Tentang
Sahabatku
Wajah
cerianya seakan tak menunjukkan bahwa ia sedang bahagia. Ia memaksa
dirinya untuk tetap tersenyum. Hatinya sedang kacau, dan raganya tak
menyatu bersama pikirannya.
Aku
tahu, sahabatku sedang bimbang, dan aku tidak tahu apa penyebabnya.
Aku memegang pundaknya. Sebelum menyapanya, kuberikan ia senyum dan
ciuman persahabatan kami.
Aku
mencoba menyentuh relung hatinya yang paling dalam, dengan
menceritakan kisah seorang Ibu yang melahirkan Putranya di dalam
kandang domba.
Matanya
seakan ingin menangis memandangku, sejuta cerita duka ia selipkan di
pandangan matanya. Bibirnya bergetar. Ia pun menangis memelukku.
Kembali
teringat pertengkaran hebatku dengannya 2 bulan yang lalu.
Pacarnya
seorang yang memiliki keyakinan yang berbeda.
Awal
ia mengenal pria itu, aku sangat tidak setuju. Hal yang paling
mendasariku adalah keyakinan yang berbeda. Selain itu aku tahu
lelaki itu bukan sosok yang pantas dicintai sahabatku. Namun ada
sedikit keraguan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Reilia
sahabatku menganggap itu semua hanya alasanku. Bahkan ketika aku
melarangnya bertemu pria itu, ia sering bergerutu “ ah, ini sudah
bukan asrama lagi Dian. Mengapa semuanya harus diatur?.
Aku
tidak pernah malas dan bosan untuk mengingatkannya.
“ Reilia,
ini sudah malam. Apa tidak lebih baik besok saja kamu jalan-jalan.
Sebentar lagi masa Adven. Bukankah lebih baik kita berdoa, seperti
kebiasaan kita di asrama?”
“ Dian,
ini malam Minggu. Ya aku tahu sebentar masa Adven, besok saja doanya
di gereja. Kamu tidak bosan 3 tahun di asrama? Kerja kita hanya doa,
taize, legio, misa bahasa Inggris? Ah apa lagi yang lain. Aku saja
lupa Dian, saking banyaknya.
“ Reil!!!!
Kali ini aku membentaknya.
Namun,
semuanya sia-sia. Pintu rahasia kos, menjadi jalan keluarnya malam
itu.
Begitulah
seterusnya, sampai masa Adven pun tiba. Aku mengajaknya ke gereja.
Namun, jawabannya sangat singkat. Aku tunggu Natal sekalian ya,,,,,,,
Dan
puncaknya pada hari itu. Natal tinggal 2 hari. Ia bercerita padaku,
pacarnya ingin Rosario yang ia pakai. Pernyataan itu membuat aku
marah dan menghujaninya dengan kata-kata kasar. Meski aku tahu, itu
sangat menyakitkannya. Ia hanya diam terpaku menatapku.
Aku
bertanya, bodohkah kamu menjual Tuhanmu sendiri. Kamu tidak malu,
kalau ia menggunakan itu sebagai aksesoris. Apa Tuhanmu juga kau
anggap seperti itu?? Kamu lihat Reilia, sekarang orang berlomba-lomba
memakai Rosario, namun sikap mereka jauh dari ajaran Tuhan.
Reil
hanya diam. Diam tanpa aku tahu, apa dia mengerti atau tidak.
Sehari
kemudian, Ia pun memutuskan untuk pindah dariku.
Akupun
merayakan Natal sendiri. Natal pertama yang aku jalani di tanah orang
tanpa ditemani seorang kerabat pun namun kebahagiaan akan sang
Kristus tetap aku pancarkan.
Aku
dengan semangat menceritakan pengalaman Natal dan Tahun Baru pada
Reilia. Ia mendengarku tanpa ku tahu Ia sedang menyimakku, atau
sedang memikirkan hal lain.
Ia
pun tak dapat menahan tangisnya. Reilia memelukku dan menangis. Dan
ini tangisan yang kedua setelah aku datang.
“ Dian,
maaf, selama ini aku tak pernah sedikit pun mendengarmu. Kamu
kuanggap sebagai batu sandungan dalam hidupku. Ternyata itu semua
membuatku hancur Dian. Aku bukan Reilia yang kamu kenal dulu.
Laki-laki brengsek itu sudah membuatku hancur Dian. Aku sudah tidak
utuh lagi Dian”.
Reilia
menangis dan menghujani kata-kata kasar terhadap laki-laki yang
pernah ia sanjung, bahkan laki-laki yang membuat persahabatan kami
ikut hancur.
Aku
memeluknya. “ Reilia, aku pernah bilang kan? Jika Tuhanmu saja kau
jual demi cinta, siapa yang akan menjagamu? Cinta tidak harus
mengorbankan segala yang kita miliki, jika kamu sendiri tahu kamu dan
dia tidak akan pernah bersatu? Tuhan mencintaimu tak pernah menuntut
balas, ya meski kamu sering meninggalkan Dia. Apa itu belum cukup???
Belum cukup orang-orang disekitar kamu?
Reilia
terus menangis. Aku tahu, hatinya telah hancur.
“ Reilia,,,,,,
sudah saatnya kamu sadar sekarang. Tuhan sedang mengujimu sahabat
sayang. Sekarang berbaliklah, Tuhan Yesus sedang menunggumu untuk
kembali padaNya. Ia sedang tersenyum memandangmu. Bahkan saat ini
Tuhan sangat merindukanmu sahabat. Jangan takut Reilia, aku tetap
jadi sahabat kamu kok.....seperti apapun dosa kita Tuhan akan ampuni
kita, yang terpenting kita mau bertobat. Ok??
Ratu
kos kok galau? Kamu kan pernah bilang, kita akan jadi Ratu kos... aku
bergurau mencoba mengukir senyum dibibirnya.
Relia
tersenyum memandangku. “ kamu tidak dendam?”
“ hahahaha
Reilia,,,,,, dendam untuk apa? Ini Tahun Baru. Sekarang kamu mandi,
pulang ke tempat dimana kita memulai cerita disini, ok?”
Reilia
memelukku lagi. Aku tahu meski pilunya luka masih ia rasakan,
setidaknya ia tahu Tuhan masih mencintainya. Dan seperti apapun
keadaannya, Ia tetap sahabatku. Karena tugas seorang sahabat itu,
mengingatkan sahabatnya ketika ia lupa, menariknya saat ia terjatuh,
menjaganya saat ia sakit, menguatkannya saat ia gundah. Sahabat
sejati, tidak harus selalu mengikuti semua yang sahabatnya lakukan,
ia tahu mana yang harus ia katakan TIDAK, karena ia tahu itu salah.
”Dan
dibalik semua itu Tuhanlah yang berkarya. Cinta Tuhan yang akan hadir
melalui orang-orang disekitar kita. Mereka yang mau menerima kita
Reilia, tanpa memandang. Karena kita semua tidak luput dari debu hina
yang ada di dunia ini.”
Sekian
Yohana
bombol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar