Sebuah kisah dalam
cerita
Aku adalah judul dari
ceritaku ini. Cerita ini kubuat atas dasar hati yang yang penuh
dengan lumuran darah kebencian dan kekecawaan. Benci karena kenyataan
hidup yang kuterima, dan kecewa karena aku selalu merasa sendiri.
Cerita ini kubuat untuk membagi kisah pedih hidup tanpa orangtua.
Namun,
dibalik rasa kecewa
itu,
ada
semangat
yang membuatku
mampu
bertahan
sejauh
ini.
Aku berharap cerita ini mampu memberi motivasi bagi para sahabatku,
untuk menghargai kedua orangtua. Karena dalam setiap denyut nadimu,
itulah
detak jantung ayah dan ibumu.
Namaku
Johanam,
aku gadis berusia 18 tahun, yang sudah menjadi yatim piatu saat aku
berusia 16 tahun.
“ Kalau
di rumah lagi ngga
ada orang tua , itu yang di inginkan para remaja seusiaku. Bebas
berekspresi, ya kebebasan yang tentunya tidak diinginkan orangtua,
seperti makan tidak tepat waktu, nonton bola sampai larut, dan yang
paling parah mengundang teman-teman untuk tidur di rumah, yah pasti
tahu apa yang terjadi??. Nonton film yang tidak-tidak, rokok, minum,
dan seperti yang lazim terjadi saat ini free
seks”
begitu pendapat temanku dari Kalimantan, ketika aku menyakan
pendapatnya
Itu
kebebasan yang akan dirasakan ketika orang tua pergi hanya untuk
beberapa hari. Namun, apakah kebebasan itu tetap akan dirasakan, jika
kepergian itu untuk selamanya??
Kali
ini temanku tak dapat menjawab pertanyaanku.
Saat
mama meninggal, usiaku masih 11 tahun. Aku anak bungsu dari tiga
bersaudara. Papa ku seorang guru SMA. Dan Mamaku seorang guru SD.
Saat mama meninggal, aku belum mengerti. Aku menangisi jenazah mama,
saat kulihat papa dan kedua saudaraku menangis. Sedikit aku merasakan
kebebasan saat mamaku meninggal. Tak ada lagi yang memarahiku, tak
ada lagi yang menyuruhku mengerjakan matematika yang tidak kusukai.
Dan yang lebih kusuka, aku bebas menonton tv di rumah tetangga
kapanpun ku mau. Aku tak pernah sedikitpun berpikir bahwa hidup tanpa
seorang ibu bagaikan neraka dalam dunia. Aku hanya memikirkan
kesenangan saat usiaku masih usia kanak-kanak menurutku sendiri.
Padahal
menurut papa, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti segalanya. Aku
merasa diriku kanak-kanak karena aku sangat di manja oleh papa, mama
dan kedua kakakku. Dan tak ada satupun pekerjaan yang bisa kulakukan
untuk membantu mama, karena setiap hari yang kulakukan hanya
berkumpul bersama teman-temanku untuk bermain bola, memancing atau
berenang di kali dekat rumahku. Meski setiap hari dipukul, itu tidak
membuatku takut. Mamaku sosok yang tegas dan keras. Namun dibalik
semua itu, mama adalah sosok yang sangat menyayangi anak-anaknya.
Bahkan mama pernah menggendongku sejauh 5 km saat aku sakit DBD. Ya
maklumlah, itu semua karena letak rumahku yang jauh dari keramaian.
Saat itu, keluargaku masih menempati rumah milik pemerintah, yang
saat ini sudah dihancurkan.
Satu
bulan setelah kepergian ibuku, aku merasakan kesepian yang luar
biasa. Aku
berpikir
selama
ini
aku
bahagia.
Ternyata
aku
kekurangan
kasih
sayang.
Aku
tidak
menyadari.
Aku
sibuk,
karena
aku
takut.
Takut
membayangkan
wajah
mama.
Dan
aku pun
mulai
sadar,
aku sedang terluka. Batinku sedang terluka dan menjerit.
Tak
ada lagi yang menemaniku ke sekolah, tak ada lagi yang menemaniku
tidur dan tak ada lagi yang menemaniku sarapan pagi. Sosok mama
benar- benar hilang. Aku ke sekolah sendiri, pulang sekolah aku harus
duduk menunggu papa. Aku kadang harus menahan lapar. Kadang aku harus
tidur siang menahan lapar diatas makam mama. Melihat foto mama, ya
menurut papa foto itu diambil saat mama 2 bulan lagi akan melahirkan
aku anak bungsunya. Kadang aku juga membayangkan saat aku dan mama
pulang sekolah bersama. Pernah aku mencuri kelapa milik tetangga
untuk membeli ikan kering. Dan hal itu membuat mama marah dan sedih.
Mama tidak sampai hati menghukumku. Saat makan malam, mama
menceritakan kejadian konyol itu kepada papa. Dan sungguh malang
nasibku saat itu. Papa menyuruhku berlutut di lantai kasar. Karena
lantai dirumahku belum semuanya selesai. Ya itu rumah baru kami, yang
hanya mama tinggal selama 8 bulan, karena ia harus pergi. Papa
menyuruhku untuk mengembalikan kelapa itu, dan minta maaf kepada
pemilik kelapa. Sunggu konyol kan ?? Saat itu mama tersenyum
mendengar perintah papa. Begitulah mama, ia tidak menghukumku karena
ia tahu tujuanku. Setelah dihukum, mama menceritakan alasannya kepada
papa kenapa aku mencuri. Hmmmm waktu itu aku merajuk, bukan karena
dihukum papa, tapi karena papa yang ahkirnya tertawa mendengar alasan
itu.
Dan
airmata pun tak tahan lagi. Aku menagis memegang nisan mama. Semua
itu kujalani hingga aku duduk di kelas 2 SMP. Aku
merasakan
kesepian yang luar biasa, sampai ahkirnya aku mulai sadar ini neraka
bagiku.
Hidupku
semakin kacau. Bahkan papa ikut merasakan kekecewaan karena sikapku.
Aku merokok, pulang sekolah tidak tepat waktu, bahkan aku membenci
papa. Aku menganggap, papa yang menyebabkan ini semua terjadi. Papa
yang terlalu sibuk. Selama mama sakit, papa sibuk dengan kegiatan di
Gereja. Aku harus lari untuk memanggil tetanggaku yang rumahnya
sangat jauh dari rumahku, untuk menolong mama. Namun mama tak pernah
sedikitpun mengeluh bahwa ia sedang sakit. Hingga ahkirnya, ia
menutup mata untuk selamanya. Dan akulah satu-satunya anak yang
menyaksikan peristiwa perih itu. Peristiwa yang sampai saat ini
sering membangunkanku dari tidur nyenyakku.
Karena
setiap hari seperti itu, aku memilih untuk tinggal bersama om dan
tantaku. Saat itu perlahan aku mulai merasakan perbedaan dalam
hidupku. Perhatian dan kasih sayang om dan tantaku, sedikit demi
sedikit mampu membuatku melupakan kehadiran ibu, meski berat bagiku.
Memaksa diriku untuk mengerti. Aku memang sosok yang butuh perhatian.
Dan perhatian itupun perlahan kurasakan dari om dan tantaku. Aku
tahu, papa tidak pernah menelantarkanku. Namun aku mengerti, papa
setiap hari menjalankan dua tugas dalam hidupnya. Menjadi seorang
ayah yang kelihatan tegar dan tegas, dan seorang ibu yang penuh
dengan kelembutan.
Dan
saat ini aku sering menangis saat membayangkan betapa mulia tugas
ayah, meski ia harus menjalankannya dengan rumit. Ia harus membiayai
3 buah
hatinya.
Dan ia harus menjadi satu-satunya tiang untuk menjadi tempat sandaran
aku dan kedua kakakku.
Kondisi
kesehatan ayah mulai menurun.Saat
itu
aku
kelas
3 SMP.
Papa memintaku
untuk
tetap
tinggal
bersama
om
dan
tantaku.
Aku
tahu,
saat
itu
ayah tidak
ingin
aku
menjadi
saksi
penderitaannya.
Saat
ini
aku
sering
menangis.
Ayah pernah
bilang
aku
satu-satunya
anaknya
yang membuat
ia
berjuang
untuk
hidup.
Ia
merasa belum sempurna menjalankan wasiat mama. Papa pergi saat aku
masih belum bisa menjadi seperti kedua kakakku, yang membawa foto
sebagai bukti cinta mereka kepada papa dan mama, bahwa mereka telah
tamat dengan gelarnya.
Dalam
keadaan sakit, papa memaksakan diri untuk mengantarku ke asrama
Susteran yang akan kutinggal selama aku SMA. Papa mendaftarkan aku
pada SMA Negeri yang jauh dari rumah. Papa tidak mau aku sekolah di
tempat ia mengajar. Dan saat ini aku tahu apa alasan ayah. Ia tidak
mau aku tahu, saat itu penyakitnya tak tertolong lagi. Bekas benturan
21 tahun yang lalu pada lehernya,menjadi alasan yang membuatnya
mengajukan pensiun dini. Aku tahu papa sangat menyayangiku. Saat aku
SMP kelas 3, papa sering menjemputku pulang sekolah, bukan karena ia
takut aku tidak pulang tepat waktu. Papa pernah cerita, saat ia tidur
siang mama datang membuka pintu kamar, dan menanyakan aku dimana, dan
kenapa belum pulang. Sejak itu papa sering mengawasi. Kemanapun aku
pergi papa selalu minta untuk tidak pulang terlalu sore.
Saat
itu hujan lebat. Sebagian teman-temanku memutuskan untuk tidak
pulang dulu sebelum hujan reda, namun yang lain memutuskan untuk
tetap pulang karena lapar. Aku pun memilih untuk berjalan dibawah
rintik hujan yang begitu deras itu. Dari jauh aku melihat papa. Di
tangan kanannya ia memegang payung untuk dirinya sendiri. Dan di
tangan kirinya payung yang baru. Mungkin baru ia beli. Ia terlihat
sedang mencariku diantara anak-anak SMP yang sedang berlari. Aku
menemui papa.” Papa mau kemana?”. Papa tidak menjawabku. Ia
memberikan payung baru itu padaku. Dan berpesan untuk langsung pulang
ke rumah, karena papa harus ke teman gurunya. Aku tahu saat itu papa
sedang sakit. Dalam keaadan sakit pun, papa tetap berusaha menjagaku.
Kondisi
papa pun semakin parah, saat aku naik kelas 2 SMA. Sering aku
menelpon papa. Papa hanya mintaku untuk sabar dan serius dalam
belajar. Aku pikir itu nasihat papa untuk terahkir dalam hidupku.
Saat aku menjenguknya, aku hampir tidak mengenalnya. Papaku yang
kelihatan gemuk, kini kurus. Bahkan yang membuatku semakin tak
berdaya, papa lupa namaku. Papa sering memanggil namaku, namun ia
tidak tahu akulah sosok yang ia cari. Papa lupa akan dirinya sendiri.
Papa lupa akan anaknya sendiri. Penyakit itu telah membuat papaku
lupa segalanya. Dan pada ahkirnya papapun pergi ke tempat mama.
Ketempat yang ku yakini akan membawanya pada kesembuhan abadi. Dan
tempat yang membuatku takkn bisa melihat, mendengar dam memeluk papa
dan mama lagi.
Inilah
kenyataan yang harus ku terima. Aku tak bisa menuntut lebih, aku
hanya merasa sungguh tak adil bagiku. Ini bukan pilihanku, namun
inilah hidupku.
Akupun
menjadi seorang yatim piatu. Sebuah kata yang hanya kudengar dalam
dongeng yang sering papa ceritakan, yang ahkirnya aku sendiri yang
alami. Namun hidupku bukan dongeng yang sering papa ceritakan itu.
Dan kenyataan membuatku harus realistis.
Hidup
tanpa papa dan mama bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku menyelesaikan
pendidikan SMAku tanpa tahu tujuan dan arah hidupku. Doa dan dukungan
orang-orang disekitarku menghantarku ke gerbang kelulusan. Aku
sedikit bangga, namun penuh dengan kekecewaan. Aku ingin seperti
kedua kakakku, yang pulang ke rumah dengan senang sambil memeluk papa
dan mama karena mereka lulus. Saat itu papa dan mama terlihat bangga.
Bangga karena mereka berhasil mengukir senyum bahagia pada bibir
anak-anaknya. Sementara aku, aku pergi di antar papa, dan pulang di
jemput duka karena kepergian papa. Saat ku pulang, tak ada yang
menjemputku seperti mama yang menunggu kakakku di depan rumah yang
langsung di suguhi pertanyaan “
kamu lulus kan “
dan mama langsung mencium pipi anaknya, dan dengan bangga menceritan
kepada teman-temannya bahwa anaknya lulus.
Saat
aku pulang, aku langsung masuk kamar, meletakkan tasku dan duduk di
tempat tidurku, sambil aku membayangkan, andai saja mama dan papa
ada, masihkah aku seperti ini?, adakah kondisi dan kisah hidupku
seperti ini?. Aku hanya melihat nisan papa dan mama yang dihiasi foto
yang letaknya tidak jauh dari kamarku. Sedikit aku berbisik, puaskah
telah menjadikanku seorang gadis malang???
Saat
ini aku telah jauh dari nisan yang mengukir dua nama indah itu. Namun
nama mereka akan selalu indah dalam hatiku. Di tempat ini, aku akan
mewujudkan mimpiku. Mewujudkan mimpi papa dan mama. Kedua kakakku
bagai petunjuk arahku, aku ingin seperti mereka. Bahkan lebih dari
mereka. Aku ingin orang tetap mencerita tentang papa dan mama, meski
mereka telah tiada.
Menjadi
seorang yatim piatu itu bagai reruntuhan gedung yang dibakar dalam
waktu semalam tanpa diketahui orang apa penyebabnya. Bangunan itu
terlihat indah dan kokoh. Namun akan hancur dan roboh juga. Kadang
kita tak pernah tahu, kapan dan saat mana kita akan merasakan
kehilangan. Saat ini, aku kembali untuk papa dan mama. Aku tahu
disetiap langkahku, mereka senantiasa mengapitiku dan dengan setia
menghapus airmataku, saat aku merindukan mereka. Ketika kata “ papa
dan mama” kusebut untuk orang yang ada didekatku, rasanya sangat
berbeda ketika aku memanggil “ papa dan mama” kusendiri.
Namun
aku sadar, seribu orang yang akan menjadi papa dan mama dalam hidupku
sudah Tuhan hadirkan. Karena hidup tidak terlepas dari sebuah kisah
dalam cerita.
Saat
kedua orangtua masih berada di samping kita, sering kita mengecewakan
mereka. Kita sering memaksakan kehendak kita. Namun, pernahkah kita
berpikir bahwa begitu terlukanya hati mereka melihat sikap kita?
Jadilah yang terbaik, jika mereka masih bisa melihatmu, dan buatlah
bibir mereka selalu berbicara tentang kesuksesanmu. Kita tidak tahu,
kapan Tuhan datang. Hargailah mereka selagi kau mampu, dan peluklah
mereka dengan kesuksesan yang kau raih.
By;
yohana bombol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar