerita

Aku adalah judul dari ceritaku ini. Cerita ini kubuat atas dasar hati yang yang penuh dengan lumuran darah kebencian dan kekecawaan. Benci karena kenyataan hidup yang kuterima, dan kecewa karena aku selalu merasa sendiri. Cerita ini kubuat untuk membagi kisah pedih hidup tanpa orangtua. Namun, dibalik rasa kecewa itu, ada semangat yang membuatku mampu bertahan sejauh ini. Aku berharap cerita ini mampu memberi motivasi bagi para sahabatku, untuk menghargai kedua orangtua. Karena dalam setiap denyut nadimu, itulah detak jantung ayah dan ibumu.

Namaku Johanam, aku gadis berusia 18 tahun, yang sudah menjadi yatim piatu saat aku berusia 16 tahun.
Kalau di rumah lagi ngga ada orang tua , itu yang di inginkan para remaja seusiaku. Bebas berekspresi, ya kebebasan yang tentunya tidak diinginkan orangtua, seperti makan tidak tepat waktu, nonton bola sampai larut, dan yang paling parah mengundang teman-teman untuk tidur di rumah, yah pasti tahu apa yang terjadi??. Nonton film yang tidak-tidak, rokok, minum, dan seperti yang lazim terjadi saat ini free seks” begitu pendapat temanku dari Kalimantan, ketika aku menyakan pendapatnya
Itu kebebasan yang akan dirasakan ketika orang tua pergi hanya untuk beberapa hari. Namun, apakah kebebasan itu tetap akan dirasakan, jika kepergian itu untuk selamanya??
Kali ini temanku tak dapat menjawab pertanyaanku.

Saat mama meninggal, usiaku masih 11 tahun. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Papa ku seorang guru SMA. Dan Mamaku seorang guru SD. Saat mama meninggal, aku belum mengerti. Aku menangisi jenazah mama, saat kulihat papa dan kedua saudaraku menangis. Sedikit aku merasakan kebebasan saat mamaku meninggal. Tak ada lagi yang memarahiku, tak ada lagi yang menyuruhku mengerjakan matematika yang tidak kusukai. Dan yang lebih kusuka, aku bebas menonton tv di rumah tetangga kapanpun ku mau. Aku tak pernah sedikitpun berpikir bahwa hidup tanpa seorang ibu bagaikan neraka dalam dunia. Aku hanya memikirkan kesenangan saat usiaku masih usia kanak-kanak menurutku sendiri.
Padahal menurut papa, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti segalanya. Aku merasa diriku kanak-kanak karena aku sangat di manja oleh papa, mama dan kedua kakakku. Dan tak ada satupun pekerjaan yang bisa kulakukan untuk membantu mama, karena setiap hari yang kulakukan hanya berkumpul bersama teman-temanku untuk bermain bola, memancing atau berenang di kali dekat rumahku. Meski setiap hari dipukul, itu tidak membuatku takut. Mamaku sosok yang tegas dan keras. Namun dibalik semua itu, mama adalah sosok yang sangat menyayangi anak-anaknya. Bahkan mama pernah menggendongku sejauh 5 km saat aku sakit DBD. Ya maklumlah, itu semua karena letak rumahku yang jauh dari keramaian. Saat itu, keluargaku masih menempati rumah milik pemerintah, yang saat ini sudah dihancurkan.
Satu bulan setelah kepergian ibuku, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Aku berpikir selama ini aku bahagia. Ternyata aku kekurangan kasih sayang. Aku tidak menyadari. Aku sibuk, karena aku takut. Takut membayangkan wajah mama. Dan aku pun mulai sadar, aku sedang terluka. Batinku sedang terluka dan menjerit. 
 
Tak ada lagi yang menemaniku ke sekolah, tak ada lagi yang menemaniku tidur dan tak ada lagi yang menemaniku sarapan pagi. Sosok mama benar- benar hilang. Aku ke sekolah sendiri, pulang sekolah aku harus duduk menunggu papa. Aku kadang harus menahan lapar. Kadang aku harus tidur siang menahan lapar diatas makam mama. Melihat foto mama, ya menurut papa foto itu diambil saat mama 2 bulan lagi akan melahirkan aku anak bungsunya. Kadang aku juga membayangkan saat aku dan mama pulang sekolah bersama. Pernah aku mencuri kelapa milik tetangga untuk membeli ikan kering. Dan hal itu membuat mama marah dan sedih. Mama tidak sampai hati menghukumku. Saat makan malam, mama menceritakan kejadian konyol itu kepada papa. Dan sungguh malang nasibku saat itu. Papa menyuruhku berlutut di lantai kasar. Karena lantai dirumahku belum semuanya selesai. Ya itu rumah baru kami, yang hanya mama tinggal selama 8 bulan, karena ia harus pergi. Papa menyuruhku untuk mengembalikan kelapa itu, dan minta maaf kepada pemilik kelapa. Sunggu konyol kan ?? Saat itu mama tersenyum mendengar perintah papa. Begitulah mama, ia tidak menghukumku karena ia tahu tujuanku. Setelah dihukum, mama menceritakan alasannya kepada papa kenapa aku mencuri. Hmmmm waktu itu aku merajuk, bukan karena dihukum papa, tapi karena papa yang ahkirnya tertawa mendengar alasan itu.
Dan airmata pun tak tahan lagi. Aku menagis memegang nisan mama. Semua itu kujalani hingga aku duduk di kelas 2 SMP. Aku merasakan kesepian yang luar biasa, sampai ahkirnya aku mulai sadar ini neraka bagiku.
Hidupku semakin kacau. Bahkan papa ikut merasakan kekecewaan karena sikapku. Aku merokok, pulang sekolah tidak tepat waktu, bahkan aku membenci papa. Aku menganggap, papa yang menyebabkan ini semua terjadi. Papa yang terlalu sibuk. Selama mama sakit, papa sibuk dengan kegiatan di Gereja. Aku harus lari untuk memanggil tetanggaku yang rumahnya sangat jauh dari rumahku, untuk menolong mama. Namun mama tak pernah sedikitpun mengeluh bahwa ia sedang sakit. Hingga ahkirnya, ia menutup mata untuk selamanya. Dan akulah satu-satunya anak yang menyaksikan peristiwa perih itu. Peristiwa yang sampai saat ini sering membangunkanku dari tidur nyenyakku.
Karena setiap hari seperti itu, aku memilih untuk tinggal bersama om dan tantaku. Saat itu perlahan aku mulai merasakan perbedaan dalam hidupku. Perhatian dan kasih sayang om dan tantaku, sedikit demi sedikit mampu membuatku melupakan kehadiran ibu, meski berat bagiku. Memaksa diriku untuk mengerti. Aku memang sosok yang butuh perhatian. Dan perhatian itupun perlahan kurasakan dari om dan tantaku. Aku tahu, papa tidak pernah menelantarkanku. Namun aku mengerti, papa setiap hari menjalankan dua tugas dalam hidupnya. Menjadi seorang ayah yang kelihatan tegar dan tegas, dan seorang ibu yang penuh dengan kelembutan.
Dan saat ini aku sering menangis saat membayangkan betapa mulia tugas ayah, meski ia harus menjalankannya dengan rumit. Ia harus membiayai 3 buah hatinya. Dan ia harus menjadi satu-satunya tiang untuk menjadi tempat sandaran aku dan kedua kakakku.

Kondisi kesehatan ayah mulai menurun.Saat itu aku kelas 3 SMP. Papa memintaku untuk tetap tinggal bersama om dan tantaku. Aku tahu, saat itu ayah tidak ingin aku menjadi saksi penderitaannya. Saat ini aku sering menangis. Ayah pernah bilang aku satu-satunya anaknya yang membuat ia berjuang untuk hidup. Ia merasa belum sempurna menjalankan wasiat mama. Papa pergi saat aku masih belum bisa menjadi seperti kedua kakakku, yang membawa foto sebagai bukti cinta mereka kepada papa dan mama, bahwa mereka telah tamat dengan gelarnya.
Dalam keadaan sakit, papa memaksakan diri untuk mengantarku ke asrama Susteran yang akan kutinggal selama aku SMA. Papa mendaftarkan aku pada SMA Negeri yang jauh dari rumah. Papa tidak mau aku sekolah di tempat ia mengajar. Dan saat ini aku tahu apa alasan ayah. Ia tidak mau aku tahu, saat itu penyakitnya tak tertolong lagi. Bekas benturan 21 tahun yang lalu pada lehernya,menjadi alasan yang membuatnya mengajukan pensiun dini. Aku tahu papa sangat menyayangiku. Saat aku SMP kelas 3, papa sering menjemputku pulang sekolah, bukan karena ia takut aku tidak pulang tepat waktu. Papa pernah cerita, saat ia tidur siang mama datang membuka pintu kamar, dan menanyakan aku dimana, dan kenapa belum pulang. Sejak itu papa sering mengawasi. Kemanapun aku pergi papa selalu minta untuk tidak pulang terlalu sore.

Saat itu hujan lebat. Sebagian teman-temanku memutuskan untuk tidak pulang dulu sebelum hujan reda, namun yang lain memutuskan untuk tetap pulang karena lapar. Aku pun memilih untuk berjalan dibawah rintik hujan yang begitu deras itu. Dari jauh aku melihat papa. Di tangan kanannya ia memegang payung untuk dirinya sendiri. Dan di tangan kirinya payung yang baru. Mungkin baru ia beli. Ia terlihat sedang mencariku diantara anak-anak SMP yang sedang berlari. Aku menemui papa.” Papa mau kemana?”. Papa tidak menjawabku. Ia memberikan payung baru itu padaku. Dan berpesan untuk langsung pulang ke rumah, karena papa harus ke teman gurunya. Aku tahu saat itu papa sedang sakit. Dalam keaadan sakit pun, papa tetap berusaha menjagaku.

Kondisi papa pun semakin parah, saat aku naik kelas 2 SMA. Sering aku menelpon papa. Papa hanya mintaku untuk sabar dan serius dalam belajar. Aku pikir itu nasihat papa untuk terahkir dalam hidupku. Saat aku menjenguknya, aku hampir tidak mengenalnya. Papaku yang kelihatan gemuk, kini kurus. Bahkan yang membuatku semakin tak berdaya, papa lupa namaku. Papa sering memanggil namaku, namun ia tidak tahu akulah sosok yang ia cari. Papa lupa akan dirinya sendiri. Papa lupa akan anaknya sendiri. Penyakit itu telah membuat papaku lupa segalanya. Dan pada ahkirnya papapun pergi ke tempat mama. Ketempat yang ku yakini akan membawanya pada kesembuhan abadi. Dan tempat yang membuatku takkn bisa melihat, mendengar dam memeluk papa dan mama lagi.

Inilah kenyataan yang harus ku terima. Aku tak bisa menuntut lebih, aku hanya merasa sungguh tak adil bagiku. Ini bukan pilihanku, namun inilah hidupku.
Akupun menjadi seorang yatim piatu. Sebuah kata yang hanya kudengar dalam dongeng yang sering papa ceritakan, yang ahkirnya aku sendiri yang alami. Namun hidupku bukan dongeng yang sering papa ceritakan itu. Dan kenyataan membuatku harus realistis.

Hidup tanpa papa dan mama bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku menyelesaikan pendidikan SMAku tanpa tahu tujuan dan arah hidupku. Doa dan dukungan orang-orang disekitarku menghantarku ke gerbang kelulusan. Aku sedikit bangga, namun penuh dengan kekecewaan. Aku ingin seperti kedua kakakku, yang pulang ke rumah dengan senang sambil memeluk papa dan mama karena mereka lulus. Saat itu papa dan mama terlihat bangga. Bangga karena mereka berhasil mengukir senyum bahagia pada bibir anak-anaknya. Sementara aku, aku pergi di antar papa, dan pulang di jemput duka karena kepergian papa. Saat ku pulang, tak ada yang menjemputku seperti mama yang menunggu kakakku di depan rumah yang langsung di suguhi pertanyaan “ kamu lulus kan “ dan mama langsung mencium pipi anaknya, dan dengan bangga menceritan kepada teman-temannya bahwa anaknya lulus.

Saat aku pulang, aku langsung masuk kamar, meletakkan tasku dan duduk di tempat tidurku, sambil aku membayangkan, andai saja mama dan papa ada, masihkah aku seperti ini?, adakah kondisi dan kisah hidupku seperti ini?. Aku hanya melihat nisan papa dan mama yang dihiasi foto yang letaknya tidak jauh dari kamarku. Sedikit aku berbisik, puaskah telah menjadikanku seorang gadis malang???
Saat ini aku telah jauh dari nisan yang mengukir dua nama indah itu. Namun nama mereka akan selalu indah dalam hatiku. Di tempat ini, aku akan mewujudkan mimpiku. Mewujudkan mimpi papa dan mama. Kedua kakakku bagai petunjuk arahku, aku ingin seperti mereka. Bahkan lebih dari mereka. Aku ingin orang tetap mencerita tentang papa dan mama, meski mereka telah tiada.

Menjadi seorang yatim piatu itu bagai reruntuhan gedung yang dibakar dalam waktu semalam tanpa diketahui orang apa penyebabnya. Bangunan itu terlihat indah dan kokoh. Namun akan hancur dan roboh juga. Kadang kita tak pernah tahu, kapan dan saat mana kita akan merasakan kehilangan. Saat ini, aku kembali untuk papa dan mama. Aku tahu disetiap langkahku, mereka senantiasa mengapitiku dan dengan setia menghapus airmataku, saat aku merindukan mereka. Ketika kata “ papa dan mama” kusebut untuk orang yang ada didekatku, rasanya sangat berbeda ketika aku memanggil “ papa dan mama” kusendiri.
Namun aku sadar, seribu orang yang akan menjadi papa dan mama dalam hidupku sudah Tuhan hadirkan. Karena hidup tidak terlepas dari sebuah kisah dalam cerita.

Saat kedua orangtua masih berada di samping kita, sering kita mengecewakan mereka. Kita sering memaksakan kehendak kita. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa begitu terlukanya hati mereka melihat sikap kita? Jadilah yang terbaik, jika mereka masih bisa melihatmu, dan buatlah bibir mereka selalu berbicara tentang kesuksesanmu. Kita tidak tahu, kapan Tuhan datang. Hargailah mereka selagi kau mampu, dan peluklah mereka dengan kesuksesan yang kau raih.
By; yohana bombol


puisi untuk mama

Mama
Surga kulihat padamu
Kau simpan semua cerita tentang hidupmu
Sedikitpun tak kau katakan
Betapa berat bebanmu

Saat kau pergi, kupikir waktunya tak lama
Karena saat itu aku terlalu kecil mama

Lelah menghitung hari disini
Lelah menanti mimpi
Mimpiku melihatmu mama

Banyak yang bisa menggantikan kata mama pada bibirku
Namun tak seindah saat aku memanggilmu mama

Saat aku hampir menyerah, cerita tentang hidupmu menyemangatiku
Segudang rahasia kau bawa pergi
Deritamu tak pernah kau katakan
Kaulah sosok tegar yang tak pernah mengeluh

Mama, disini aku berdiri menjadi dutamu
Meski kau telah pergi
Wajah dan sosokmu akan selalu ada
Mama pintaku tak semewah pinta temanku pada ibunya
Pintaku mama, jaga aku meski kau jauh

puisi untukmu papa

papa
Cerita tentangmu adalah kisah yang takkan ada ahkirnya
Kau adalah lelaki terhebat, yang selalu kubanggakan
Saat dipundakmu mengemban dua tugas mulia
Kau menjadi ayah, ibu
papa
Empat tahun kau bergulat untuk hidup
Senyum terukir dibibirmu
Rupiah tak kau hitung
Asalkan kau pulih
papa
Semua itu untukku
Dan dua bintang lainnya yang kau punya
papa....
Cita-citamu menjadi fundasi untukku
Menutup mata dan mendoakanmu adalah tugasku
Rasa rindu ingin memelukmu selalu ada
Namun aku tahu papa, duniamu bukan duniaku lagi