Senin, 12 Januari 2015

drama dan hidup


Drama dan Hidup
Ketika kulihat ke arah timur, matahari telah kembali ke ufuk barat. Aku tahu matahari itu akan kembali datang dari ufuk timur. Meski terangnya kadang ditutup awan tebal, namun semua orang tahu ia tetap ada.
Saat siang berganti malam, bulan memancarkan cahayanya untuk menggantikan matahari. Begitulah yang akan terus terjadi, tanpa menghitung hari dan waktu. Dan setiap orang punya kesibukannya sendiri.
Aku berdiri menatap mentari yang kembali ke ufuk barat. Sejenak aku membayangkan, jikalau aku membuka mata di pagi esok, mentari itu tak kembali, masih bisakah aku berjalan? Dan kegelapan pun akan terjadi.

Hidupku tidaklah sendiri. Karena aku memang tidak pernah sendiri, tetapi aku merasa sendiri. Kadang aku ingin seperti matahari, yang menyinari banyak orang. Namun kadang aku takut menjadi seperti matahari, yang akan menjadi alasan bagi orang untuk bepergian, ketika panasnya mengigit. Aku takut menjadi alasan orang untuk maju, karena aku belum mampu menyinari diriku sendiri. Aku belum mampu menafkahi diriku sendiri. Karena meskipun menggigit, matahari memiliki sinar yang menerangi banyak orang.
Aku ada karena cinta, berdiri, berjalan dan berjuang karena cinta. Namun mengapa aku merasa ditinggalkan? Bukankah banyak orang yang mencintaiku? Sama halnya seperti matahari yang ditutup awan tebal, seperti itulah aku. Awan tebal dalam hidupku adalah luka dan duka.
Aku memiliki segalanya. Namun yang kumiliki tidak sepenuhnya membawaku dalam bahagia.
Hidupku bagai drama. Dan aku sendirilah pemeran utamanya. Aku tidak pernah tahu, siapa tokoh yang akan datang kedalam drama ini, karena bukan aku Sutradaranya.

Aku bukan dewa, bukan juga alien bahkan bukan vampir yang dapat mengubah hidup orang-orang yang kusayangi untuk berada lebih lama didekatku. Aku juga tidak mampu menjadi seperti matahari, yang akan selalu menyinari bumi. Tetapi, aku hanya seorang yang selalu berjalan dibawah sinar sang mentari.
Kalimat sang Bunda “ Terjadilah Padaku, Menurut PerkataanMu” menyadarkanku, bahwa aku tidak seharusnya banyak mengeluh kepada Sutradaraku akan cerita hidupku. Aku hanya mengikuti alur yang telah ia siapkan, dan melakoni peran itu sesuai dengan peran yang ia berikan.
Seperti matahari yang akan terus menyinari bumi, aku pun ingin terus menyinari diriku sendiri. Aku sadar aku tidak sendiri. Meski kadang sinar itu tertutup awan tebal.

Aku memiliki seorang Kekasih, yang aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan aku mencintainya. RagaNya tak pernah kusentuh, namun aku merasakan Ia selalu ada untuk memelukku. Ia yang memberiku matahari, ia yang selalu menghapuskan airmataku, dan ia yang selalu berbisik bahwa aku tidak sendiri.
Mimpi sederhanaku bukanlah menjadi matahari, namun menjadi sebuah pelita. Pelita yang menerangi ruang hatiku yang kadang di landa kegelapan. Gelap karena sosok terang disekitarku memiliki banyak ruang. Pelita itu yang akan membawaku kepada terang, dimana aku akan melihat siapa sosok terang yang selama ini aku impikan.

Kekasihku membawaku pada ketinggian yang tak mampu ku ukur. Ia mengajakku, dan menyuruhku untuk menghitung semua orang yang mencintaiku. Aku memandang wajah Kekasihku dan memelukNya. Aku pun sadar, aku terlalu banyak mengeluh padaNya. Dari ketinggian itu, aku tahu orang-orang disekitarku dengan caranya sendiri berusaha untuk menjadi terang untukku. Dan aku tidak bisa menghitung berapa banyak mereka.

Aku sadar akan hal itu, meski mereka bukanlah matahari dalam hidupku, namun mereka senantiasa menjadi pelita dalam hidupku. Aku yang seharusnya jadi matahari untuk diriku sendiri, dan menjadi matahari untuk mereka, jika suatu saat nanti mereka berada dalam kegelapan seperti yang aku alami. Gelap karena bingung kemana arah hidup ini kan ku bawa, karena sosok terang disisiku telah kembali pada sang Sutradara.
Kekasihku berbisik. Dramamu akan terasa indah, jikalau kau mampu memainkannya dengan sempurna. Tidak usah mengeluh akan peranmu, ketahuilah tokoh yang tidak kau bayangkan akan Ia hadirkan. Dan diahkiri dramamu, mereka yang ikut bermain dalam dramamu akan mengatakan bahwa engkau adalah sosok peran utama yang takkan dilupakan.

Aku tersenyum memandang Kekasihku, aku tahu Dialah yang selama ini berbisik dalam hatiku.
...........................................................
Karena pada dasarnya Tuhan sangat mencintai mereka yang terus memanggul salibNya dan dengan setia mengikuti Dia. Dialah kekasih Jiwa yang dengan setia menemani setiap jiwa yang percaya padaNya.
By; yohana bombol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar