Selasa, 13 Januari 2015

Tentang sahabatkuu


Tentang Sahabatku

Wajah cerianya seakan tak menunjukkan bahwa ia sedang bahagia. Ia memaksa dirinya untuk tetap tersenyum. Hatinya sedang kacau, dan raganya tak menyatu bersama pikirannya.
Aku tahu, sahabatku sedang bimbang, dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Aku memegang pundaknya. Sebelum menyapanya, kuberikan ia senyum dan ciuman persahabatan kami.
Aku mencoba menyentuh relung hatinya yang paling dalam, dengan menceritakan kisah seorang Ibu yang melahirkan Putranya di dalam kandang domba.
Matanya seakan ingin menangis memandangku, sejuta cerita duka ia selipkan di pandangan matanya. Bibirnya bergetar. Ia pun menangis memelukku.
Kembali teringat pertengkaran hebatku dengannya 2 bulan yang lalu.
Pacarnya seorang yang memiliki keyakinan yang berbeda.
Awal ia mengenal pria itu, aku sangat tidak setuju. Hal yang paling mendasariku adalah keyakinan yang berbeda. Selain itu aku tahu lelaki itu bukan sosok yang pantas dicintai sahabatku. Namun ada sedikit keraguan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Reilia sahabatku menganggap itu semua hanya alasanku. Bahkan ketika aku melarangnya bertemu pria itu, ia sering bergerutu “ ah, ini sudah bukan asrama lagi Dian. Mengapa semuanya harus diatur?.
Aku tidak pernah malas dan bosan untuk mengingatkannya.
Reilia, ini sudah malam. Apa tidak lebih baik besok saja kamu jalan-jalan. Sebentar lagi masa Adven. Bukankah lebih baik kita berdoa, seperti kebiasaan kita di asrama?”
Dian, ini malam Minggu. Ya aku tahu sebentar masa Adven, besok saja doanya di gereja. Kamu tidak bosan 3 tahun di asrama? Kerja kita hanya doa, taize, legio, misa bahasa Inggris? Ah apa lagi yang lain. Aku saja lupa Dian, saking banyaknya.
Reil!!!! Kali ini aku membentaknya.
Namun, semuanya sia-sia. Pintu rahasia kos, menjadi jalan keluarnya malam itu.
Begitulah seterusnya, sampai masa Adven pun tiba. Aku mengajaknya ke gereja. Namun, jawabannya sangat singkat. Aku tunggu Natal sekalian ya,,,,,,,
Dan puncaknya pada hari itu. Natal tinggal 2 hari. Ia bercerita padaku, pacarnya ingin Rosario yang ia pakai. Pernyataan itu membuat aku marah dan menghujaninya dengan kata-kata kasar. Meski aku tahu, itu sangat menyakitkannya. Ia hanya diam terpaku menatapku.
Aku bertanya, bodohkah kamu menjual Tuhanmu sendiri. Kamu tidak malu, kalau ia menggunakan itu sebagai aksesoris. Apa Tuhanmu juga kau anggap seperti itu?? Kamu lihat Reilia, sekarang orang berlomba-lomba memakai Rosario, namun sikap mereka jauh dari ajaran Tuhan.
Reil hanya diam. Diam tanpa aku tahu, apa dia mengerti atau tidak.
Sehari kemudian, Ia pun memutuskan untuk pindah dariku.
Akupun merayakan Natal sendiri. Natal pertama yang aku jalani di tanah orang tanpa ditemani seorang kerabat pun namun kebahagiaan akan sang Kristus tetap aku pancarkan.
Aku dengan semangat menceritakan pengalaman Natal dan Tahun Baru pada Reilia. Ia mendengarku tanpa ku tahu Ia sedang menyimakku, atau sedang memikirkan hal lain.
Ia pun tak dapat menahan tangisnya. Reilia memelukku dan menangis. Dan ini tangisan yang kedua setelah aku datang.
Dian, maaf, selama ini aku tak pernah sedikit pun mendengarmu. Kamu kuanggap sebagai batu sandungan dalam hidupku. Ternyata itu semua membuatku hancur Dian. Aku bukan Reilia yang kamu kenal dulu. Laki-laki brengsek itu sudah membuatku hancur Dian. Aku sudah tidak utuh lagi Dian”.
Reilia menangis dan menghujani kata-kata kasar terhadap laki-laki yang pernah ia sanjung, bahkan laki-laki yang membuat persahabatan kami ikut hancur.
Aku memeluknya. “ Reilia, aku pernah bilang kan? Jika Tuhanmu saja kau jual demi cinta, siapa yang akan menjagamu? Cinta tidak harus mengorbankan segala yang kita miliki, jika kamu sendiri tahu kamu dan dia tidak akan pernah bersatu? Tuhan mencintaimu tak pernah menuntut balas, ya meski kamu sering meninggalkan Dia. Apa itu belum cukup??? Belum cukup orang-orang disekitar kamu?
Reilia terus menangis. Aku tahu, hatinya telah hancur.
Reilia,,,,,, sudah saatnya kamu sadar sekarang. Tuhan sedang mengujimu sahabat sayang. Sekarang berbaliklah, Tuhan Yesus sedang menunggumu untuk kembali padaNya. Ia sedang tersenyum memandangmu. Bahkan saat ini Tuhan sangat merindukanmu sahabat. Jangan takut Reilia, aku tetap jadi sahabat kamu kok.....seperti apapun dosa kita Tuhan akan ampuni kita, yang terpenting kita mau bertobat. Ok??
Ratu kos kok galau? Kamu kan pernah bilang, kita akan jadi Ratu kos... aku bergurau mencoba mengukir senyum dibibirnya.
Relia tersenyum memandangku. “ kamu tidak dendam?”
hahahaha Reilia,,,,,, dendam untuk apa? Ini Tahun Baru. Sekarang kamu mandi, pulang ke tempat dimana kita memulai cerita disini, ok?”
Reilia memelukku lagi. Aku tahu meski pilunya luka masih ia rasakan, setidaknya ia tahu Tuhan masih mencintainya. Dan seperti apapun keadaannya, Ia tetap sahabatku. Karena tugas seorang sahabat itu, mengingatkan sahabatnya ketika ia lupa, menariknya saat ia terjatuh, menjaganya saat ia sakit, menguatkannya saat ia gundah. Sahabat sejati, tidak harus selalu mengikuti semua yang sahabatnya lakukan, ia tahu mana yang harus ia katakan TIDAK, karena ia tahu itu salah.
Dan dibalik semua itu Tuhanlah yang berkarya. Cinta Tuhan yang akan hadir melalui orang-orang disekitar kita. Mereka yang mau menerima kita Reilia, tanpa memandang. Karena kita semua tidak luput dari debu hina yang ada di dunia ini.”

Sekian
Yohana bombol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar