Drama
dan Hidup
Ketika
kulihat ke arah timur, matahari telah kembali ke ufuk barat. Aku
tahu matahari itu akan kembali datang dari ufuk timur. Meski
terangnya kadang ditutup awan tebal, namun semua orang tahu ia tetap
ada.
Saat
siang berganti malam, bulan memancarkan cahayanya untuk menggantikan
matahari. Begitulah yang akan terus terjadi, tanpa menghitung hari
dan waktu. Dan setiap orang punya kesibukannya sendiri.
Aku
berdiri menatap mentari yang kembali ke ufuk barat. Sejenak aku
membayangkan, jikalau aku membuka mata di pagi esok, mentari itu tak
kembali, masih bisakah aku berjalan? Dan kegelapan pun akan terjadi.
Hidupku
tidaklah sendiri. Karena aku memang tidak pernah sendiri, tetapi aku
merasa sendiri. Kadang aku ingin seperti matahari, yang menyinari
banyak orang. Namun kadang aku takut menjadi seperti matahari, yang
akan menjadi alasan bagi orang untuk bepergian, ketika panasnya
mengigit. Aku takut menjadi alasan orang untuk maju, karena aku belum
mampu menyinari diriku sendiri. Aku belum mampu menafkahi diriku
sendiri. Karena meskipun menggigit, matahari memiliki sinar yang
menerangi banyak orang.
Aku
ada karena cinta, berdiri, berjalan dan berjuang karena cinta. Namun
mengapa aku merasa ditinggalkan? Bukankah banyak orang yang
mencintaiku? Sama halnya seperti matahari yang ditutup awan tebal,
seperti itulah aku. Awan tebal dalam hidupku adalah luka dan duka.
Aku
memiliki segalanya. Namun yang kumiliki tidak sepenuhnya membawaku
dalam bahagia.
Hidupku
bagai drama. Dan aku sendirilah pemeran utamanya. Aku tidak pernah
tahu, siapa tokoh yang akan datang kedalam drama ini, karena bukan
aku Sutradaranya.
Aku
bukan dewa, bukan juga alien bahkan bukan vampir yang dapat mengubah
hidup orang-orang yang kusayangi untuk berada lebih lama didekatku.
Aku juga tidak mampu menjadi seperti matahari, yang akan selalu
menyinari bumi. Tetapi, aku hanya seorang yang selalu berjalan
dibawah sinar sang mentari.
Kalimat
sang Bunda “
Terjadilah Padaku, Menurut PerkataanMu”
menyadarkanku, bahwa aku tidak seharusnya banyak mengeluh kepada
Sutradaraku akan cerita hidupku. Aku hanya mengikuti alur yang telah
ia siapkan, dan melakoni peran itu sesuai dengan peran yang ia
berikan.
Seperti
matahari yang akan terus menyinari bumi, aku pun ingin terus
menyinari diriku sendiri. Aku sadar aku tidak sendiri. Meski kadang
sinar itu tertutup awan tebal.
Aku
memiliki seorang Kekasih, yang aku sendiri juga tidak tahu sejak
kapan aku mencintainya. RagaNya tak pernah kusentuh, namun aku
merasakan Ia selalu ada untuk memelukku. Ia yang memberiku matahari,
ia yang selalu menghapuskan airmataku, dan ia yang selalu berbisik
bahwa aku tidak sendiri.
Mimpi
sederhanaku bukanlah menjadi matahari, namun menjadi sebuah pelita.
Pelita yang menerangi ruang hatiku yang kadang di landa kegelapan.
Gelap karena sosok terang disekitarku memiliki banyak ruang. Pelita
itu yang akan membawaku kepada terang, dimana aku akan melihat siapa
sosok terang yang selama ini aku impikan.
Kekasihku
membawaku pada ketinggian yang tak mampu ku ukur. Ia mengajakku, dan
menyuruhku untuk menghitung semua orang yang mencintaiku. Aku
memandang wajah Kekasihku dan memelukNya. Aku pun sadar, aku terlalu
banyak mengeluh padaNya. Dari ketinggian itu, aku tahu orang-orang
disekitarku dengan caranya sendiri berusaha untuk menjadi terang
untukku. Dan aku tidak bisa menghitung berapa banyak mereka.
Aku
sadar akan hal itu, meski mereka bukanlah matahari dalam hidupku,
namun mereka senantiasa menjadi pelita dalam hidupku. Aku yang
seharusnya jadi matahari untuk diriku sendiri, dan menjadi matahari
untuk mereka, jika suatu saat nanti mereka berada dalam kegelapan
seperti yang aku alami. Gelap karena bingung kemana arah hidup ini
kan ku bawa, karena sosok terang disisiku telah kembali pada sang
Sutradara.
Kekasihku
berbisik. Dramamu akan terasa indah, jikalau kau mampu memainkannya
dengan sempurna. Tidak usah mengeluh akan peranmu, ketahuilah tokoh
yang tidak kau bayangkan akan Ia hadirkan. Dan diahkiri dramamu,
mereka yang ikut bermain dalam dramamu akan mengatakan bahwa engkau
adalah sosok peran utama yang takkan dilupakan.
Aku
tersenyum memandang Kekasihku, aku tahu Dialah yang selama ini
berbisik dalam hatiku.
...........................................................
Karena
pada dasarnya Tuhan sangat mencintai mereka yang terus memanggul
salibNya dan dengan setia mengikuti Dia. Dialah kekasih Jiwa yang
dengan setia menemani setiap jiwa yang percaya padaNya.
By;
yohana bombol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar