Penyesalan
Terahkir
Adtya,
Jakarta tempatku saat ini menetap. Jauh dari segala jeritan hati,
dan tangisan jiwa. Kemiskinan membuatku harus bernaung di bawah terik
mentari mencari sesuap nasi dalam keramaian dan kebisingan ibukota.
Aku
adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahku seorang nelayan,
ibuku bekerja membantu ayah. Kebutuhan keluargaku tak selalu di
penuhi. Namun ayahku selalu berjuang untuk mencukupi kebutuhan dalam
rumah meski semua tak tercukupi. Kemisikinan seakan membuat hidupku
tak berguna. Aku bosan dengan rutinitas hidupku yang tak pernah
berubah setiap hari, bulan, bahkan tahu.
Akupun
memilih untuk berhenti sekolah. Saat itu aku kelas 3 SMP. Ayah dan
ibu tidak memaksa bahkan memarahiku. Aku sering membentak ayahku,
memaki ibuku, bahkan memukul adik-adikku. Sosok ayahku yang kurus,
ibuku yang lemah karena penyakit asma membuatku sesuka hati.
Aku
menuntut ayah untuk membelikanku sepeda motor. Ayah terpaksa menjual
perahunya karena aku mengancam untuk membakar rumah kalau-kalau
keinginanku tidak di penuhi. Keinginanku pun ayah penuhi. Aku pernah
berpikir saat itu betapa sulitnya ayah saat itu. Namun, hati nuraniku
telah mati.
Aku
semakin jarang berada di rumah semenjak ayah membelikanku sepeda
motor. Siang aku ojek.
Uang
hasil ojek siang, aku gunakan untuk minum pada malam hari bersama
teman-temanku.
Malam
itu, adik perempuanku menemui. Ia menarikku dari kerumunan
teman-temanku. Ia bilang, ayah sedang sakit. Aku mendorong adikku,
dan menyuruhnya pulang. Adikku pergi dengan airmata. Bagiku berita
itu hanyalah kabar burung yang tak perlu aku tanggapi.
Pagi
itu aku pulang dalam keaadaan mabuk. Aku melihat adikku perempuanku
sedang tidur kelelahan. Aku tahu adikku lelah menjaga ayah. Aku
menyuruhnya bangun, dan menyiapkan segelas kopi. Ia tak melawan
bahkan protes. Ia menyiapkan untuk. Ia terus memandangku. Matanya
berkaca-kaca. “kak, ayah sakit. Ibu tak punya cukup uang untuk
membawa ayah ke dokter”. Aku memandang adikku. “ terus, apa
hubungannya denganku?”. Adikku hanya diam, dan ahkirnya airmatanya
tak tertahan lagi.
Kepedihan
hati adikku semakin mencekam, karena malam itu ayah dan ibu meninggal
bersamaan. Ayah mau membantu ibu yang asmanya kumat. Dan saat itu
juga penyakit ayah kambuh. Adik-adikku menjadi saksi kepergian ayah
dan ibuku. Mereka sangat terpukul, dan sampai saat ini, mereka sangat
membenciku.
Kini
aku sadar, betapa pilu menjadi yatim piatu. Tuhan mengambil dua sosok
yang masih kubutuh. Aku tidak pernah mensyukuri apa yang telah aku
miliki. Kini aku bertanggung jawab atas adik-adikku. Aku hanya
berharap, ayah dan ibuku telah memaafkan aku. Aku berjanji untuk
memberikan kehidupan yang layak dan pantas untuk adik-adikku.
Hidup
adalah sebuah pilihan. Kematian dan berpisah dari orang-orang yang
kita sayangi tentu bukanlah sebuah pilihan yang kita inginkan.
Orangtua adalah sosok yang paling kita kenal sebelum kita mengenal
orang lain. Orangtua adalah sosok yang begitu kita cintai. Mereka
ibarat payung. Saat musim hujan, panas maupun salju kita sangat
membutuhkan payung, untuk melindungi kita. Begitulah orangtua. Mereka
selalu berusaha menjadi pelindung bagi kita. Apapun keaadaan mereka
selalu berusaha melindungi kita.
Aku
sering mendengar curhat teman-temanku saat memiliki masalah . Mereka
sering cerita ayah sangat keras, atau ibu yang keras. Kadang apa yang
mereka minta tidak di penuhi. Mereka marah, merajuk dan bahkan
memilih lari dari rumah. Mereka juga sering cerita ayah dan ibu
mereka sering ribut, yang membuat mereka minder. Begitu banyak 1001
cerita teman-temanku tentang orangtuanya.
Aku
hanya diam, sambil tersenyum. Dalam hati aku berbicara, pernahkah
mereka berpikir, betapa pilunya hati kedua orangtua mereka, saat
mereka lari dari rumah? Pernahkah mereka berpikir jika yang pergi itu
adalah orangtua?? Apa mereka masih bisa tersenyum?
Teman-temanku,
rasa sakit hati ketika di tinggal pacar, di putus pacar, di cuekin
sahabat tidaklah sama seperti rasa sakit ketika kita di tinggal untuk
selamanya oleh kedua orangtua kita. Kita masih memiliki banyak
sahabat, ketika salah satu dari sahabat kita meninggalkan kita, kita
masih punya banyak penggemar, ketika cinta pertama kita meninggalkan
kita, dan kita masih punya banyak waktu saat tugas kita menumpuk.
Namun, apakah kita bisa ceria saat kedua orangtua kita pergi untuk
selamanya?
Kita
sering menipu ibu, dengan alasan kerja tugas, tetapi kita ke kos
pacar. Kita juga sering membohongi ayah tentang uang belanja, uang
buku, uang fotocopy. Ternyata uang itu kita pakai untuk
senang-senang.
Mereka
tidak pernah mengatakan bahwa mereka sedang galau, seperti kita yang
dengan spontan mengatakan kita sedang galau saat pacar kita
selingkuh. Mereka hanya diam, dan dalam diam itu sebait doa mereka
panjatkan untuk kita. Mereka menginginkan yang terbaik untuk kita.
Saat
kita kehilangan salah satu dari kedua orangtua kita, kita merasa
hidup kita tidaklah lengkap. Ayah dan ibu adalah sosok yang berbeda,
namun satu kesatuan yang tak pernah bisa kita pisahkan.
Ketika
mereka telah tiada, kita bagaikan pohon yang berdiri tanpa akar.
Sewaktu-waktu pohon itu akan jatuh karena angin.
Semua
akan bisa kita atasi ketika kita menyadari bahwa apa yang kita milik
Tuhan. Meskipun kita merasa begitu jauh darinya saat kita kehilangan
orangtua kita, sesungguhnya Tuhan sedang memeluk kita. Kita tidak
merasakan hangatnya belaian papa dan mama, Tuhan memberikan sosok
lain dalam hidup kita.
Saat
kedua kaki kita tak lagi bisa melangkah, sesungguhnya Tuhan
memberikan begitu banyak tongkat membantu kita untuk tetap berjalan.
By:
yohana bombol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar