Senin, 12 Januari 2015

sebuah kisah dalam cerita. aku adalah judul ceritaku ini

Sebuah kisah dalam cerita

Aku adalah judul dari ceritaku ini. Cerita ini kubuat atas dasar hati yang yang penuh dengan lumuran darah kebencian dan kekecawaan. Benci karena kenyataan hidup yang kuterima, dan kecewa karena aku selalu merasa sendiri. Cerita ini kubuat untuk membagi kisah pedih hidup tanpa orangtua. Namun, dibalik rasa kecewa itu, ada semangat yang membuatku mampu bertahan sejauh ini. Aku berharap cerita ini mampu memberi motivasi bagi para sahabatku, untuk menghargai kedua orangtua. Karena dalam setiap denyut nadimu, itulah detak jantung ayah dan ibumu.

Namaku Johanam, aku gadis berusia 18 tahun, yang sudah menjadi yatim piatu saat aku berusia 16 tahun.
Kalau di rumah lagi ngga ada orang tua , itu yang di inginkan para remaja seusiaku. Bebas berekspresi, ya kebebasan yang tentunya tidak diinginkan orangtua, seperti makan tidak tepat waktu, nonton bola sampai larut, dan yang paling parah mengundang teman-teman untuk tidur di rumah, yah pasti tahu apa yang terjadi??. Nonton film yang tidak-tidak, rokok, minum, dan seperti yang lazim terjadi saat ini free seks” begitu pendapat temanku dari Kalimantan, ketika aku menyakan pendapatnya
Itu kebebasan yang akan dirasakan ketika orang tua pergi hanya untuk beberapa hari. Namun, apakah kebebasan itu tetap akan dirasakan, jika kepergian itu untuk selamanya??
Kali ini temanku tak dapat menjawab pertanyaanku.

Saat mama meninggal, usiaku masih 11 tahun. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Papa ku seorang guru SMA. Dan Mamaku seorang guru SD. Saat mama meninggal, aku belum mengerti. Aku menangisi jenazah mama, saat kulihat papa dan kedua saudaraku menangis. Sedikit aku merasakan kebebasan saat mamaku meninggal. Tak ada lagi yang memarahiku, tak ada lagi yang menyuruhku mengerjakan matematika yang tidak kusukai. Dan yang lebih kusuka, aku bebas menonton tv di rumah tetangga kapanpun ku mau. Aku tak pernah sedikitpun berpikir bahwa hidup tanpa seorang ibu bagaikan neraka dalam dunia. Aku hanya memikirkan kesenangan saat usiaku masih usia kanak-kanak menurutku sendiri.
Padahal menurut papa, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti segalanya. Aku merasa diriku kanak-kanak karena aku sangat di manja oleh papa, mama dan kedua kakakku. Dan tak ada satupun pekerjaan yang bisa kulakukan untuk membantu mama, karena setiap hari yang kulakukan hanya berkumpul bersama teman-temanku untuk bermain bola, memancing atau berenang di kali dekat rumahku. Meski setiap hari dipukul, itu tidak membuatku takut. Mamaku sosok yang tegas dan keras. Namun dibalik semua itu, mama adalah sosok yang sangat menyayangi anak-anaknya. Bahkan mama pernah menggendongku sejauh 5 km saat aku sakit DBD. Ya maklumlah, itu semua karena letak rumahku yang jauh dari keramaian. Saat itu, keluargaku masih menempati rumah milik pemerintah, yang saat ini sudah dihancurkan.
Satu bulan setelah kepergian ibuku, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Aku berpikir selama ini aku bahagia. Ternyata aku kekurangan kasih sayang. Aku tidak menyadari. Aku sibuk, karena aku takut. Takut membayangkan wajah mama. Dan aku pun mulai sadar, aku sedang terluka. Batinku sedang terluka dan menjerit. 
 
Tak ada lagi yang menemaniku ke sekolah, tak ada lagi yang menemaniku tidur dan tak ada lagi yang menemaniku sarapan pagi. Sosok mama benar- benar hilang. Aku ke sekolah sendiri, pulang sekolah aku harus duduk menunggu papa. Aku kadang harus menahan lapar. Kadang aku harus tidur siang menahan lapar diatas makam mama. Melihat foto mama, ya menurut papa foto itu diambil saat mama 2 bulan lagi akan melahirkan aku anak bungsunya. Kadang aku juga membayangkan saat aku dan mama pulang sekolah bersama. Pernah aku mencuri kelapa milik tetangga untuk membeli ikan kering. Dan hal itu membuat mama marah dan sedih. Mama tidak sampai hati menghukumku. Saat makan malam, mama menceritakan kejadian konyol itu kepada papa. Dan sungguh malang nasibku saat itu. Papa menyuruhku berlutut di lantai kasar. Karena lantai dirumahku belum semuanya selesai. Ya itu rumah baru kami, yang hanya mama tinggal selama 8 bulan, karena ia harus pergi. Papa menyuruhku untuk mengembalikan kelapa itu, dan minta maaf kepada pemilik kelapa. Sunggu konyol kan ?? Saat itu mama tersenyum mendengar perintah papa. Begitulah mama, ia tidak menghukumku karena ia tahu tujuanku. Setelah dihukum, mama menceritakan alasannya kepada papa kenapa aku mencuri. Hmmmm waktu itu aku merajuk, bukan karena dihukum papa, tapi karena papa yang ahkirnya tertawa mendengar alasan itu.
Dan airmata pun tak tahan lagi. Aku menagis memegang nisan mama. Semua itu kujalani hingga aku duduk di kelas 2 SMP. Aku merasakan kesepian yang luar biasa, sampai ahkirnya aku mulai sadar ini neraka bagiku.
Hidupku semakin kacau. Bahkan papa ikut merasakan kekecewaan karena sikapku. Aku merokok, pulang sekolah tidak tepat waktu, bahkan aku membenci papa. Aku menganggap, papa yang menyebabkan ini semua terjadi. Papa yang terlalu sibuk. Selama mama sakit, papa sibuk dengan kegiatan di Gereja. Aku harus lari untuk memanggil tetanggaku yang rumahnya sangat jauh dari rumahku, untuk menolong mama. Namun mama tak pernah sedikitpun mengeluh bahwa ia sedang sakit. Hingga ahkirnya, ia menutup mata untuk selamanya. Dan akulah satu-satunya anak yang menyaksikan peristiwa perih itu. Peristiwa yang sampai saat ini sering membangunkanku dari tidur nyenyakku.
Karena setiap hari seperti itu, aku memilih untuk tinggal bersama om dan tantaku. Saat itu perlahan aku mulai merasakan perbedaan dalam hidupku. Perhatian dan kasih sayang om dan tantaku, sedikit demi sedikit mampu membuatku melupakan kehadiran ibu, meski berat bagiku. Memaksa diriku untuk mengerti. Aku memang sosok yang butuh perhatian. Dan perhatian itupun perlahan kurasakan dari om dan tantaku. Aku tahu, papa tidak pernah menelantarkanku. Namun aku mengerti, papa setiap hari menjalankan dua tugas dalam hidupnya. Menjadi seorang ayah yang kelihatan tegar dan tegas, dan seorang ibu yang penuh dengan kelembutan.
Dan saat ini aku sering menangis saat membayangkan betapa mulia tugas ayah, meski ia harus menjalankannya dengan rumit. Ia harus membiayai 3 buah hatinya. Dan ia harus menjadi satu-satunya tiang untuk menjadi tempat sandaran aku dan kedua kakakku.

Kondisi kesehatan ayah mulai menurun.Saat itu aku kelas 3 SMP. Papa memintaku untuk tetap tinggal bersama om dan tantaku. Aku tahu, saat itu ayah tidak ingin aku menjadi saksi penderitaannya. Saat ini aku sering menangis. Ayah pernah bilang aku satu-satunya anaknya yang membuat ia berjuang untuk hidup. Ia merasa belum sempurna menjalankan wasiat mama. Papa pergi saat aku masih belum bisa menjadi seperti kedua kakakku, yang membawa foto sebagai bukti cinta mereka kepada papa dan mama, bahwa mereka telah tamat dengan gelarnya.
Dalam keadaan sakit, papa memaksakan diri untuk mengantarku ke asrama Susteran yang akan kutinggal selama aku SMA. Papa mendaftarkan aku pada SMA Negeri yang jauh dari rumah. Papa tidak mau aku sekolah di tempat ia mengajar. Dan saat ini aku tahu apa alasan ayah. Ia tidak mau aku tahu, saat itu penyakitnya tak tertolong lagi. Bekas benturan 21 tahun yang lalu pada lehernya,menjadi alasan yang membuatnya mengajukan pensiun dini. Aku tahu papa sangat menyayangiku. Saat aku SMP kelas 3, papa sering menjemputku pulang sekolah, bukan karena ia takut aku tidak pulang tepat waktu. Papa pernah cerita, saat ia tidur siang mama datang membuka pintu kamar, dan menanyakan aku dimana, dan kenapa belum pulang. Sejak itu papa sering mengawasi. Kemanapun aku pergi papa selalu minta untuk tidak pulang terlalu sore.

Saat itu hujan lebat. Sebagian teman-temanku memutuskan untuk tidak pulang dulu sebelum hujan reda, namun yang lain memutuskan untuk tetap pulang karena lapar. Aku pun memilih untuk berjalan dibawah rintik hujan yang begitu deras itu. Dari jauh aku melihat papa. Di tangan kanannya ia memegang payung untuk dirinya sendiri. Dan di tangan kirinya payung yang baru. Mungkin baru ia beli. Ia terlihat sedang mencariku diantara anak-anak SMP yang sedang berlari. Aku menemui papa.” Papa mau kemana?”. Papa tidak menjawabku. Ia memberikan payung baru itu padaku. Dan berpesan untuk langsung pulang ke rumah, karena papa harus ke teman gurunya. Aku tahu saat itu papa sedang sakit. Dalam keaadan sakit pun, papa tetap berusaha menjagaku.

Kondisi papa pun semakin parah, saat aku naik kelas 2 SMA. Sering aku menelpon papa. Papa hanya mintaku untuk sabar dan serius dalam belajar. Aku pikir itu nasihat papa untuk terahkir dalam hidupku. Saat aku menjenguknya, aku hampir tidak mengenalnya. Papaku yang kelihatan gemuk, kini kurus. Bahkan yang membuatku semakin tak berdaya, papa lupa namaku. Papa sering memanggil namaku, namun ia tidak tahu akulah sosok yang ia cari. Papa lupa akan dirinya sendiri. Papa lupa akan anaknya sendiri. Penyakit itu telah membuat papaku lupa segalanya. Dan pada ahkirnya papapun pergi ke tempat mama. Ketempat yang ku yakini akan membawanya pada kesembuhan abadi. Dan tempat yang membuatku takkn bisa melihat, mendengar dam memeluk papa dan mama lagi.

Inilah kenyataan yang harus ku terima. Aku tak bisa menuntut lebih, aku hanya merasa sungguh tak adil bagiku. Ini bukan pilihanku, namun inilah hidupku.
Akupun menjadi seorang yatim piatu. Sebuah kata yang hanya kudengar dalam dongeng yang sering papa ceritakan, yang ahkirnya aku sendiri yang alami. Namun hidupku bukan dongeng yang sering papa ceritakan itu. Dan kenyataan membuatku harus realistis.

Hidup tanpa papa dan mama bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku menyelesaikan pendidikan SMAku tanpa tahu tujuan dan arah hidupku. Doa dan dukungan orang-orang disekitarku menghantarku ke gerbang kelulusan. Aku sedikit bangga, namun penuh dengan kekecewaan. Aku ingin seperti kedua kakakku, yang pulang ke rumah dengan senang sambil memeluk papa dan mama karena mereka lulus. Saat itu papa dan mama terlihat bangga. Bangga karena mereka berhasil mengukir senyum bahagia pada bibir anak-anaknya. Sementara aku, aku pergi di antar papa, dan pulang di jemput duka karena kepergian papa. Saat ku pulang, tak ada yang menjemputku seperti mama yang menunggu kakakku di depan rumah yang langsung di suguhi pertanyaan “ kamu lulus kan “ dan mama langsung mencium pipi anaknya, dan dengan bangga menceritan kepada teman-temannya bahwa anaknya lulus.

Saat aku pulang, aku langsung masuk kamar, meletakkan tasku dan duduk di tempat tidurku, sambil aku membayangkan, andai saja mama dan papa ada, masihkah aku seperti ini?, adakah kondisi dan kisah hidupku seperti ini?. Aku hanya melihat nisan papa dan mama yang dihiasi foto yang letaknya tidak jauh dari kamarku. Sedikit aku berbisik, puaskah telah menjadikanku seorang gadis malang???
Saat ini aku telah jauh dari nisan yang mengukir dua nama indah itu. Namun nama mereka akan selalu indah dalam hatiku. Di tempat ini, aku akan mewujudkan mimpiku. Mewujudkan mimpi papa dan mama. Kedua kakakku bagai petunjuk arahku, aku ingin seperti mereka. Bahkan lebih dari mereka. Aku ingin orang tetap mencerita tentang papa dan mama, meski mereka telah tiada.

Menjadi seorang yatim piatu itu bagai reruntuhan gedung yang dibakar dalam waktu semalam tanpa diketahui orang apa penyebabnya. Bangunan itu terlihat indah dan kokoh. Namun akan hancur dan roboh juga. Kadang kita tak pernah tahu, kapan dan saat mana kita akan merasakan kehilangan. Saat ini, aku kembali untuk papa dan mama. Aku tahu disetiap langkahku, mereka senantiasa mengapitiku dan dengan setia menghapus airmataku, saat aku merindukan mereka. Ketika kata “ papa dan mama” kusebut untuk orang yang ada didekatku, rasanya sangat berbeda ketika aku memanggil “ papa dan mama” kusendiri.
Namun aku sadar, seribu orang yang akan menjadi papa dan mama dalam hidupku sudah Tuhan hadirkan. Karena hidup tidak terlepas dari sebuah kisah dalam cerita.

Saat kedua orangtua masih berada di samping kita, sering kita mengecewakan mereka. Kita sering memaksakan kehendak kita. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa begitu terlukanya hati mereka melihat sikap kita? Jadilah yang terbaik, jika mereka masih bisa melihatmu, dan buatlah bibir mereka selalu berbicara tentang kesuksesanmu. Kita tidak tahu, kapan Tuhan datang. Hargailah mereka selagi kau mampu, dan peluklah mereka dengan kesuksesan yang kau raih.
By; yohana bombol


Tidak ada komentar:

Posting Komentar